10 July 2012

Republik Bulubabi : Gerak Dinamis atau Mental Seremoni?

Berangkat dari apa?. Barangkali dari kecintaan pada membaca buku dan keranjingan menulis, waktu itu. Menulis pun lebih bisa diartikan sebagai aktivitas buang sampah, tidak terikat kaidah-kaidah baku, murni hanya kesenangan bercerita dan tamasya merangkai kata, pada awalnya. Jadi bukan kumpulan yang dilandasi oleh formalitas, tapi hanya aktivitas yang hampir menyerupai acara minum kopi bersama, menghisap cigarette, dan guyon di ranah maya. Bahkan nama pun diambil dan diputuskan dengan penuh tertawa senang, di sebuah kotak yang tidak terlalu besar, yang di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon teduh, di sebuah tempat yang tidak jauh dari jalan Margonda, Depok.

Tapi memang tidak ada yang statis, semuanya harus cair, harus ikut dalam arus agung yang bernama perubahan. Perlahan orang-orang baru mulai masuk meramaikan acara minum kopi. Saling bertukar cerita, saling lempar komentar dan kritik. Yang buang sampah semakin ramai. Sampah yang dibuang semakin variatif. 

Sekali ini saya ingin berkata : jangan remehkan jejaring sosial ranah maya, kawan. Banyak yang memandang sebelah mata, dan berkata bahwa jejaring sosial bukanlah diary yang sebenarnya, hanyalah sebuah campur-aduk antara fakta dan fiksi. Dan kawan boleh tidak percaya, tapi nyatanya ada juga aroma busuk itu tercium. Kita bisa tahu karakter orang : ada yang suka tebar pesona, nyinyir, infiltrasi sana-sini dengan gaya komunikasi supel, lalu menghilang sebagai simbol bahwa kepala kelinci adalah miliknya. 

Ada juga pasukan mollusca, rajin buang sampah tapi bermental lemah. Kata-kata yang keluar terlampau sarkas, emosional, seperti tidak pernah belajar tentang umpama dan teknik penyamaran. Atau barangkali tidak pernah merasakan pahitnya minum kopi yang diseduh di gelas plastik bekas air mineral. 

Perlahan, Republik berjalan dengan penuh sentimen. Saling serang mulai terkesan vulgar, sementara para komentator salon mulai menjamur. Ada juga yang (sepertinya) jatuh cinta dengan malu-malu dalam kanal yang dihidden sedemikian rupa. Yang mulai gerah satu-persatu keluar dan menjauh, hampir seperti mahasiswa baru yang tidak lulus ospek. Acara minum kopi sudah menjauh dari hakikat, yang ada hanyalah perang ego dan suasana yang sudah mulai tidak kondusif. Republik perlahan mati suri.

Barangkali ini adalah efek dari gerak dinamis manusia yang tidak pernah bisa menghindar dari kebosanan dan rasa jenuh. Sementara hidup masih menawarkan saling salip antar kompetitor, dan acara minum kopi harus bubar jalan. Atau bisa juga karena mental seremoni masih terlalu mendominasi. Militansi tidak lahir dari rasa gamang dan iseng yang mewatak. Sejarah telah gulung tikar sebelum dicatatkan. Sebuah magnum opus telah mati ketika masih embrio. Dan orang-orang pergi dengan membawa dendamnya masing-masing. "Siapa memulai, tidak boleh melarikan diri.". Ya, kita bukan pesakitan, kita bukan kriminal, kawan. [ ]  

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai