17 July 2012

Ulangtahun dalam Timbangan

“Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya. (Alan Lightman)

Benarkah?.

***

Siapa yang bisa memfosilkan waktu?. Kita hanya mendapati angka yang dikasih tanda stabilo merah. Kata siapa waktu berulang?, yang serupa hanyalah angka yang merekat di kalender usang. Menyaksikan orang yang berulangtahun tidak seperti sedang melihat para pembalap yang berkali-kali menyentuh garis finish tapi belum berhenti karena jumlah lap belum terpenuhi semuanya, melainkan gambar utuh tentang perjalanan menuju titik akhir. Kita bisa menggugat Alan Lightman yang pernah menulis :

“Biasanya, orang tidak tahu bahwa mereka akan menjalani kehidupan mereka kembali. Pedagang tidak tahu bahwa mereka akan saling menawar lagi, dan lagi. Politikus tidak tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orangtua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan terdengar lagi. Sepasang kekasih yang pertamakali bermain cinta malu-malu melepas busana. Bagaimana gerangan mereka tahu bahwa tiap kerlingan rahasia, tiap sentuhan, akan terulang lagi tanpa henti, persis seperti sebelumnya?.”

Sebentar, bukankah yang terulang itu adalah aktivitas?. Benarkah waktu bisa berulang?. Kue cantik yang terasa manis oleh gula dan ucapan selamat dari relasi publik dan orang-orang tercinta adalah alarm yang begitu nyata, bahwa kita semakin menjauhi pangkal dan mendekati ujung. Tapi memang itu semua semacam ekstrak ramuan berkhasiat yang disimpan dalam tablet hisap abadi yang selalu mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian.

Atau barangkali sejenis obat ampuh bagi rutinitas yang bosannya jarang melepuh. Ya, seperti kata Muhidin M. Dahlan : “Kerap rutinitas memang membuat selera manusia merosot. Yang ada adalah sebuah ritual yang sudah kehilangan kesan yang mendalam. Biasa-biasa saja. Karena itu membosankan. Setiap ritual pasti membosankan kalau seseorang tidak mampu menangkap sesuatu yang menarik dalam rutinitas itu.”

Apapun itu, yang jelas kini tanggal dan bulan itu datang lagi. Menyapa lagi. Sama seperti tahun kemarin. Dan kemarin lagi. Dan kemarinnya lagi.

Menimbang ulangtahun artinya menimbang sudut pandang. Bukan bermaksud menggiring pada perspektif khotbah, bukan pula mengajak menakar ulang setiap perayaan yang begitu manis sampai tetes terakhir ke arah kutub konservatif. Tapi barangkali semacam sebuah lemparan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Sebab kuncinya sudah jelas. Sejelas tulisan Dewi Lestari yang sudah sering di repost di kanal-kanal catatan jejaring social:

“Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai disembur nafas, lilin tersungkur mati di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah. Sederet do’a tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kukuatan hati yang tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.”

Mei selalu menyala di awal. Jutaan buruh di seluruh penjuru dunia kerap turun ke jalan mengusung aspirasi dan pesan. Akankah nyalanya bersisa sampai di ujung?. Ah, barangkali boleh juga mengucapkan : “Selamat tanggal 31 Mei.” [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai