17 July 2012

Quantum

Kecemasanku mungkin beralasan, sebab usia sudah tidak muda lagi, sudah melewati angka 25. Sementara sainganku adalah mereka yang baru saja lulus dari SMA. Ilmu mereka masih hangat, seumpama pisang goreng yang baru diangkat dari wajan, dan mereka jumlahnya ribuan. Di wajah mereka terpancar semangat yang berkobar untuk meraih masadepan gilang gemilang. Tapi aku tak boleh surut, dengan langkah yang dikuat-kuatkan serta mengucapkan “Basmillah”, aku dekati gedung tempat ujian itu. Pensil 2B bermerek Faber Castel, alas triplek untuk menulis yang dilengkapi penjepit kertas, dan kartu ujian sudah aku siapkan. Baju dan celana sudah rapi dan licin karena disetrika, sepatu hitam sudah aku semir sejak dari subuh. Waktu aku menginjak gerbang di pintu masuk gedung, dadaku terasa sesak, aku bergetar; bauran antara kecemasan akan kompetisi dan rasa haru yang mencucuk, haru bahwa aku masih bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, dan masih berpeluang menginjakkan kaki di kampus yang dari dulu selalu gagal aku taklukkan.

***

“Bung, tolong bawa saya ke Fakultas Sastra,” / “Sekarang namanya bukan Fakultas Sastra bung, tapi FIB alias Fakultas Ilmu Budaya,” lalu bis kuning membawaku keliling kampus dan berhenti di FIB. Ini dia kampus yang mengkhianati nasib itu, ini adalah kasih tak sampai, sudah dua kali ikut UMPTN, dua kali pula gagal menembus kampus ini. Sekeras apa pun aku belajar, ujung-ujungnya pasti terduduk layu di depan koran pagi, arus darahku melemah, ditertawakan mereka yang nomor ujiannya tercetak di koran pengumuman. Aku sudah lupa bagaimana ceritanya sehingga nasib akhirnya membawaku ke sebuah desa di pinggiran kota Bandung, aku terdampar di Politeknik Gajah Duduk.

Pagi ini, sembilan tahun setelah nasib menolakku untuk belajar di kampus ini, akhirnya aku berhasil menjejakkan kaki di sini, aku hirup udara sebanyak-banyaknya, luar biasa, begini rupanya udara yang mengambang dan bergerak di sekitar orang-orang yang sedang belajar sastra, sangat anggun dan menyegarkan. Dadaku gembung sekaligus perih, cita-cita yang dibelokkan nasib memang sakit tak terkira. Beberapa orang mahasiswa terlihat sedang berselancar di internet, di tengah taman yang menyejukkan mata. “Bagaimana bung, apakah wajah mereka memancarkan aura novel?” / “Tidak terlalu bung, malah sepertinya masih lebih bagus tulisan kau daripada tulisan mereka,” aku kemudian duduk pada sebuah kursi di taman, di sisi gedung Departemen Sastra. Tadinya aku berniat mau mengeluarkan laptop, tapi tidak jadi, sebab aku tidak punya. “Bung, apakah syarat mengikuti SPMB dibatasi usia?,” / “Saya kira tidak bung,” kemudian diam, tanpa dialog.

Aku kemudian berdiri dan berjalan menelusuri setiap sudut Departemen Sastra. Semakin lama perasaanku semakin ngilu, begini rupa nasib telah memperlakukanku dengan sangat buruk. Aku duduk terpekur di salah satu sudut bangunan dan merasakan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba banyak wajah dan suara mengepung penglihatan dan pendengaran. Wajah-wajah para penulis novel, penulis cerpen, penulis puisi, penulis kritik sastra, dan masih banyak lagi wajah-wajah lain yang mengepung. Mereka semuanya mengeluarkan suara yang seragam, mirip gumam, “Kenapa kamu tidak kuliah di sini..?!”. Suara itu semakin lama semakin keras, mereka meneror dengan pertanyaan yang menyebalkan. Aku ingin menjawab pertanyaan mereka dengan teriak yang sangat keras, “Kampus ini tidak mau menerimaku..!!!”. Tapi itu urung aku lakukan, aku takut ditangkap satpam dan diusir dari kampus ini.

Aku akhirnya berlari, kembali ke taman dan mendapati kawanku yang masih duduk di sana. Tak ada dialog, aku sibuk dengan pikiranku. Aku kaget, aku melihat bayangan berkelebat, sosok seorang perempuan berkerudung. Bayangan itu semakin lama semakin nyata, dan ternyata perempuan berkerudung itu adalah Helvy Tiana Rosa. Dia tengah berjalan menuju Departemen Sastra, tangannya memegang buku “Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah”. Aku berdiri dan mencoba mengejarnya, tapi dia tiba-tiba menghilang. Aku kembali duduk. Angin berhembus pelan, aroma pohon membuatku ngantuk. Dalam kondisi mata yang semakin berat, tiba-tiba aku dikagetkan kembali dengan bayangan yang berkelebat, kali ini sosok seorang laki-laki berambut panjang. Dia juga berjalan menju ke arah Departemen Sastra. Aku langsung bangun berdiri dan berlari mengejarnya, aku semakin dekat dengan laki-laki itu, aku mengenalnya, dia adalah Seno Gumira Ajidarma, dia memegang buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara”. Tapi dia pun kemudian menghilang. Aku kembali dan terduduk lemas di kursi taman.

Kawanku diam saja, dia tak mengomentari apa yang aku lakukan. Tapi dia kemudian berbicara, “Bung, kalau kau kuliah lagi, usiamu bagaimana?. Ingat bung, ada agenda hidup lain yang harus kau jalani. Bukankah manusia itu diciptakan untuk berpasang-pasangan?, apakah kau lupa pada Ar Rumm ayat 21?, pada Al Baqoroh ayat 187?. Lagipula, sampai kapan semangatmu akan bertahan” / “Melawan terlambat bung, setiap hari adalah baru. Nanti, siapapun dia yang akhirnya menjadi Olva, tak ada yang boleh menghalangi mimpiku. Dan kau bertanya padaku tentang semangat, ketahuilah, semangatku untuk belajar sastra seperti api abadi di Mrapen ” Dia diam. Rasa kantukku sudah hilang, tapi hatiku masih perih, bahkan para penulis yang tadi sempat aku lihatpun ternyata hanya halusinasi, mereka hanya hadir dalam angan-angan, mereka tidak nyata. Mereka seperti ikut berkonspirasi memojokkanku. Keadaan ini mebuat emosiku naik dan meledak, detik itu juga aku kemudian bersumpah dalam hati; suatu hari nanti, kampus ini akan aku taklukkan.

Semenjak itu waktu seperti berjalan lambat, dia seumpama kereta tua yang kepayahan membawa puluhan gerbong. Aku tidak sabar menunggu pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri dibuka. Sementara itu, setiap hari, sepulang kerja dan setiap hari libur, aku selalu belajar keras dan habis-habisan. Aku kerahkan segala kemampuanku, aku patuhi nasihat Ahmad Fuadi; aku melebihkan usaha di atas rata-rata. Aku tidak mau gagal untuk yang ke tiga kalinya. Dia, kampus berjaket kuning itu harus tahu, inilah aku; aku dibesarkan di tengah keluarga guru yang gandrung pendididkan. Aku tumbuh dalam banyak peristiwa ketika bapakku menggadaikan satu persatu harta bendanya sampai habis demi untuk membela pendidikan. Kalau dia, kampus berjaket kuning itu menganggap aku akan menyerah hanya karena sudah dua kali aku gagal menaklukkannya, maka dia salah besar.

Waktu pendaftaran datang, aku hanya memilih satu jurusan : Sastra Indonesia UI, dengan penuh semangat aku membubuhkan kode jurusan pada formulir pendaftaran : 01201191. “Kok satu mas, kan jatahnya dua. Pilih satu lagi mas buat cadangan,” demikian petugas pendaftaran menasehatiku. “Tidak usah mbak, cukup satu saja,” / “Sayang loh mas, aku bukannya ngedo’ain, tapi siapa tahu di kampus ini mas tidak lolos, kan masih ada peluang di tempat yang lain,“ dia masih terus menasehatiku. Tapi aku tak bergeming, aku hanya memilih satu jurusan saja. Mbak petugas penerima pendaftaran akhirnya menyerah.

***

Dan hari yang ditunggu akhirnya datang. Semalam aku tak bisa tidur, gelisah, menunggu jejentik jam mengantarkan malam berubah menjadi pagi. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian. Mataku merah dan pedas. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi, aku sudah di lapak tukang koran di  pinggir jalan, bahkan tukang korannya pun belum datang. Udara terasa dingin, tapi aku yakin, rasa dingin ini bukan datang dari cuaca Jakarta walaupun waktu itu langitnya mendung, tapi dari dalam diriku yang gelisah, cemas, dan khawatir. Aku menyalakan cigarette untuk mengusir semuanya. Waktu tukang koran datang, aku semakin menggigil, kuhisap cigarette dalam-dalam. Setelah transaksi, aku langsung membuka koran itu di pinggir jalan. Aku susuri setiap nomor urut peserta ujian, angka terus bergerak, kartu ujian aku pegang di tangan sebelah kiri. Dan tiba-tiba aku berhenti pada sebuah nomor. Aku cocokkan nomor itu dengan nomor yang ada di kartu ujianku. Mataku tajam, dadaku gemuruh, pandanganku perlahan menjadi kabur, aku rasakan ada yang menggenang hangat dipelupuk mataku, aku menangis. “Allohu Akbar!!,” dengan tangan dan bibir gemetar aku bertakbir, nomor ujianku tertera di koran itu. Aku lulus..!!!.

Aku kemudian berlari ke tengah jalan yang masih lengang, sementara langit yang dari tadi mendung mulai menghamburkan serbuk hujan. Aku meniru gaya Ikal dalam novel Padhang Bulan, juga meniru kata-katanya. Aku menengadah dan kepada langit ku katakan : “Inilah aku!. Putra bapakku!. Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan!. Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin, karena aku belum menyerah!!. Tak kan pernah menyerah!!. Takkan pernah!!”. Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karena kemudian aku tersadar bahwa nomor jurusan yang aku tulis salah, nomor 01201191 ternyata bukan nomor jurusan Sastra UI. Aku keliru, nomor belakangnya ternyata terbalik. Seharusnya aku menulis nomor 01201119. Nasib kembali berkhianat, kali ini dia hanya menukar posisi dua angka saja untuk membelokkan cita-citaku.

Aku terduduk lemas. Aku menerawang. Mataku kembali terasa hangat. Tapi kali ini aku menangis bukan karena haru, tapi kesedihan yang tak tertanggungkan. Setelah badai di pedalamanku sedikit reda, aku mengambil buku panduan yang memuat nama-nama jurusan di seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia beserta nomor kodenya. Jelas tertulis di sana, bahwa kode jurusan Sastra Indonesia UI adalah 01201119. Lalu nomor 01201191 jurusan apa?, universitas apa??.

Tak pernah disangka sebelumnya, ternyata kode 01201191 adalah kode untuk jurusan Quantum ITB!!. Kepalaku langsung pening. Sangkaanku, jurusan ini pasti berhubungan erat dengan ilmu hitung, terutama fisika. Membayangkannya saja membuatku menjadi mual, belum sempat aku berlari ke toilet, aku sudah muntah di kamar. Kepalaku berat sekali, seperti habis dihantam palu godam. Kesadaranku melemah, berjuta kunang-kunang terbang rendah di depanku, pandanganku menjadi gelap, aku rebah dan kepalaku menghantam dinding tembok kamar. [ ]



No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai