01 August 2012

21 - Ihsan Hadi dan Lupa Istri


“Malam kesepuluh saya teraweh beratap langit dan bersajadah tanah. Tak sempat menuntaskan Keluarga Imran Bung. Amboi sedap betul meroko..”. 

Itu adalah sms yang masuk ke ponselku, dari seorang kawan yang tengah memeras keringat di hutan, di pedalaman Kalimantan. Selalu tipikal. Selalu dengan diksi yang dengan cepat aku tahu bahwa dia dengan pertimbangan apapun bukanlah seorang yang berkepala kelinci. Aku percaya itu. Dan calon istrinya---karena sekarang selum sah---suatu saat nanti insyaAllah akan menjadi perempuan yang beruntung karena telah mendapatkannya. Itu semacam do’aku untuknya.

Dalam langit imajinasiku, aku pernah membayangkan, kawanku yang bekerja di hutan itu suatu saat nanti, beberapa hari setelah kontrak seumur hidup diresmikan, pada sebuah malam, akan terduduk di teras depan sambil memainkan gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu dari The Panasdalam. Dengan sedikit gaya kocak yang pahit dia akan mengeksekusinya dengan suara agak sengau :  

Malam yang sedang bagus
Kududuk di serambi depan
Memandang langit ada bulan, kapal terbang, dan bintang-bintang
Sejauh mata memandang lautan lampu warna-warni
Udara bergerak pintu terkuak
Istri menyuruh masuk rumah
Ya ampun aku lupa
Ternyata sudah punya istri
Yang dulu aku kejar hingga kumiliki
Kini kubiar nonton tv sendiri

***

Ihsan Hadi namanya. Dia entah datang dari mana, yang jelas pernah hadir dalam mimpiku. Dia datang dengan Wangihujan, dan memperkenalkan diri sebagai calon suaminya. Calon suami Wangihujanku. Aku terdiam tentu saja. Antara cemburu dan rasa tenang yang aneh. Jelas di mimpi itu dia telah merebut Wangihujanku, tapi jauh di pedalaman batinku ada suara yang berbisik, yang memberitahu bahwa laki-laki ini adalah orang baik yang akan menyayangi dan membahagiakan Wangihujanku. Ketika terbangun dari tidur dengan rasa cemburu yang membakar, aku langsung menulis nama laki-laki itu di buku catatan harian. Kubaca berulang-ulang, dan entah kenapa tiba-tiba saja aku menjadi tenang.......[bersambung]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai