15 August 2012

Kopi Pahit Ramadhan

Baiklah, aku tidak akan lagi mengganggu orang-orang yang belum selesai. Gorong-gorong komunikasi itu seperti pisau berkarat yang menikam tepat di ulu hati ketika kejujuran aku hamparkan dengan begitu tulus. Rahim, tempat ditiupkannya ruh itu, layakkah dia dijadikan bahan bercanda?!, padahal keduanya pernah saling jatuh hati dan tergila-gila. Ketika kepercayaan telah menyentuh titik nadir, maka aku putuskan : aku lempar handuk!!. 

Akan kubuat secangkir kopi pahit untuk menemaniku menghitung Ramadhan yang berantakan. Aku terhenti di surat Yusuf, dan cita-cita taqwa di penghujung bulan ini telah hancur lebur. Telah lama aku menyiapkan ruang untuk dibenci, maka segala serapah dan caci maki akan bersemayam pada tempatnya. Aku tidak akan bergincu dengan bersilat lidah kata maaf. Biarlah norak begini. Biarlah dianggap pecundang begini. Kini yang tersisa hanya rindu. Rindu kepada hidup yang bebas tanpa perhatian yang palsu, tanpa matahari yang bersinar terlalu terik sebelum akhirnya menjadi gerhana.

Telah aku lukis kanvas harapan ini dengan gambar masadepan yang terlalu lengkap, dan lihatlah apa yang aku dapat?, ternyata aku malah tersesat dan terpaksa harus kembali kepada jalur abstrak, sunyi, jalur di mana hidup berjalan dengan zigzag dan kabur. Barangkali benar, yang aku cintai hanya buku, film, dan roti kopyor merek lokal. Aku bukan seorang avontur dengan daya jelajah luar biasa, aku hanya seorang sederhana yang nyaman hidup di antara deretan aksara rapuh dan pribadi yang teduh.

Kawan-kawan sejalan telah invalid, begitu juga aku. Tapi inilah petunjuk itu dan aku akan berusaha berpegang teguh. Lumuran dosa ini telah begitu berat dan berkarat, aku lelah, aku ingin terduduk dan bersimpuh. Pada nilai-nilai kemanusiaan kasih sayang akan aku semai, tapi pada hal-hal prinsip aku tidak akan berdamai. Semoga semuanya akan menjadi lebih baik setelah ini : untukku dan untuknya. Aku tidak akan lagi bertukar warna, bergradasi, ataupun tercelup. Dan kopi pahit ini telah membuatku sakit kepala yang luar biasa. Rasanya kepalaku akan pecah dan dada hampir meledak. Usia yang berjalan dengan cepat telah aku tukar dengan kisah yang prematur, tapi aku tidak bisa mundur, tinggal sisa ombak saja yang kadang-kadang masih berdebur.

Aku mencintaimu Jakarta, seperti aku mencintai festival film-mu, seperti aku mencintai pesta buku-mu. Ya, aku akan selalu kembali ke tempat-tempat itu. Aku akan menepati janjiku. Akan kularung segala pahit jejak, segala kalut pikiran, dan segala sesak yang menikam perjalanan. Kini biarkan aku istirahat sejenak. Aku ingin kembali ke pangkuan rahim kampungku, ke tanah merah yang telah dengan sabar membesarkanku, dan aku akan membiarkan semuanya larut diseret laut selatan itu. Nanti ketika aku kembali, tolong jangan tanyakan lagi, sebab aku telah melupakan semuanya. Dan kopi ini terasa semakin pahit. [ ]   

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai