04 August 2012

Di Dalam Jiwa Kita (ternyata) Ada Sjahrir dan Hatta, Sayangku...


Ketika pesawat tiba di Banda Neira, Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak peti. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya. Tiba di pesawat, ternyata ada problem : ruang di pesawat itu terbatas. Para penumpang harus memilih, 16 kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. 16 kotak buku itu tak jadi dibawa untuk selama-lamanya, kecuali sebuah Atlas yang sempat disisipkan ke dalam koper. Empat puluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu.

Enam tahun sebelum pesawat itu tiba, Sjahrir dan Hatta---kedua orang buangan itu--- tinggal dalam satu rumah. Sejak di hari pertama datang, Sjahrir menemui anak-anak, dan anak-anak datang untuk belajar, bermain dan bergurau. Suatu hari seorang dari anak-anak itu menumpahkan vas kembang. Airnya membasahi sebagian buku yang ditaruh Hatta di atas meja. Hatta yang selalu sangat sayang kepada buku-bukunya, selalu rapi dengan benda-benda itu : marah.

Jika Hatta sedang membaca buku atau menulis surat, Sjahrir membawa anak-anak itu berjalan meninggalkan dataran pulau, berlayar, atau mendaki gunung di sebelah sana. Anak-anak, permainan, dan pantai, mungkin itu kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak berbatas, dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan. Sementara Hatta tenggelam dalam dunianya, dunia buku yang begitu menggoda, mengapungkan, dan mencerahkan.

“Di sini benar-benar sebuah firdaus,” tulis Sjahrir tentang Banda Neira. Anak-anak Banda Neira itu menyeberangi selat melintasi kebun laut, bersama seorang buangan yang tak jelas asalnya dan masadepannya. Pantai itu berubah. Dalam keasyikan bermain, mereka tak tahu apakah pantai itu membatasi laut ataukah pulau, awal penjelajahan atau tempat asal. Pada saat itu, di ruang itu, mistar tak ditarik dan hitungan tak ada.

Di tiap pantai, juga di pantai yang paling tenang, ada dilema dan ambivalensi. Pada hari ketika pesawat itu datang, Sjahrir pergi bersama tiga anak angkatnya, meninggalkan Banda Neira, di pesawat yang mungkin tak diketahuinya hendak tiba di mana. Itulah pilihannya : anak-anak, bukan buku; pergi, bukan berlindung di rumah asal; berangkat ke tempat yang tak terikat, bukan ke alamat yang terjamin.

Tapi tak semua dilema menghilang. Toh dalam pesawat yang melayang itu berkecamuk kontradiksi yang tak terhindarkan. Terbang, perjalanan, penjelajahan, avontur, dan tempat antah berantah, di kabin itu tak mungkin menjadi dasar segalanya. Pesawat itu bukan “the only possible non-stop flight”, bukan untuk “terbang tanpa mendarat”. Pada akhirnya Sjahrir tetap harus mendarat, dengan rencana, sebagaimana pesawat itu akan mendarat dengan kalkulasi. Dunia tak seluruhnya tergelar hanya dalam impuls, dorongan, dan gairah.

***

Bacaan Hatta sangat luas, dan juga minatnya pada sastra. Dia mengutip sajak Heinrich Heine dalam bahasa Jerman. Dia juga menyebut Leo Tolstoy, Karl Marx, Bakunin, serta Dostoyevsky. Dia seperti ingin mengompensasi tubuhnya yang tidak terlalu besar, wajahnya yang dingin berkacamata tebal, serta gaya bicaranya yang membosankan, dia mencari kekuatan pada menulis. Pena adalah senjata dia untuk memerdekakan bangsanya. Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya, kian meluap ketika Hatta kuliah di Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tapi Hatta bukan cendikiawan di menara gading.

Sekira bulan September tahun 1921, dalam usia yang baru 19 tahun ketika sekolah di Rotterdamse Handelsshogeschool, Hatta mesti membeli sejumlah buku. Tapi dana beasiswa belum diterimanya. Uang saku yang dibawanya dari kampung tak seberapa. Baru sepekan dia tiba di Belanda, negeri yang 8.000 mil dari Bukittinggi, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Tanpa uang di saku, ia mendekati rak buku besar di De Westerboekhandel, sebuah toko buku tua di kota itu. Ia mengambil Hartley Withers, Schar, dan beberapa buku karangan T.M.C. Asser. Ia tak tahu dengan apa semua buku itu harus dibayar. Beruntung, pemilik toko buku itu tahu bagaimana harus bersikap pada mahasiswa miskin dari Dunia Ketiga. Bung Hatta menulis, “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayarannya tiap bulan f 10. Aku diizinkan memesan buku itu terus sampai jumlah semuanya tak lebih dari f 150.”

Pada tahun 1927, akibat tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah kolonial, Hatta ditahan. Dari ruang penjara yang sempit, dia menulis pidato pembelaan yang nantinya akan dia bacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Judul pidato itu, “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka), menjadi salah satu manifesto politik yang monumental. Di situlah, persis di ulu hati kekuasaan kolonial, dia menusukkan tikamannya.

Ketika pulang ke Indonesia dengan membawa gelar sarjana, Hatta semakin larut dalam kegiatan politik. Dia juga aktif menulis dalam majalah yang didirikan partainya : Daulat Ra’jat.

Dan kembali, akibat tulisan-tulisannya di majalah itu, dia dibuang ke Boven Digul, Irian, sebuah wilayah pembuangan yang sering disebut Siberianya Hindia Belanda. Tapi, dasar Hatta, dia membawa serta 16 peti buku ke tanah pengasingan. Buku-buku itu membuatnya memiliki amunisi cukup untuk meluncurkan tulisan---tembakan salvonya---ke koran-koran di Batavia maupun Den Haag. Dia memang tak bisa dibungkam.

***

Akhir keduanya memang berbeda. Dua corak pribadi itu mengalami kesudahan yang berlainan. Tapi Sjahrir dan Hatta adalah sumbangan sejarah berharga yang bisa kita pelajari dan kita ambil manfaatnya, barangkali bisa menjadi penerang bagi jalan yang akan dilalui. Kita tidak tahu, apakah harapan itu akan terbit atau malah terkubur, sebab hari esok terasa begitu misteri. [ ]

---Dengan permintaan maaf kepada Goenawan Mohamad dan Tim Majalah TEMPO---  
   


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…