03 August 2012

Gadis Kecil Di Pantai


Ketika matahari bersiap akan muncul dari balik garis batas laut, pagi itu, seorang gadis kecil dengan memakai celana pendek berwarna oranye telah berdiri di bibir pantai. Rambutnya diikat ke belakang, tapi kurang rapi. Bajunya selalu begitu. Selalu kemeja kotak-kotak lengan panjang dengan kancing atas sedikit terbuka demi memperlihatkan lapis di dalam yang berwarna hitam. Jiwanya hampir saja meledak, sudah lama dia tidak mencium aroma laut dan merasakan angin yang berhembus kencang menampar-nampar pipinya yang kemerahan. Lidah ombak yang tersisa di bibir pantai telah membasahi kakinya. Ya, sepasang kaki yang telah lama gatal karena merindukan air yang mengandung garam. Kedua tangannya dia rentangkan sambil tersenyum merekah ketika detik-detik itu tiba : bola api raksasa muncul perlahan dari garis batas laut.  

Itulah dunianya. Sebuah dunia yang indah karena berkawan dengan gerombolan ikan, lumba-lumba, burung camar, gemuruh ombak, beningnya air, matahari yang bersinar hangat sepanjang hari, kerang, terumbu karang, dan angin yang bertiup genit. Baginya, dunia seperti itu adalah firdaus yang membebaskan, ya surga yang berhasil melepaskan semua energi hitam hidupnya yang diprodukasi oleh rutinitas kerja, kejenuhan interaksi, semakin sumpeknya lingkungan kota, dan mungkin relationship yang hancur berantakan karena tidak setiap jiwa dilahirkan sempurna.

Siapa yang tega merampas dunia indahnya itu?. Aku tidak berhak menjawab pertanyaan tersebut, yang aku lakukan hanya duduk di balik jendela yang terbuka, pemandangan lurus ke laut, dan dengan takzim memperhatikan kegembiraannya yang sedang berlari atau berenang tidak jauh dari bibir pantai. Sambil duduk menghadap meja dan menulis, aku selalu waspada, khawatir jika dia berenang terlalu ke tengah sementara ombak besar datang tiba-tiba. Kusulut cigarette dan asap berhamburan keluar jendela. Gadis kecil itu melambai-lambaikan tangannya dari jauh sambil berlari-lari gembira. Dia memanggil-manggil namaku, barangkali mengajak aku bergabung dengannya untuk bermain di pantai itu, tapi suaranya terlalu kecil karena angin berhembus terlampau kencang. 

Aku hanya tersenyum dari balik jendela lalu membalas lambaian tangannya. Aku terus menulis sambil sesekali melihat gadis kecil itu. Ketika hari terus beranjak, dan senja perlahan dijemput malam, saat bola api raksasa kembali tenggelam di balik garis batas laut, aku pergi ke pantai dan memanggilnya, “Pulang sayangku, sudah hampir malam.” [ ]


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…