11 July 2012

Si Hadi Berkirim Surat

Sudah lama betul saya tidak bertemu dengan si Hadi, kawan saya yang dulu pernah jadi jongos. Dulu dia di Jakarta dan saya di Bandung, sekarang kami bertukar posisi sebagai komidi putar di pasar malam. Rupanya jalan manusia berlain-lainan, dan setiap keputusan selalu mengandung resiko. Baru-baru saya dapat email darinya, rupanya sudah tak elok lagi kalau berkirim surat lewat kertas dan memakai jasa kantor pos. Kasihan kantor jadul itu, dia dihajar habis-habisan oleh berkah tekhnologi yang tak kepalang datangnya sebagai pasukan buru sergap menangkap seorang kriminal. Tapi aneh juga kenapa dia sampai tahu alamat email saya?, oh mungkin dari facebook, dari situs jejaring sosial yang padat penghuni itu. Sebagai orang yang sedang berkisah, beginilah isi emailnya : 


Cijerah, bulan sedang Agustus 
Menjumpai seorang kawan 

Bung, Bandung sedang hujan waktu saya akhirnya memutuskan untuk berhenti jadi jongos. Telah saya timbang-timbang betul keputusan saya ini. Walupun moyang saya tidak ada satu pun yang setuju, tapi saya sudah besar, sudah boleh menentukan jalan hidup sendiri. Saya bukan membangkang, tapi hanya berharap beroleh berkah dari hidup bukan menjadi jongos. Sekarang saya bergiat usaha sablon, usaha kecil tentunya, tapi lumayan, apalagi kalau musim kampanye tiba, dapat kau hitung sendiri berapa laba usaha saya. Kau sendiri bagaimana, apakah masih betah menjadi jongos?. Tapi saya pikir apa pun ikhtiar kita untuk penghidupan di dunia ini, asalkan dia halal, asalkan dia ditempuh dengan cara yang benar, pastilah dia akan kasih manfaat bagi yang mengusakannya. Sebab langit tidak akan pernah hujan duit, dan setiap makhluk yang berjiwa harus bertebaran di muka bumi, harus mengusahakan nafkahnya sendiri. Baru-baru saya membaca sebuah kisah : suatu hari Rasulullah melihat seseorang yang kerjanya hanya nongkrong di mesjid, lalu beliau bertanya kepada salah seorang sahabat, “siapa yang menafkahi orang itu?”, kemudian sahabat menjawab, “saudaranya wahai Rasulullah”, lalu beliau berkata, “saudaranya lebih baik daripada orang itu”. 

Bung, sudah lama betul kita tidak bertemu, tidak ngobrol-ngobrol tentang banyak hal, semenjak kita kesulitan untuk mengelola rumah buku itu, mungkin sudah 5 tahun lamanya. Dulu kau di Bandung dan saya di Jakarta, kini komidi putar itu bertukar posisi. Tapi di manapun kaki kita berpijak, disitulah ikhtiar kita yang terbaik harus diusahakan. Disitu pula pengabdian kita kepada Alloh harus yang terbaik. Kau mungkin heran kenapa saya banyak bercakap tentang agama, padahal dulu kelakuan saya tidak karu-karuan : pernah menenggak khamr, pernah mengajak kau nonton film porno sambil makan nasi padang, padahal waktu itu sedang bulan puasa. Pernah juga suatu kali saya mencoba mau main wanita, tapi Alhamdulillah saya masih diselamatkan, akhirnya saya tidak sampai berbuat begitu. Bung, mungkin pada hidup setiap manusia akan ada titik balik yang mencerahkan. Pencarian tentang misi dan tujuan hidup pada akhirnya harus selesai ketika kita larut dalam kedamaian dan kehangatan tauhid. Walaupun memang pada perjalanannya di alam sosial, kedamaian dan kehangatan itu akan timbul-tenggelam diamuk ombak pergaulan, interaksi, dan komunikasi. Tidak ada do’a yang cukup ampuh untuk meredam gejolak itu, kecuali permintaan kepada Alloh agar hati kita tidak dicondongkan kembali kepada kemaksiatan setelah kita mendapatkan petunjuk-Nya. 

Bung, apakah kau masih mencintai aksara?. Ah, saya lupa, saya seharusnya tidak menanyakan hal itu, karena kau yang ku kenal adalah kau yang sangat mencintai kata-kata. Bung pasti belum lupa waktu kita mencari buku di Kwitang, dengan duit pas-pasan sisa makan kue pancong dan segelas kopi encer, kita akhirnya dapat membeli 2 buah buku : saya beli “Para Priyayi”, dan kau beli “Arus Balik”, lalu kita pulang ke Manggarai dengan trem yang sesak oleh manusia, keluh kesah, dan asap rokok. Di tengah kondisi keuangan yang tidak menentu, kau masih sempat menyisihkan beberapa rupiah tiap bulan, hanya untuk membeli tumpukan kertas berpunggung lem kuning. Sampai kau waktu itu tampak kurus sekali sebagai manusia kekurangan gizi. Sekali-kali mainlah kau ke Bandung, kita jalan-jalan ke Ultimus, Rumah Buku di Hegarmanah, Omunium di Ciumbuleuit, Toga Mas di Supratman, Tobucil di Kiai Gede Utama, Zoe di Pager Gunung, Baca-baca di Selasar Utara Sabuga, Awi Apus, Batu Api, Kaseundeuhan, Salman, Darut Tauhid, Dewi Sartika dan Palasari. Kita penuhi lagi pundi-pundi imajinasi, kosa-kata, dan gaya bahasa. 

Bung, sebentar lagi Ramadhan datang, mudah-mudahan kita sampai kepadanya. Apakah menurut Bung kita akan seperti tahun-tahun sebelumnya?, akan melihat kembali fenomena aneh itu?. Fenomena ketika bulan puasa berubah menjadi bulan tidur massal, atau perayaan balas dendam para budak perut selepas maghrib. Sebelum isya masih sempat membandingkan : keras mana antara perut dan jidat?. Dan kalau bulan itu sudah mendekati penghujung, maka ramai dan padatlah pasar-pasar oleh kompetisi belanja. Kemudian sehabis lebaran orang-orang akan sibuk menghitung hutang, defisit anggaran bekas pesta perayaan. Ajaib !!. Ketika anggaran untuk makan siang dihilangkan, justru kondisi keuangan semakin memprihatinkan. Dapatkah kita meniru semangat para penghulu syuhada : dalam kondisi lapar dan dahaga, dengan jumlah pasukan sedikit, mereka justru meraih kemenangan di perang Badr. Bung, mungkin kicauan saya ini terlalu jauh, terlalu sok alim kedengarannya, tapi begitulah Bung, saya sedang belajar untuk kembali ke haribaan fitrah, sedang mencoba membuang sedikit demi sedikit kontaminasi sampah yang sudah terlalu lama menempel di semesta jiwa ini. 

Bung, sudahkah kau dapatkan buku “Sang Pemula” yang dulu kau cari-cari itu?. Seminggu yang lalu saya sempat melihatnya di Ultimus, tapi waktu itu saya tidak bawa uang kecuali buat ongkos saja. Dan kemarin waktu saya mau membelinya, ternyata Ultimus sudah pindah, sudah tidak di Lengkong Besar lagi, sudah tidak di depan Universitas Pasundan lagi, saya tidak tahu pindahnya kemana. Apakah mungkin dibubarkan aparat?, atau pengelolanya kehabisan dana karena usahanya tidak menguntungkan?. Ah, saya tidak boleh hanya menduga-duga, saya harus cari informasinya di internet. Insya Alloh nanti kalau buku itu saya dapatkan, akan langsung saya kirim ke alamat kau, jadi tolong kasih tahu posisi kau sekarang di mana?, biar kiriman itu tidak salah alamat, biar tidak mubazir ongkos kirim. Bukan maksud saya untuk melakukan barter, tapi saya sedang mencari buku “Secangkir Kopi Jon Pakir” karangan Emha Ainun Nadjib, jadi kalau kau dapatkan buku itu, bolehlah saya dapat kirimannya. Buku yang kau cari dengan buku yang saya cari sama-sama buku lama, sama-sama sudah hilang di pasaran, jadi bolehlah kita berkompetisi, siapa yang paling cepat mendapatkannya. 

Bung, tentu kau kenal saudara Hamzah bukan?, kawan kita waktu kuliah itu. Bukan Hamzah yang jadi ketua BEM, tapi Hamzah yang dulu senang betul pada cigarette kretek. Sekitar tujuh bulan yang lalu saya bertemu dengannya, dialah yang mengajak saya untuk mau belajar sedikit demi sedikit tentang jalan yang hanif ini. Mulanya memang berat, tapi lama-lama berkuranglah perasaan itu. Saya sempat berpikir, ternyata Tarbiyah itu adalah seni membuka kunci-kunci jiwa dan akal manusia. Dari dia pula saya banyak melahap buku-buku pergerakan, salah satunya adalah Majmu’ah Rasail. Mudah-mudahan kau tidak merasa asing dengan apa yang sedang saya cakapkan ini. Saudara Hamzah sekarang bekerja di daerah Bandung Selatan, rupanya jadwal dia sangat padat, sampai hari ahad pun kadang-kadang masih bekerja, masih bersibuk diri di depan komputer dan meja. Untung saja dia masih muda, masih punya tenaga untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang pekerja. Baru-baru kawan kita itu jatuh sakit, rupanya masa pancaroba perubahan cuaca melemahkan daya tahan tubuhnya. Kau pun berhati-hatilah dengan cuaca yang tak menentu ini, kurangi merokok dan banyak-banyak minum air putih. 

Bung, semburat merah sudah dari tadi timbul di barat, dan langit sebentar lagi akan beranjak gelap, panggilan-panggilan keabadian mulai terdengar berkumandang. Saya harus menyudahi kicauan ini, harus segera bersuci dan pergi menghadap-Nya. Kalau kau sempat, balaslah email saya ini. Terserah kau mau bercakap apa, dan akan kau dapati saya adalah seorang pembaca setia tulisan kau. Selamat sholat maghrib. 


Kawan Kau 
Hadi 


Dua hari berselang saya balas emailnya itu. Kemudian tiada kabar. Dan terakhir saya dapat berita : dia katanya mau nikah, mau kawin, mau membangun sebuah lembaga kehidupan. Rupanya dia sudah bosan hidup membujang. Ingin rasanya saya kasih dia kado : buku karya Cahyadi Takariawan dan kaset nasyid “Suara Persaudaraan”. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai