31 August 2012

Punggung Baju Hitam

"And I shan't recover this time. I begin to hear voices, and I can't concentrate. So I am doing what seems the best thing to do. You have given me the greatest possible happiness." (Virginia Woolf)

Kalau Bung turun di halte busway Rumah sakit Islam--Cempaka Putih, Bung boleh masuk ke gang yang gapuranya berwarna merah, di sebelah toko besi, persis di seberang kampus Yarsi. Kira-kira sepuluh meter dari mulut gang, Bung akan mendapati jembatan yang cukup panjang, yang memotong anak sungai Ciliwung yang kotor dan bau busuk. Tepat di ujung jembatan tersebut, Bung boleh belok kiri dan menyusuri jalan setapak yang kotor oleh daun-daun mati yang berguguran dari pohon rambutan yang cukup rimbun. Itu adalah jalan setapak yang buntu, sebab di ujungnya Bung hanya akan mendapati sebuah kursi yang menghadap sebuah rumah yang sederhana dan tidak terlalu bersih, penghuninya entah siapa. Konon rumah itu penuh oleh hantu dan juga dihuni oleh seorang laki-laki yang misterius. Saya tidak tahu persis. 

Setiap sore, atau jika kerja sampai malam, dan saya melewati gang tersebut, maka saya akan mendapati orang yang tengah duduk di kursi yang menghadap rumah sederhana. Hanya punggungnya saja yang terlihat, sebab kursi punya senderan yang tepat di kepala. Sebuah anatomi kursi yang cukup aneh memang. Orang yang duduk di kursi itu, entah kenapa selalu saja memakai baju hitam. Sekali waktu saya pernah bertanya kepada orang-orang yang rumahnya berada tidak jauh dari rumah sederhana, tentang siapa sebenarnya orang yang suka duduk di kursi tersebut, tetapi mereka tak ada satu pun yang tahu. Hanya informasi samar saja; katanya orang yang suka duduk di kursi itu adalah orang gila yang cita-citanya tidak kesampaian. 

Saya jadi penasaran. Maka demi mengobati rasa penasaran, saya coba memberanikan diri untuk mendekati orang yang tengah duduk di kursi dan memakai baju hitam tersebut. Sore menjelang maghrib, sepulang kerja, setelah melewati jembatan, saya langsung belok kiri. Orang yang duduk di kursi jaraknya kira-kira tiga puluh puluh meter. Saya berjalan perlahan dan sedikit mengendap. Bunyi sepatu yang bergesekan dengan daun-daun mati membuat saya melangkah lebih perlahan dan hati-hati. Sementara orang yang tengah duduk di kursi tetap diam tak bergeming. Saya terus melangkah. Kira-kira tujuhbelas meter lagi ke arah orang yang tengah duduk, entah kenapa, tiba-tiba perut saya mules. Kontraksi tingkat tinggi. Keringat dingin mulai keluar. Sialan, makan apa saya tadi?. Atau hanya demam panggung?. Maka saya langsung balik kanan dan ambil langkah seribu, tidak menoleh lagi ke si punggung berbaju hitam. 

Besoknya saya coba lagi untuk mendekati si punggung berbaju hitam. Tapi sore menjelang malam itu dia tak ada. Entah ke mana. Mungkin sedang di rumahnya. Apakah saya langsung pulang?, tentu saja tidak. Karena lihatlah saya akhirnya menuju sederhana itu. Sepi. Halamannya kotor. Rumput tumbuh liar seperti brewok Tom Hank dalam Cast Away. Anak sungai Ciliwung yang berada persis di sebelah rumah itu menebar aroma busuk mencucuk hidung. Penerangan di halaman sangat minim, hanya sinar kecil yang berpendaran dari lampu lima watt di teras depan. Jendela dan pintu tertutup rapat dan bergorden. Pohon beringin besar yang tumbuh di samping rumah membuat suasana semakin mencekam. Rumah hantu yang sempurna. 


Saya dibesarkan oleh zaman ketika infotainment mengusai televisi dan koran. Maka jangan heran jika tindakan saya selanjutnya adalah mengendap-ngendap hendak mengintip lewat jendela yang mungkin saja ada celah gorden yang tersingkap. Lampu di dalam tidak ada yang dinyalakan, atau memang tidak ada alat penerangan sama sekali?. Saya mendekali jendela, ketika hendak melihat ked lam melalui kaca yang berdebu, tiba-tiba lampu di dalam menyala. Reflek saya melompat ke arah pintu dan langsung terduduk  sambil mengatur nafas. Sialan!. Tak ada suara. Hening. Tapi tiba-tiba dari dalam terdengar suara mesin tik. Hari gini masih ada yang memakai mesin tik?. Saya teringat laptop di kamar kontrakan. Mungkinkah saya sedang memasuki lorong waktu?. Mesin tik terus berbunyi. Suaranya merisaukan. Tak terasa hari mulai gelap. Adzan maghrib berkumandang. Suara mesin tik berhenti. Barangkali si penghuni rumah itu sholat. Saya tunggu dia. Setelah sepuluh menit lewat, mesin tik berbunyi lagi. Tapi kali ini disertai suara orang yang sedang bernyanyi. Ya, orang itu bernyanyi pelan. Tunggu, bukankah saya mengenal lagu ini ? :  

“When you were young and on your own. How did it feel to be alone?. I was always thinking of games, there always playing, trying to make the best of my time. But only love can break your heart, try to be sure right from the start…”  

Seperti penuh perasaan dia bernyanyi, tapi entahlah, saya tidak tahu persis, saya bukan juri Indonesian Idol. Saya masih terduduk di depan pintu, takut diketahui si penghuni rumah. Tapi saya harus segera berdiri dan pergi, sebab hari semakin gelap dan saya belum sholat maghrib. Saya tunggu waktu yang tepat. Mesin tik terus berbunyi dan dia terus bernyanyi, kini suaranya semakin keras. Nah, ini dia kesempatan saya untuk pergi. Suara keras dari dalam mungkin bisa menutupi langkah kaki yang mencium bumi. Saya hitung mundur : lima..empat..tiga..dua..satu.., dan hap..saya melompat ke halaman dan berlari meninggalkan rumah hantu itu. (an unfinished story)

 

Matraman - Kwitang : Mencari Penakluk Konstantinopel

Pasti hari itu sedang kamis, karena lihatlah saya memakai kemeja garis-garis dengan logo hati yang miring berwarna merah. Belum sore benar, tapi matahari sudah redup sinarnya. Dan tiba-tiba saya mendapati diri sedang duduk di kursi transjakarta, Pulogadung-Dukuh Atas. Kosong. Kursi baru terisi tiga buah. Pikiran tidak istirahat : tentang pekerjaan yang belum selesai dan tulang rusuk yang patah. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa saya sedang menuju Konstantinopel, ya penakluk Konstantinopel. Muhammad Al Fatih, pemimpin yang meluaskan kekuasaan Islam hingga sampai daratan Eropa itu, dalam tulisan Felix Siauw, benar-benar telah membuat saya penasaran.

Tapi lihat dulu, sore itu Jakarta telah kembali ke fitrahnya. Dari atas jembatan yang menyambungkan halte Matraman 1 dan 2, kemacetan seperti tidak bisa diurai. Bunyi klakson dan deru knalpot begitu bising : enjoy Jakarta. Bus datang terlambat, orang-orang terkurung dalam kekesalan yang memuncak. Inilah salah satu waktu terbaik untuk marah dan menghamburkan serapah. Tapi selalu ada pilihan lain. Daripada mengutuk kegelapan lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan. Ya, lebih baik jalan kaki saja menuju Gramedia daripada menunggu bus yang tak kunjung datang. Dan ternyata trotoar juga medan perkelahian yang tak kalah ganasnya. Sepeda motor dan para pedagang kaki lima merampas hak para pejalan kaki. Beberapakali saya hampir baku hantam dengan para pengendara motor sialan itu. 

Lega rasanya bisa menemukan media untuk melepaskan energi hitam yang kian terakumulasi. Langit mulai kelabu. Saya membakar cigarette kedua untuk hari itu, dan melepaskan asapnya dengan penuh perasaan. Inilah solo karir terbaik sepanjang hidup. 

Al Fatih. Di mana engkau wahai Al Fatih?!. Ketika toko buku, khususnya di Jakarta, diserbu buku-buku biografi yang kental bermuatan politik terkait pemilihan gubernur, atau biografi yang banal karena tak lebih dari pembangunan citra dan basa-basi, maka catatan sejarah tentang teladan pemimpin Islam menjadi begitu menarik. Lupakan gubernur Solo, lupakan gubernur berkumis, lupakan si Anak Singkong, lupakan juga menteri BUMN itu, sebab saya belum terlalu tertarik untuk membaca biografi-biografi mereka. Sebuah buku harus jujur, bukan malah untuk menembak sebuah moment waktu yang tepat. Barangkali strategi pemasaran telah menjadi panglima, bisnis kata-kata telah menjadi hutan yang ganas.

Mesin pencari itu memberi tahu bahwa, "Muhammad Al Fatih 1453" : stock kosong!!. Ya, inilah kenyataannya, buku itu tidak ada. Tak apa, sebab kemudian saya melihat buku otobiografi Malcolm X. Siapa yang tidak tahu tokoh muslim kulit hitam itu?. Belum lagi narasi di belakang covernya : "Inilah kisah yang lebih heroik daripada filmnya!." Luar biasa, sebuah provokasi yang begitu menggertak. Tapi tunggu dulu, ini adalah buku terjemahan, dan di mana-mana tak gampang menyampaikan "jiwa" sebuah buku asing ke dalam bahasa Indonesia. Kalau hanya menterjemahkan, Google pun telah begitu pandai melakukannya. Dan saya pikir buku otobiografi Malcolm X ini kedodoran, dia tidak bisa menangkap "jiwa". Isinya tidak senikmat seperti misalnya ketika membaca : To Kill A Mockingbird, The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan Einstein's Dreams.  

Saya tengok langit melalui jendela berkaca lebar itu, oh sudah gelap. Arus lalu-lintas masih padat. Jam berapa sekarang?. Ponsel telah berkali-kali berkhianat. Dia mati, daya baterenya kedodoran. Apakah maghrib hampir habis?, saya kembali teringat hutang-hutang kepada Tuhan. Di mesjid UI Salemba akhirnya kewajiban itu gugur. Ah kampus impian, kampus kasih tak sampai, passing grade UMPTN terlalu tinggi waktu itu, hahaha...waktu begitu cantik membawa nasib, sampai juga saya di sini. 

Bus yang melaju ke arah Senen membawa saya yang mulai lelah. Tiba di Senen saya melompat dan berjalan tergesa menuju Gunung Agung di Kwitang. Gembel-gembel dan para pengemis Senen begitu layu dan kumal. Tapi saya tidak tertarik untuk mengucapkan : "Saya bersama kalian orang-orang malang." Tidak. Saya tidak berminat berkata seperti itu. Saya hanya berjalan cepat. Jalan di Kwitang agak gelap, inilah barangkali yang namanya temaram. Tiba di depan Gunung Agung beberapa lampu di dalam telah dipadamkan dan terdengar bunyi derit pintu. Sialan!. Gunug Agung segera tutup!. Apa boleh buat, balik kanan dan segera membeli tiket : meluncur ke arah Cempaka Putih.

Tiba-tiba saya sedikit melankolik malam itu. Cahaya lampu kota seperti membentuk kerucut aneh yang tidak bisa dimengerti. Wajah orang-orang seperti terbentuk oleh komposisi harmonis yang ganjil. Di pedalaman, di tempat jiwa bersemayam, seperti ada suara yang menggema, berulang-ulang : "I was wasting my time, praying for love, for a love that never comes, from someone who does not exist. That's how people grow up. That's how people grow up. As for me I'm okay, for now anyway..." [ ]

27 August 2012

Buletin

Dan jejentik jam telah menyentuh angka delapan. Ini malam kedua setelah kemarin bergemuruh oleh takbir. Kue-kue mulai dihidangkan. Cigarette telah sedia empat bungkus dengan berbagai merek. Dan kopi?, ah hampir saja lupa, lalu bergegaslah kawan yang satu itu menyeduh tujuh kopi hitam. Lampu-lampu yang menyala di teras rumah cahayanya temaram, seperti hendak menyembunyikan tujuh orang laki-laki yang tengah duduk dan mulai membicarakan konsep buletin. Ya, buletin remaja mesjid. Bau petasan masih tersisa di udara, setelah sebelumnya saling serang dengan bunyi-bunyian yang dihasilkah dari mesiu mini itu. Ini kemarau kawan, dan angin berhembus kencang, dingin sampai ke tulang. Maka lihat kawan yang satu itu, nikmat betul dia menghisap cigarette berlogo jarum. Aku mengenal dengan baik wajah-wajah dalam cahaya temaram itu. Merekalah kawan-kawan masa kecilku sewaktu aku belum pergi jauh, sebelum aku berjudi dengan nasib di rantau orang. Tak ada saling tukar kartu nama. Kami hanya nikmat betul menghisap cigarette, menghirup kopi, dan mulai membicarakan buletin.

Kawanku yang berjenggot tipis angkat bicara, dia duduk tepat di sebelahku, "Nah, sekarang sudah kumpul semua, aku mulai saja. Kawan-kawan, bung ini (sambil menepuk bahuku), seperti yang kita ketahui bersama, memang tidak menetap di kampung, tapi baru-baru aku tahu, dia rupanya punya minat yang besar kepada dunia buku dan menulis." Aku diam saja mendengarkan pak ustadz (jenggotnya rapi betul, tipikal ustadz-ustadz muda diperkotaan) yang satu ini.

Mula-mula, aku mendengarkan kondisi remaja mesjid, kegiatannya, dan juga konflik yang ada di dalamnya. Standar. Di mana-mana, organisasi mesti tidak pernah sepi dari yang namanya konflik. Bagaimanapun juga, pemikiran tiap orang itu tidak pernah benar-benar seragam. Sementara kawanku yang jenggotnya mirip ustadz itu berbicara, kawan-kawan yang lain sedap betul menghisap cigarette. Pak ustadz tak ketinggalan, dia bakar batang pertamanya. Lihatlah, asap rerak berhamburan, dan pergi ditipu angin kemarau yang dingin. 





26 August 2012

Maafkan Aku Nina

Kalau kamu pikir nonton film adalah sebuah pelarian yg baik, maka pikirkan ulang. Sebab aku menggigil setelah nonton Black Swan. Nina (Natalie Portman) yang rapuh telah membuatku takut dan khawatir. Aku menggigil menghabiskan film itu. Ya, aku yang salah. Aku tidak bisa berdamai dengan masalalunya, dengan passionnya, juga dengan gorong-gorong komunikasinya. Lalu apakah aku harus menulis : "Terbang dengan kata maaf"?. Oh, tidak!!. Aku bukan seorang yang pandai berdiplomasi. Aku hanya tahu bahwa laki-laki adalah pemimpin, walaupun aku tidak mengharapkan dia memanggilku : "Oh Captain, My Captain!" seperti dalam film Dead Poets Society. Aku tidak mau jika ikatan kuat yang bernama pernikahan hanya berdurasi 2 hari karena diserang badai yang dahsyat. Memang bukan hubungan transaksional, tapi aku tidak terima jika dia yang aku anggap titik tuju hidup, sebagai duniaku, menganggapku hanya sebagai pelangi. Kamu tahu pelangi?!, ya pelangi tak lebih hanya paduan warna untuk membuat indah nuansa. Tidak adil, bukan?!.

Maka aku kembali ke setapak kecilku dengan perasaan bersalah yang membebani. Tapi tak apa, ya karena memang aku yang salah. Anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran telak dari apa yang aku cintai. Ya, aku mencintai film dan novel. Anggap saja ini cerita pahit yang hinggap di kehidupan nyataku. Akan aku terima semuanya dengan ikhlas. Pergilah dan jangan kembali lagi. Aku bukan laki-laki baik yang bisa membahagiakan hidupmu. Aku terlalu egois dan tidak bisa mengerti hidupmu. Barangkali nanti di sebuah jenak waktu, ketika aku terhipnotis oleh film dan buku-buku itu; mungkin kita bisa bertemu lagi, itu pun kalau kamu percaya pada pertemuan waktu. 

"Mungkinkah hati miliki kembaran rasa?. Percuma!." 

Maafkan aku Nina. [ ]


21 August 2012

Ziarah



Orang-orang telah pergi tadi pagi. Mereka berduyun-duyun berjalan ke barat, ke arah pekuburan di perbatasan kampung. Lebaran memang selalu begitu, selalu ramai oleh para peziarah. Ini seperti batas antara sakral dan profan. Kemarau telah membuat jalanan menjadi lautan debu. Matahari bersinar garang, dan bunyi angin di rumpun bambu menemani suara orang-orang yang mengaji surat Yasin. Tapi aku tidak pergi ke sana pagi itu. Aku memilih sore.  

Aku tidak memilih jalan desa yang sudah rusak parah, tapi lewat pematang sawah dan jalan setapak yang membelah hutan kecil. Matahari mulai reda, cahayanya berlesatan lewat celah-celah pohon rambutan di pinggir pekuburan. Ada dua orang yang sedang duduk di sisi pusara, tangannya menengadah seperti sedang berdo’a. Dan ratusan nisan membisu, hanya tulisan-tulisan tentang nama, tanggal lahir, dan tanggal wafat.

Sunyi. Matahari yang semakin tergelincir ke barat membuat suasana menjadi hampir temaram. Angin bergerak pelan, dan suara burung terdengar di kejauhan. Aku duduk di sisi pusara ibu. Diam. Sunyi semakin menekan. Lalu aku cabuti rumput liar kering yang tumbuh di atas pusara, dan debu yang menempel di batu nisan aku bersihkan. Dua orang peziarah telah pulang, tinggal aku sendirian. Sepi, menekan mendesak.

Aku tidak membaca surat Yasin, tapi meneruskan sisa-sisa kekalahan di bulan Ramadan. Tadarusku terhenti di Yusuf, maka aku meneruskannya di sini, di sisi pusara ibu yang kering dan dihiasi rumput-rumput mati. Aku duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada pohon kamboja. Setelah menutup kitab mukjizat, doa kemudian lamat-lamat berloncatan. Lalu diam. Diam. Sunyi kembali. Tiba-tiba aku teringat seseorang yang dulu memintaku untuk berjanji di sisi pusara orangtuanya. Tapi dia malah menyerah. Dia sendiri tidak berani untuk berjanji. Tak sadar, aku tersenyum pahit mengingat itu semua.

Dan ketika hari hampir gelap, ketika malam bersiap menjemput senja, aku tinggalkan pusara ibu. Aku kembali menyusuri jalan setapak dan pematang sawah. Udara mulai dingin. Di kejauhan adzan telah berkumandang. Suaranya membelah langit yang kelabu dan udara yang berdebu. Aku berjalan agak pelan sambil mengingat hal-hal yang telah lewat di belakang. Begini rupa hidup telah aku kontaminasi dengan lumpur pekat, telah aku tukar dengan debu tebal. Tak terasa pandanganku mulai kabur. Mataku sedikit panas, ada air yang menghalangi retina. Sepertinya aku menangis. Bukan kisah prematur yang aku tangisi, tapi aku sadar, aku belum bisa menjadi anak laki-laki baik seperti yang pernah ibu harapkan. [irf]
     

Kisah Apa yang Telah Didengar Anak-anak?



15 August 2012

Kopi Pahit Ramadhan

Baiklah, aku tidak akan lagi mengganggu orang-orang yang belum selesai. Gorong-gorong komunikasi itu seperti pisau berkarat yang menikam tepat di ulu hati ketika kejujuran aku hamparkan dengan begitu tulus. Rahim, tempat ditiupkannya ruh itu, layakkah dia dijadikan bahan bercanda?!, padahal keduanya pernah saling jatuh hati dan tergila-gila. Ketika kepercayaan telah menyentuh titik nadir, maka aku putuskan : aku lempar handuk!!. 

Akan kubuat secangkir kopi pahit untuk menemaniku menghitung Ramadhan yang berantakan. Aku terhenti di surat Yusuf, dan cita-cita taqwa di penghujung bulan ini telah hancur lebur. Telah lama aku menyiapkan ruang untuk dibenci, maka segala serapah dan caci maki akan bersemayam pada tempatnya. Aku tidak akan bergincu dengan bersilat lidah kata maaf. Biarlah norak begini. Biarlah dianggap pecundang begini. Kini yang tersisa hanya rindu. Rindu kepada hidup yang bebas tanpa perhatian yang palsu, tanpa matahari yang bersinar terlalu terik sebelum akhirnya menjadi gerhana.

Telah aku lukis kanvas harapan ini dengan gambar masadepan yang terlalu lengkap, dan lihatlah apa yang aku dapat?, ternyata aku malah tersesat dan terpaksa harus kembali kepada jalur abstrak, sunyi, jalur di mana hidup berjalan dengan zigzag dan kabur. Barangkali benar, yang aku cintai hanya buku, film, dan roti kopyor merek lokal. Aku bukan seorang avontur dengan daya jelajah luar biasa, aku hanya seorang sederhana yang nyaman hidup di antara deretan aksara rapuh dan pribadi yang teduh.

Kawan-kawan sejalan telah invalid, begitu juga aku. Tapi inilah petunjuk itu dan aku akan berusaha berpegang teguh. Lumuran dosa ini telah begitu berat dan berkarat, aku lelah, aku ingin terduduk dan bersimpuh. Pada nilai-nilai kemanusiaan kasih sayang akan aku semai, tapi pada hal-hal prinsip aku tidak akan berdamai. Semoga semuanya akan menjadi lebih baik setelah ini : untukku dan untuknya. Aku tidak akan lagi bertukar warna, bergradasi, ataupun tercelup. Dan kopi pahit ini telah membuatku sakit kepala yang luar biasa. Rasanya kepalaku akan pecah dan dada hampir meledak. Usia yang berjalan dengan cepat telah aku tukar dengan kisah yang prematur, tapi aku tidak bisa mundur, tinggal sisa ombak saja yang kadang-kadang masih berdebur.

Aku mencintaimu Jakarta, seperti aku mencintai festival film-mu, seperti aku mencintai pesta buku-mu. Ya, aku akan selalu kembali ke tempat-tempat itu. Aku akan menepati janjiku. Akan kularung segala pahit jejak, segala kalut pikiran, dan segala sesak yang menikam perjalanan. Kini biarkan aku istirahat sejenak. Aku ingin kembali ke pangkuan rahim kampungku, ke tanah merah yang telah dengan sabar membesarkanku, dan aku akan membiarkan semuanya larut diseret laut selatan itu. Nanti ketika aku kembali, tolong jangan tanyakan lagi, sebab aku telah melupakan semuanya. Dan kopi ini terasa semakin pahit. [ ]   

13 August 2012

Matilah Segala yang Kau Tahu

Lelaki tua dan laut. Apa kabar Hemingway?. Prosa cantik itu kini menemukan simpulnya, tepat di jantung pertempuran yang tidak boleh kalah. Di detik-detik yang kita tidak boleh lengah, segala sesuatu harus diterangi mata hati, bukan kompromi atau diplomasi picisan yang seolah-olah melambungkan nama baik. Masih ingat Prijanto?, ya beliau yang menulis, "Lebih baik menjadi batu hitam dan kasar di arus deras namun mampu menjadi pijakan, daripada menjadi kayu yang indah terapung di air yang tenang." Itulah hantaman telaknya bagi politik basa-basi dan kompromi yang berkelindan sehingga hendak membuat tumpul kesadaran. 

Setiap orang adalah Samurai yang harus berani harakiri ketika harga diri terbenam di bawah telapak kaki. Atau minimal seperti lelaki tua itu, ya lelaki tua yang dideskripsikan Hemingway,  “Segala sesuatu yang ada padanya telah tampak sangat tua, kecuali matanya. Kedua matanya memiliki nuansa warna yang sama dengan warna lautan. Mata itu tampak bersinar riang serta tak tertaklukkan oleh apa pun.”

Maka matilah segala yang kau tahu. Segala teori harus terbenam di sini, di titik kulminasi yang tidak bisa lagi ditarik sebuah garis mundur. Ya, "manusia memang bisa dihancurkan, tapi dia tidak bisa ditaklukkan." [ ]




12 August 2012

Work of Heaven (Untuk Para Pemain Cadangan)


"Mari sini, Sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung"
(Gie)

10 August 2012

Biutiful


"Uxbal, aku setia sama kamu, tapi aku juga ingin bersenang-senang." 




Float dan Kecerdasan Emosi

Carilah sendiri di youtube, jangan suruh saya memindahkannya ke sini. Ya, pernahkah nonton film 3 Hari Untuk Selamanya?. Nicholas Saputra keranjingan ganja di sepanjang perjalanan Jakarta-Yogya, dan Adinia Wirasti having sex with her boyfriend. Ah, terdengar sangat anak muda, bukan?. Tapi dialognya kurang menggigit dan banyak quotes yang lebih cocok berada di kartu undangan ulangtahun bocah SD atau buku tulis keluaran Sinar Dunia, daripada keluar dari dua orang bengal itu. Kalau ada yang menarik barangkali karena Riri Riza berani membuat film tanpa plot dan sondtracknya yang nge-float :

Lewat sudah tiga hari tuk selamanya
Dan kekallah detik detik di dalamnya

Tunggu sejuta rasa di hati
Yang dulu diingkari
Mungkinkah cinta itu di sana
Dua hati merekah

Bagai mimpi terwujud tak disadari
Kata hati tak semua didengarkan lagi
Waktu berpacu harap pun jadi
Hasrat tuk memiliki
Kini tersisa reka semata
Cara untuk kembali

Semula indah terasa
Mereka seribu rencana

Mungkinkah hati miliki kembaran rasa
Semua henti di sana… percuma

Langit biru setiap liku jalan itu
Akan selalu melukiskan kisah itu
Rindu yang kian terbendung lama
Akan mencapai batasnya
Terbuai indah kenangan baru
Sesal jadi menyatu
Segalanya tlah berlalu
 
Semula indah terasa
Mereka seribu rencana
Mungkinkah hati miliki kembaran rasa
Semua henti disana… percuma
Semua henti di sana… percuma

09 August 2012

Jadilah Brutus dan Lemparkan Sebuah Apology, Loser !!

Saya lupa lagi, judul catatan ini entah ada di film apa. Sekarang menulis seperti sedang merancang sebuah jaring laba-laba perak. Saya sudah tidak peduli dengan siapa yang membaca, sebab diksi yang dihamburkan pun tidak ditujukan untuk itu. Komunikasi satu arah ternyata cukup menyenangkan, jadi untuk apa membagi kepedulian?!. Menulis bukan panggung idola karbitan yang menuntut segalanya tampil sempurna dan komersil, tapi ini justru obat ampuh macam paracetamol, atau bahkan valium. Jika masih merasa dibatasi, berarti belum menulis, tapi hanya mengkonversi birokrasi ke dalam kolam kata-kata.  [ ]

 

08 August 2012

Surat Terbuka Kepada Sukma dan yang Sekunder

Untuk sebuah pertanyaan yang sering datang berulang-ulang, tentang hari mengikat belahan jiwa, aku hanya menjawabnya : sedang mengumpulkan. Aku bukan amuba yang harus membelah diri, tapi jiwa utuh yang  harus berdampingan secara menyeluruh. Yang sakral itu keyakinan, kawan. Bukan berlembar-lembar rupiah yang dibayarkan sebagai konsesi untuk pesta seumur hidup sekali. Tapi hidup berjalan dengan logika, benar, untuk itulah aku bekerja. Terberkatilah mereka yang membiayai hidupnya dengan keringat sendiri, bukan dengan jalan meminta-minta. Parade kenangan manis dan hal-hal yang indah adalah bonus bagi hidup yang kerap dikotori oleh polusi. Kisah saling mencintai dan jatuh tergila-gila bukanlah sebuah peristiwa transaksi, tapi kejujuran yang menggetarkan langit jiwa. Para pemabuk berat seringkali lupa bahwa di medan ini sikap sportif tetap harus di kedepankan. Menjalin tali adalah sebuah sikap total bagi masadepan, bukan sekedar permainan yang terhenti ketika layar monitor bertuliskan game over. 

Maka kepada kau sukma aku sampaikan, bahwa yang aku kumpulkan adalah keyakinan yang jalannya tidak konstan. Turun-naik, persis seperti iman seorang muslim. Kau sukma, boleh membenci karena aku terkesan inkonsistensi, tapi percayalah yang hendak aku bangun adalah sebuah lembaga kehidupan yang kokoh, bukan sekedar gubuk rapuh yang rerak berhamburan disapu angin. Dan di hari yang ke sembilanbelas ini, ketika aku menatap horizontal ikatan antar jiwa manusia, aku kembali teringat bahwa Ramadhan belum usai. Aku menghitung hutang-hutangku kepada agenda yang terbengkalai. Tentang target khatam yang terbenam, juga berdiri di shaf terdepan setiapkali jam menunjukkan jam delapan malam.

Tadi waktu aku berdiri di dalam sebuah supermarket made in Prancis terdengar Bimbo bernyanyi, “Gerbang keampunan, gerbang keampunan, bukalah ya Tuhan….”. Aku tersesat di retail itu, di antara kue-kue yang bersiaga siaga menyambut lebaran, dan di antara para pembeli yang antri di pintu kasir. Adzan maghrib telah lewat beberapa menit yang lalu, dan langit (barangkali) telah kelabu. Aku hanya membeli sebuh box plastik besar untuk menyimpan beberapa eksemplar koran bekas dan berpuluh-puluh buku. Wangihujan menemaniku lewat ponsel usang yang disimpan di saku. Di titik itu aku merasa terseret oleh arus budaya yang telah mengkhianati keagungan Ramadhan. Di saat orang-orang menyebut nama-Nya di mesjid, surau, dan musholla, aku malah berdiri antri di dekat pintu transaksi.

Terdengar lagi Bimbo, “Rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul serasa dikau di sini…”. Ah doa itu. Doamu pada pernikahan putrimu Fatimah Az Zahra terkasih dengan sahabatmu Ali bin Abi Thalib tercinta, begitu indah ya Rasul. 

Jika aku selamanya dalam lumpur ini, maka benar kata Bung Anwar, “Hidup hanya menunda kekalahan.” Maka sukmaku, aku sampaikan kepadamu, telah kupilih jalan ini. Jalan asing dan senyap. Aku tak mau lagi berdamai dengan segala hal sekunder yang sempat begitu menekan mendesak. Seperti juga Gie, aku ingin menjadi pohon oak yang berani menentang angin. [ ]

07 August 2012

Qorib Karib Dekat

(dengan permintaan maaf kepada penerbit Bentang)

Sebenarnya penghormatan, atas buku-buku Bentang Pustaka yang telah begitu banyak membuat aktifitas membaca menjadi menyenangkan. Rekreatif. Soal gambar di atas, tak usahlah dipikir banyak-banyak, toh hanya sebuah keisengan yang sedikit dirayakan. Mungkin sebuah motivasi juga, untuk tahan bernafas lama, untuk tidak hanya mencatat cerita-cerita yang tidak selesai dan akhirnya tercecer. Sebuah kotak hidup yang nyaman sangat diperlukan untuk seolah-olah menjadi inkubator bagi janin-janin karya yang sangat rentan terlahir prematur. Jika tidak, jangan salahkan bayi-bayi kata yang meregang nyawa karena diaborsi, ruh mereka hilang sebelum ditiupkan....
 

06 August 2012

Balada Kodok Rebus (Part 1)

"dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya; 

dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya; 

dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya! 

dan karena hidup itu indah, 

aku menangis sepuas-puasnya"

(Sapardi Djoko Damono) 
  

Catatan ini awalnya ditulis pada tanggal 10 September 2008. Dan menuliskannya lagi di sini bagiku tidak mudah, aku merasa geli. Tapi beginilah jadinya : Mungkin tidak ada cinta pertama yang mengabadi. Sepasang anak manusia hanya menitipkan kenangan indah kepadanya, lalu kemudian pergi mencari jati diri dan kisah sejatinya. Harus berapa korban yang dicampakkan demi pencarian itu?. Apakah mencari kisah sejati harus dibarengi dengan menyakiti pasangan hidup sendiri?. Apakah kodrat manusia untuk selalu bongkar pasang belahan jiwa?. Jangan tanyakan ini pada Olin, karena dia belum menemukan jawabannya.

Hidup mapan dan membujang bagi beberapa orang adalah berkah. Karena kondisi seperti itu sangat memungkinkan untuk menelan jatah hidup dengan sebebas-bebasnya. Termasuk bebas mengoleksi pasangan hidup. Tak peduli pasangan hidup merasa dikhianati atau tidak, yang pasti bagi orang-orang brengsek kesenangan di atas segalanya. Dan mengira bahwa masa muda adalah fosil waktu yang tepat untuk menggradasikan antara kesetiaan dan dusta terang-terangan. Orang-orang dengan energi hidup seperti itu akan dengan bangga memamerkan koleksi pasangan hidupnya di depan banyak orang, seolah-olah yang namanya pengalaman hanya dapat diraih dari kisah merah jambu saja. Nanti pada satu titik hidup yang sunyi, dia akan meragukan keyakinannya itu. Dan kenangan hanya akan menjadi sampah.

***

Selepas kuliah Olin langsung bekerja, dia meninggalkan kisah konvensioanl para sarjana yang kebanyakan nganggur dulu beberapa bulan bahkan tahun untuk kemudian mendapatkan penghasilan sendiri. IT adalah bidangnya, dan di era multimedia dan informasi seperti sekarang ini dia mendapatkan berkah. Di sebuah perusahaan swasta nasional dia menukarkan tenaganya dengan uang. Apalagi Olin pintar bukan kepalang, maka di tempatnya bekerja dia menjadi semacam anak emas yang dipertahankan mati-matian oleh perusahaannya. Sempat ada perusahaan kompetitor yang mau membajak, tapi karena gajinya dinaikkan tiga kali lipat, akhirnya Olin bertahan. 

Kelebihan otaknya berbanding lurus dengan wajah dan penampilan yang cenderung flamboyan. Sudah beberapa orang perempuan rekan kerjanya mengap-mengap dihantam gelombang merah jambu yang datang semena-mena. Gonta-ganti pasangan bagi Olin tak jauh beda dengan mencicipi kue ulangtahun : tak usah banyak yang penting lidah mengalami manis citarasanya. Dari satu kue pindah ke kue yang lain. Demikianlah perempuan-perempuan rekan kerjanya mengalami giliran yang menyakitkan.

Kelakuan Olin tidak terbentuk dengan tiba-tiba, sebab ini warisan dari masa remajanya waktu SMA. Beberapakali dia masuk ruangan BP karena guru-guru pusing melihat banyak siswi cantik yang menurun indeks prestasinya atau bahkan beberapa minggu bolos sekolah setelah putus kisahnya dengan Olin. 

Kalau saja tidak disogok dengan keenceran otaknya, maka jauh-jauh hari dia sudah ditendang masuk keranjang sampah. Guru-gurunya selalu bersikap mendua, antara jengkel dengan kelakuannya dan kagum pada kecerdasannya. Jarang sekali seorang penjaja merah jambu gilang-gemilang dengan prestasi sekolahnya. Kebanyakan dari mereka biasanya hanya penghuni dasar klasemen, dan Olin adalah pengecualian. 

Di masa SMA inilah Olin mendapatkan cinta pertamanya. Waktu itu bakat Don Juan-nya belum ada. Perempuan yang pertama kali disinggahi Olin adalah Dianti. Mereka sama-sama juara  pertama di kelas yang berbeda. Dan pada sebuah kesempatan pertemuan para jagoan sekolah, mereka bertemu, berkenalan, saling tukar no hp, dan sering janji ketemuan, lalu cerita selajutnya dapat dengan mudah untuk ditebak. Usia kisah mereka hanya bertahan satu tahun, hal ini disebabkan oleh datangnya para siswi baru sebagai generasi pengganti mereka yang telah lulus.

Pada moment masuknya angkatan baru inilah sikap Olin mulai berubah, dia mulai tebar pesona ke mana-mana. Di mana-mana senioritas seperti itu. Menciptakan kasta angkatan dan sedikit memasang tampang garang, padahal semuanya hanya kamuflase, sebab tujuan yang sebenarnya adalah tebar pesona yang disamarkan. Tapi hal ini tidak berlaku bagi para kutubuku dan anak-anak rohis, mereka sibuk dengan dunianya sendiri. 

Dengan ditunjang oleh muka dan penampilan yang meyakinkan, bukanlah hal yang sulit bagi Olin untuk menaklukkan korban-korbannya, apalagi anak-anak kelas satu kebanyakan masih lugu, maka satu-persatu secara bergantian mereka dapat ditaklukkan. Sementara Olin keranjingan dengan mainan barunya, di satu sudut sekolah, Dianti terpuruk dengan hati redam. Prestasi akademiknya mulai goyah dan dapat dikalahkan oleh teman-temannya. Dia yang dulu diprediksi akan menjuarai kelas sampai kelulusan, akhirnya hanya karatan di posisi delapan sampai UAN datang. 

Akhirnya yang tidak menyenangkan pada kisah cinta pertamanya menyebabkan Dianti kehilangan energi belajar, untung saja dia masih masuk sepuluh besar. Dan cerita frustasi seperti ini bukanlah hal yang baru, artinya di mana-mana banyak sekali orang-orang brengsek yang semena-mena memperlakukan pasangannya. Dan penyesalan bagi mereka, bagi para laki-laki berkepala kelinci, adalah hal yang mudah untuk dihilangkan, semudah menarik nafas dan menghembuskannya kembali.

***

Tidak sedikit orang yang berhasil merekontruksi kepribadiannya dan melesat meninggalkan masalalu dengan segala energi hidup yang baru. Mereka laksana cahaya yang berpendaran meninggalkan kegelapan. Tapi tak jarang ada juga yang terus bergumul dengan masalalunya dan susah merubah kepribadiaan. 

Olin adalah penghuni keadaan yang kedua. Karakter flamboyannya malah cenderung berkembang. Kondisi keuangan yang lebih dari cukup, karir yang menanjak, gampang menggaet perempuan usia 25-35 tahun. Itulah demografi yang mewakilinya. Kalau dilihat dari kacamata spiritual, dia adalah pemuda yang kurang bersyukur dengan segala kelebihan yang ada di dirinya. Hidup foya-foya dan gonta-ganti pasangan. Energi mudanya bergejolak membabi-buta. Jika dalam sinetron-sinetron religi yang hitam-putih, Olin sangat pantas menjadi tokoh antagonisnya. 

Tapi rupanya energi yang berkobar-kobar itu harus istirahat juga. Laksana api yang harus mengendapkan panasnya agar menemukan kedewasaan. Dan pertemuan dengan seseorang ternyata bisa menjadi titik belok dalam hidup seorang Olin. Perubahan itu bisa permanen atau tidak, tergantung nasib nanti akan membawanya ke mana.

***

Di dekat kontrakan Olin ada sebuah TPA tempat anak-anak bermain dan menuntut  ilmu di usia yang masih sangat belia. Awalnya Olin tidak pernah memperhatikan TPA itu, karena isinya hanya anak-anak dan guru-guru tua plus ibu-ibu muda yang mengantar anaknya. Meskipun seorang “petualang”, tapi pantang baginya untuk menggoda ibu-ibu muda yang bersuami itu, apalagi menggoda guru-guru tua, seleranya dijamin sudah habis sejak dia keluar dari kontrakannya.

Tapi suatu hari perhatiannya sedikit tercuri. Di antara guru-guru tua yang semuanya perempuan itu, ternyata ada seorang guru yang masih muda dan sulit jika mengatakan wajahnya tidak cantik. Guru muda itu memang baru seminggu mengajar di TPA. Reta adalah mantan mahasiswi yang baru lulus dari PGTKA. Demi padu padan antara basic study dengan pengabdian di masyarakat, maka Reta memilih menghabiskan sebagian waktunya di TPA itu.
Reta berkarakter keibuan. Pendidikannya di bangku kuliah dan lingkungan keluarga membentuknya seperti itu.  Sorot matanya sangat tenang dan teduh, sangat cocok untuk menenangkan tingkah energik anak-anak TPA. Dan ternyata bukan hanya anak-anak TPA yang luluh dibuatnya, tapi juga Olin; pemuda yang sedang mencoba meredakan energi hitam hidupnya.

***

Di sebuah senja yang cerah, waktu akhirnya mempertemukan mereka. Keduanya saling mengiklankan diri, maklum karena saling tertarik, tidak ada satu pun yang mau jika kekurangannya diketahui. Dan kelanjutannya dapat dengan mudah ditebak, keduanya kemudian merangkai kisah. Sebuah hubungan harus punya status kata mereka, padahal kata anak-anak rohis; pacaran adalah aktifitas yang tidak punya status apa-apa, kalau pun ada : sangat lemah. Tapi biarlah. Biarlah manusia punya pemahamannya masing-masing. Kehadiran Reta benar-benar telah merubah gaya hidup Olin, meskipun perubahannya belum sampai 180 derajat. Tapi setidaknya dia mulai menyadari bahwa hidup punya cara tersendiri untuk dinikmati.

Enam bulan berjalan akhirnya mereka memutuskan untuk naik pelaminan. Akad nikah adalah akhir dari segala gembar-gembor iklan selama pacaran, sebab apalagi yang mau dirahasiakan jika anak manusia telah mengucapkan janji setia dalam sebuah ikatan yang kuat (pernikahan)?. Segala  yang disembunyikan sudah saatnya untuk dikeluarkan dari persemayaman. Dan seperti umumnya para pengantin baru, mereka pun dengan leluasa menelan semesta bahagia. Konon hidup sebagai pengantin baru adalah seperti terjerambab ke dalam toples gula pasir. Segalanya manis melulu, bahkan keringat yang asin pun bisa berubah rasa, katanya.

Tak perlulah aku ceritakan panjang-panjang masa bahagia mereka di awal pernikahannya, sebab detailnya aku tidak tahu. Tapi yang jelas setelah beberapa bulan, Reta akhirnya hamil dan kepayahan yang semakin hari semakin bertambah karena kandungannya semakin membesar, begitulah kodrat seorang perempuan. Tapi anehnya walaupun konon mengandung dan melakukan persalinan itu menyakitkan, tapi banyak juga ibu-ibu yang hampir setiap tahun melahirkan anaknya yang ke-2, 3, 4, dan seterusnya. Rasa sakit yang diulang-ulang?, atau mungkin Tuhan dengan sangat mudah melupakan rasa sakit itu dari ingatan ibu-ibu ketika melakukan proses reproduksi kembali?.

Melihat kondisi istrinya yang kepayahan, Olin pun sangat khawatir. Maklum dia tengah menantikan anak pertamanya. Di tengah kekhawatirannya itu dia sibuk mempersiapkan nama bagi calon bayinya, bahkan dia telah mempersipkan jika bayi itu perempuan namanya apa, dan jika laki-laki namanya apa. Tak lupa dia juga belanja semua perlengkapan bayi dan ibunya. Apakah sikap seperti ini mencerminkan bahwa Olin benar-benar setia?, atau hanya visualisasi kekhawatiran saja?. Sebuah sikap yang masih harus diuji kebenarannya. [ ]---bersambung---

***dengan permintaan maaf kepada Zaim Saidi

Wangihujan Menjelang Malam

Wangi itu mendekapku dalam gigil. Cahaya lampu yang berpendaran dirobek arsiran hujan seperti nuansa sebuah film noir. Aku mencoba menyulut cigarette, tapi dia melarangnya. Mulut menjadi kecut dan asam, hanya tanganku yang merangkul bahunya dalam diam. Tanah yang basah dan wangi permen menyeruak mencucuk penciuman. Langit mulai hitam jelaga, kelip bintang tertutup; tak satu pun. Dalam diam tanpa kata-kata aku ingin menulis, memfosilkan jenak waktu ini untuk dibawa ke masadepan sebagai kenang-kenangan untuk hidup yang begitu biru. Tapi aku sadar, tidak semua kenangan akan menjelma bangunan yang kokoh, adakalanya aku harus mengalah, mengendapkan semuanya demi sesuatu yang lebih penting; lembaga kehidupan yang mengabadi. 

Di sini, di dekat wujudnya yang menebarkan aroma permen, aku melukis impian itu. Segala konflik ingin aku istirahatkan. Aku hanya tajam menatap matanya yang berkilauan nuansa biru. Capucino hangat tinggal setengah, dan pembicaraan belum usai. Memang banyak diamnya, tapi sesekali ada juga pandangan-pandangan terlontar, tentang pikiran yang terkadang kalut, atau pendapat yang jernih. Aku genggam tangannya yang kecil dan sedikit menciut. Aku rasakan ketakutannya yang tersembunyi jauh di balik wajah cerah itu. 

Bulan telah melewati Juni, tapi aku sering ingat Sapardi, begitu juga malam itu. Ya, “Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan---suaranya bisa dibeda-bedakan, kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan---menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh, waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan.”

Tapi sekarang malam terus beranjak, dan aku harus segera mengantarkannya pulang. Tanpa jaket, akhirnya ranger hijau centil itu meluncur, meninggalkan jejak yang terbaca waktu. Wangihujan di belakangku, membuka jaketnya dan menutupi dadaku yang terus-menerus diserang angin malam. Dalam catatan ini, aku mencoba memfosilkannya. Bukan untuk menajamkan pisau, tapi mencoba menumpulkan konflik yang mungkin akan masih meledak. Semoga saja tidak. [ ]   
     

05 August 2012

Siapa yang Mendidikmu? : Secangkir Kopi Pahit

Maka jika memang kamu seorang petarung, tak perlulah memakai topeng. Kamu barangkali berhasil mengukir definisi bintang, atau meredakan pengkhianatan dalam beberapa lumatan yang basah dan gerah,  tapi yang namanya luka di mana-mana selalu sama, jadi istirahatkan saja retorika manis itu. Aku dididik oleh secangkir kopi pahit, kopi yang kadar caffeinnya menendang segala hipokrisi atau basa-basi rahasia yang mengalir di dalamnya cerita non fiksi tentang hati yang tidak hati-hati. 

Sayap masadepan telah patah di sini, di setapak bening yang mulai terkontaminasi oleh larutan kenangan, ego, dan strategi yang salah kaprah. Ini adalah bulan yang tepat untuk saling menyalahkan, untuk saling mengarahkan telunjuk ke dada lawan bicara masing-masing. Rayakan itu, dan lupakan segala yang telah terlewati. Percayalah, ini akan lebih baik dan menyehatkan daripada menyeret-nyeret berlembar-lembar visual dalam kotak kecil ajaib. Menghargai seharusnya bukan dengan jalan melukai, semoga ada yang paham tentang itu. 

Halte disediakan untuk pemberhentian sementara, bukan untuk tempat tinggal selamanya. Tapi jika karakter yang dibawa adalah karakter angkutan umum, maka selamanya (setidaknya dalam rentang waktu yang tidak sebentar) hanya akan menyinggahi halte-hal itu. Di titik ini aku begitu khawatir menjadi pribadi yang kerdil, pribadi yang congkak tanpa mau mengendap. Musuh utamaku bukan usia, tapi manusia, itulah yang sesungguhnya.

Meskipun sekarang, siang ini, aku tidak bisa bertemu dengan yang mendidikku, tapi aku bisa merasakan fatamorgananya. Sekali ini, aku ingin kembali menendang hipokrisi. [ ]

Membungkam Para Jago Manuver

Akan aku buktikan bahwa segala teori itu tak lebih dari sekedar omong kosong. Ini aku, yang membenci segala ilfiltrasi dalam wujud petualangan dan strategi. Masadepan begitu luas kawan, jadi kenapa mesti diserahkan kepada para samurai?. Para laksamana yang gerbong masalalunya berderet, kali ini, biarkan mereka meledak. Suatu hari nanti, air dan minyak itu akan jelas terlihat, jadi biarkan kali ini mereka lupa, mabuk, sampai akhirnya tersedak.
(sebatang dululah, kawan)
Jika kejujuran dianggap tidak cukup, maka setiap orang harus mempunyai pisau tajam untuk merobek perut, mengeluarkan hati, dan meneliti apa sesungguhnya yang terjadi di telaga darah itu. Proyeksi tentang tulang rusuk atau imam, bukanlah sebuah manifestasi politik, jadi buat apa mengerahkan segala manuver?. Dan jika pertanyaan retoris ini pun tidak dapat dimengerti, maka bergabunglah dengan kafilah mereka itu, kafilah yang gemar tebar pesona, tebar kata-kata wangi, dan para penyair salon.

Ini aku. Maka berdirilah di belakangku dengan tegak, dengan tidak terlalu ramah, dengan sikap yang teduh seperti pohon di belakang gedung itu, dan berhentilah membicarakan masalalu. Jika hari itu tiba, akan aku kuburkan Freud beserta segala teorinya. [ ]

Maaf, Saya Tidak Perlu Khotbah



"Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernafasanmu
Maut bukanlah kata-kata
Tapi do’a
Yang memancar bagai cahaya surga
Dan membakarmu tiba-tiba."

(Acep Zamzam Noor)

04 August 2012

Di Dalam Jiwa Kita (ternyata) Ada Sjahrir dan Hatta, Sayangku...


Ketika pesawat tiba di Banda Neira, Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak peti. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya. Tiba di pesawat, ternyata ada problem : ruang di pesawat itu terbatas. Para penumpang harus memilih, 16 kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. 16 kotak buku itu tak jadi dibawa untuk selama-lamanya, kecuali sebuah Atlas yang sempat disisipkan ke dalam koper. Empat puluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu.

Enam tahun sebelum pesawat itu tiba, Sjahrir dan Hatta---kedua orang buangan itu--- tinggal dalam satu rumah. Sejak di hari pertama datang, Sjahrir menemui anak-anak, dan anak-anak datang untuk belajar, bermain dan bergurau. Suatu hari seorang dari anak-anak itu menumpahkan vas kembang. Airnya membasahi sebagian buku yang ditaruh Hatta di atas meja. Hatta yang selalu sangat sayang kepada buku-bukunya, selalu rapi dengan benda-benda itu : marah.

Jika Hatta sedang membaca buku atau menulis surat, Sjahrir membawa anak-anak itu berjalan meninggalkan dataran pulau, berlayar, atau mendaki gunung di sebelah sana. Anak-anak, permainan, dan pantai, mungkin itu kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak berbatas, dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan. Sementara Hatta tenggelam dalam dunianya, dunia buku yang begitu menggoda, mengapungkan, dan mencerahkan.

“Di sini benar-benar sebuah firdaus,” tulis Sjahrir tentang Banda Neira. Anak-anak Banda Neira itu menyeberangi selat melintasi kebun laut, bersama seorang buangan yang tak jelas asalnya dan masadepannya. Pantai itu berubah. Dalam keasyikan bermain, mereka tak tahu apakah pantai itu membatasi laut ataukah pulau, awal penjelajahan atau tempat asal. Pada saat itu, di ruang itu, mistar tak ditarik dan hitungan tak ada.

Di tiap pantai, juga di pantai yang paling tenang, ada dilema dan ambivalensi. Pada hari ketika pesawat itu datang, Sjahrir pergi bersama tiga anak angkatnya, meninggalkan Banda Neira, di pesawat yang mungkin tak diketahuinya hendak tiba di mana. Itulah pilihannya : anak-anak, bukan buku; pergi, bukan berlindung di rumah asal; berangkat ke tempat yang tak terikat, bukan ke alamat yang terjamin.

Tapi tak semua dilema menghilang. Toh dalam pesawat yang melayang itu berkecamuk kontradiksi yang tak terhindarkan. Terbang, perjalanan, penjelajahan, avontur, dan tempat antah berantah, di kabin itu tak mungkin menjadi dasar segalanya. Pesawat itu bukan “the only possible non-stop flight”, bukan untuk “terbang tanpa mendarat”. Pada akhirnya Sjahrir tetap harus mendarat, dengan rencana, sebagaimana pesawat itu akan mendarat dengan kalkulasi. Dunia tak seluruhnya tergelar hanya dalam impuls, dorongan, dan gairah.

***

Bacaan Hatta sangat luas, dan juga minatnya pada sastra. Dia mengutip sajak Heinrich Heine dalam bahasa Jerman. Dia juga menyebut Leo Tolstoy, Karl Marx, Bakunin, serta Dostoyevsky. Dia seperti ingin mengompensasi tubuhnya yang tidak terlalu besar, wajahnya yang dingin berkacamata tebal, serta gaya bicaranya yang membosankan, dia mencari kekuatan pada menulis. Pena adalah senjata dia untuk memerdekakan bangsanya. Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya, kian meluap ketika Hatta kuliah di Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tapi Hatta bukan cendikiawan di menara gading.

Sekira bulan September tahun 1921, dalam usia yang baru 19 tahun ketika sekolah di Rotterdamse Handelsshogeschool, Hatta mesti membeli sejumlah buku. Tapi dana beasiswa belum diterimanya. Uang saku yang dibawanya dari kampung tak seberapa. Baru sepekan dia tiba di Belanda, negeri yang 8.000 mil dari Bukittinggi, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Tanpa uang di saku, ia mendekati rak buku besar di De Westerboekhandel, sebuah toko buku tua di kota itu. Ia mengambil Hartley Withers, Schar, dan beberapa buku karangan T.M.C. Asser. Ia tak tahu dengan apa semua buku itu harus dibayar. Beruntung, pemilik toko buku itu tahu bagaimana harus bersikap pada mahasiswa miskin dari Dunia Ketiga. Bung Hatta menulis, “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayarannya tiap bulan f 10. Aku diizinkan memesan buku itu terus sampai jumlah semuanya tak lebih dari f 150.”

Pada tahun 1927, akibat tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah kolonial, Hatta ditahan. Dari ruang penjara yang sempit, dia menulis pidato pembelaan yang nantinya akan dia bacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Judul pidato itu, “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka), menjadi salah satu manifesto politik yang monumental. Di situlah, persis di ulu hati kekuasaan kolonial, dia menusukkan tikamannya.

Ketika pulang ke Indonesia dengan membawa gelar sarjana, Hatta semakin larut dalam kegiatan politik. Dia juga aktif menulis dalam majalah yang didirikan partainya : Daulat Ra’jat.

Dan kembali, akibat tulisan-tulisannya di majalah itu, dia dibuang ke Boven Digul, Irian, sebuah wilayah pembuangan yang sering disebut Siberianya Hindia Belanda. Tapi, dasar Hatta, dia membawa serta 16 peti buku ke tanah pengasingan. Buku-buku itu membuatnya memiliki amunisi cukup untuk meluncurkan tulisan---tembakan salvonya---ke koran-koran di Batavia maupun Den Haag. Dia memang tak bisa dibungkam.

***

Akhir keduanya memang berbeda. Dua corak pribadi itu mengalami kesudahan yang berlainan. Tapi Sjahrir dan Hatta adalah sumbangan sejarah berharga yang bisa kita pelajari dan kita ambil manfaatnya, barangkali bisa menjadi penerang bagi jalan yang akan dilalui. Kita tidak tahu, apakah harapan itu akan terbit atau malah terkubur, sebab hari esok terasa begitu misteri. [ ]

---Dengan permintaan maaf kepada Goenawan Mohamad dan Tim Majalah TEMPO---  
   


03 August 2012

Box Plastik

"Love should never be a test. It should be a reward. Reward for all the shit in life" (Joko Anwar)

Gadis Kecil Di Pantai


Ketika matahari bersiap akan muncul dari balik garis batas laut, pagi itu, seorang gadis kecil dengan memakai celana pendek berwarna oranye telah berdiri di bibir pantai. Rambutnya diikat ke belakang, tapi kurang rapi. Bajunya selalu begitu. Selalu kemeja kotak-kotak lengan panjang dengan kancing atas sedikit terbuka demi memperlihatkan lapis di dalam yang berwarna hitam. Jiwanya hampir saja meledak, sudah lama dia tidak mencium aroma laut dan merasakan angin yang berhembus kencang menampar-nampar pipinya yang kemerahan. Lidah ombak yang tersisa di bibir pantai telah membasahi kakinya. Ya, sepasang kaki yang telah lama gatal karena merindukan air yang mengandung garam. Kedua tangannya dia rentangkan sambil tersenyum merekah ketika detik-detik itu tiba : bola api raksasa muncul perlahan dari garis batas laut.  

Itulah dunianya. Sebuah dunia yang indah karena berkawan dengan gerombolan ikan, lumba-lumba, burung camar, gemuruh ombak, beningnya air, matahari yang bersinar hangat sepanjang hari, kerang, terumbu karang, dan angin yang bertiup genit. Baginya, dunia seperti itu adalah firdaus yang membebaskan, ya surga yang berhasil melepaskan semua energi hitam hidupnya yang diprodukasi oleh rutinitas kerja, kejenuhan interaksi, semakin sumpeknya lingkungan kota, dan mungkin relationship yang hancur berantakan karena tidak setiap jiwa dilahirkan sempurna.

Siapa yang tega merampas dunia indahnya itu?. Aku tidak berhak menjawab pertanyaan tersebut, yang aku lakukan hanya duduk di balik jendela yang terbuka, pemandangan lurus ke laut, dan dengan takzim memperhatikan kegembiraannya yang sedang berlari atau berenang tidak jauh dari bibir pantai. Sambil duduk menghadap meja dan menulis, aku selalu waspada, khawatir jika dia berenang terlalu ke tengah sementara ombak besar datang tiba-tiba. Kusulut cigarette dan asap berhamburan keluar jendela. Gadis kecil itu melambai-lambaikan tangannya dari jauh sambil berlari-lari gembira. Dia memanggil-manggil namaku, barangkali mengajak aku bergabung dengannya untuk bermain di pantai itu, tapi suaranya terlalu kecil karena angin berhembus terlampau kencang. 

Aku hanya tersenyum dari balik jendela lalu membalas lambaian tangannya. Aku terus menulis sambil sesekali melihat gadis kecil itu. Ketika hari terus beranjak, dan senja perlahan dijemput malam, saat bola api raksasa kembali tenggelam di balik garis batas laut, aku pergi ke pantai dan memanggilnya, “Pulang sayangku, sudah hampir malam.” [ ]