12 July 2012

Penghuni Kost Ny. Endeus

Setiap kali saya melintas di jalan kecil yang menghubungkan warung nasi Padang dengan mesjid Al Falah, pasti saya dapat melihat jajaran jendela kamar kost-kostan mahasiswa, ada yang besar dan bersih, ada pula yang kecil serta kusam berdaki tebal. Kalau malam sudah larut menjelang pagi, jendela-jendela itu menjadi tertutup dan gelap menandakan penghuninya sudah terlelap tidur atau barangkali tidur bareng dan mengendap-ngendap, tapi kedengarannya sama saja tidak ada suara gaduh bahkan terasa sunyi atau mungkin sengaja dibikin sunyi, saya tidak terlalu tahu karena saya tidak pernah dengan sengaja mengintip semua yang ada di balik jajaran jendela itu. Dan jalan kecil itu selalu saja sepi kalau telah lewat jam sembilan malam, orang-orang yang dari sore nongkrong bergerombol sudah pada masuk rumah dan mungkin meneruskan gosipnya di dalam, saya kurang tahu karena saya tidak pernah dengan sengaja menguping obrolan mereka. Tak ada yang menarik perhatian saya dari jajaran jendela dan jalan kecil itu kecuali sebuah jendela yang selalu terbuka baik siang maupun malam. Jendela itu berada di lantai dua karena saya harus agak melihat ke atas untuk mengetahuinya, mengetahui bahwa jendela itu terus-menerus terbuka. Pertama kali saya melihatnya belum menarik perhatian bahkan biasa saja, tapi setelah beberapa kali saya melewati jalan kecil, maka heranlah saya pada jendela kamar yang selalu terbuka itu. Lalu saya menerka-nerka, siapa orang yang ada di balik jendela terbuka itu?.

Pernah suatu saat saya sengaja pura-pura beli nasi goreng yang kebetulan tukang dagangnya sedang mangkal pas di bawah jendela yang terbuka incaran saya, sayup-sayup terdengar ada suara musik dari dalamnya, saya buka kuping ini lebar-lebar tapi terdengarnya samar sekali karena beradu dengan suara kompor minyak gas dan suara wajan tukang nasi goreng, ingin rasanya saya pukul kepala tukang nasi goreng karena sudah mengganggu operasi penyelidikan saya. Dan penyamaran berakhir ketika nasi goreng sudah selesai dibungkus, nasib nasi goreng berakhir di tong sampah karena saya memang sedang tidak lapar, tidak lama kemudian ada juga seekor kucing mengaduk-ngaduk tong sampah, tapi saya tidak mau tahu soal kucing yang kelaparan. Esoknya saya sengaja lewat jalan kecil yang semalam menjadi tempat mangkal tukang nasi goreng, ketika pas berada di bawah jendela incaran, saya pura-pura membetulkan tali sepatu padahal tidak terjadi apa-apa, sengaja saya pakai sepatu padahal cuma mau beli nasi Padang. Tapi sialan tak terdengar suara apa-apa dari balik jendela yang terbuka, yang terdengar hanya suara terompet yang ditiup anak-anak kecil dari kejauhan, padahal tahun baru masih jauh karena sekarang baru meil. Lama-lama segan juga jongkok sambil pura-pura membetulkan tali sepatu, dan karena saya baru ingat bahwa sepatu yang dipakai adalah pantovel tanpa tali. Lalu pergilah saya ke warung nasi Padang dan pulangnya tidak lupa mengawasi jendela terbuka yang misterius itu. 

Rumahnya bernomor 177 blok 8, demikian yang saya lihat di dinding tembok lantai satu tempai si jendela terbuka menumpang hidup. Di lantai satu juga saya tidak melihat ada penghuni yang suka keluar, rumah itu sepi dan seperti tak ada penghuninya padahal di halaman ada tiga buah motor sedang parkir. Saya kemudian pura-pura cari kost-an dan kebetulan ada seorang ibu sedang menunggu warung tidak jauh dari si jendela terbuka incaran saya. Kebetulan lagi si ibu warung membawa saya ke rumah bernomor 177 dan diperkenalkan dengan pemiliknya. Katanya ada satu kamar lagi yang kosong di atas, kemudian saya dibawanya ke atas, inilah saatnya untuk mengetahui siapa penghuni jendela terbuka siang dan malam itu, begitu pikir saya. Ternyata di lantai dua itu pintu kamar si jendela terbuka tertutup rapat sehingga saya tidak bisa melihat manusia di balik pintu. Saya kemudian tanya si pemilik rumah yang belakangan diketahui bernama Ny. Endeus, katanya penghuni kamar itu seorang mahasiswa di kampus yang tidak jauh dari kelurahan itu. Saya coba tanya namanya tapi sayang Ny. Endeus tidak mau kasih tahu, mahasiswa itu tidak mau jika namanya disebarluaskan katanya. Lalu saya tanya barang kali Ny. Endeus tahu nomor teleponnya yang kemudian dijawab : “boro-boro kasih nomor telepon, namanya aja ga boleh disebarluaskan”. Karena kamar yang “bakal menjadi” kamar saya terlalu kecil dan kurang sirkulasi udara, maka saya tidak jadi menyewa kamar kost-an Ny. Endeus, juga terutama karena saya hanya pura-pura mencari kamar. 

Karena kalau setiap hari melintasi jalan kecil dan mengawasinya dengan tindakan pura-pura yang beragam itu sangat merepotkan, akhirnya saya putuskan untuk pindah kost-an ke dekat rumah si jendela terbuka, sengaja saya tidak serumah dengan si jendela terbuka agar penyelidikan lebih asyik dan berseni. Tepat di sebelah kiri rumah yang baru saya sewa ada satu rumah yang berhadapan langsung dengan rumah si jendela terbuka, jadi arah rumah si jendela terbuka dengan kostan saya berbentuk seperti diagonal dan itu cocok buat operasi penyelidikan. Setiap hari dari balik jendela kamar saya yang berwarna gelap, saya arahkan pandangan pada si jendela terbuka, siapa tahu ada kepala nongol untuk meludah atau ada tangan buat buang puntung rokok, tapi setelah satu minggu mengawasi ternyata hal tersebut tidak ada. Dan saya masih punya stok kesabaran yang sangat banyak. Suatu hari ada yang turun dari lantai dua rumah si jendela terbuka itu, seorang laki-laki berseragam rapi seperti mau berangkat kerja, kemudian saya tanya apakah dia penghuni kamar yang berjendela selalu terbuka, dia jawab bukan dan dia juga tidak mau kasih tahu nama penghuni sebenarnya ketika saya tanya. Apakah si penghuni jendela yang selalu terbuka itu perempuan atau laki-laki sama saja, dia juga tidak mau kasih tahu.

Sore hari ketika anak-anak mahasiswa sudah pada pulang dari kampusnya masing-masing, saya datangi rumah si jendela terbuka itu dan permisi sama si ibu kost bahwa saya mau berkenalan dengan orang yang berjendela selalu terbuka itu. Tapi rupanya dia sedang tidak ada di kamar, sebab si ibu kostnya bilang dia sedang pulang kampung. Kampungnya di mana rupanya tidak menimbulkan rasa ingin tahu si ibu kost sehingga saya pun tidak tahu di mana kampungnya itu. Kapan dia pulang pun si ibu kost tetap saja tidak tahu, sebab dia terlalu sibuk mengurus anak semata wayangnya yang perempuan, yang kebetulan sedang mekar-mekarnya, yang menyebabkan si ibu kost harus ekstra memperhatikan setiap kegiatan anaknya, mungkin dia takut apabila anaknya kemudian sering main ke dugem atau mungkin takut jika anaknya pacaran sama laki-laki yang brengsek yang akhirnya akan merampas masadepan anaknya. Tapi saya lihat anaknya memang sering keluar malam dengan berdandan seksi dan minyak wangi melumuri seluruh tubuhnya, saya tahu betul sebab setiap malam minggu saya sengaja nongkrong di teras rumah kontrakan saya yang baru dan sering melihat anak ibu kost itu keluar dengan wangi-wangian serta dandanan yang menggiurkan. Tapi saya tidak perlu betul memperhatikan anak ibu kost si jendela terbuka, yang saya perhatikan hanyalah penghuni jendela yang selalu terbuka, yang sampai sekarang belum diketahui namanya dan saya pun belum tahu dan belum pernah melihat orangnya.

Tak terasa sudah hamper tiga bulan saya melakukan penyelidikan pada si penghuni jendela yang selalu terbuka, dan kemudian saya berpikir buat apa saya pusing-pusing mencari tahu si penghuni jendela aneh itu?. Iya, akhirnya saya bisa juga berpikir demikian dan mulai keesokan harinya saya hentikan segala aktivitas penyelidikan itu. Tapi tak disangka sebelumnya, ketika saya mulai menghentikan penyelidikan, tiba-tiba saya melihat ada tangan membuang abu rokok dari jendela yang selalu terbuka itu, dan ini rupanya sangat menggoda saya untuk mengingkari penghentian aktivitas penyelidikan. Saya langsung menuju ke TKP dan mengetuk pintu rumah dari lantai satu. Dari balik daun pintu itu muncul anak si ibu kost dengan pakaian menggoda iman, tanpa basa-basi busuk saya langsung minta izin mau kenalan sama si penghuni jendela terbuka, dan si pakaian penggoda iman mengijinkannya, karena saya kenalan atau tidak dengan si penghuni jendela terbuka bagi dia tidak ada manfaatnya. Sesampainya di lantai dua tepat di depan pintu kamar penghuni jendela terbuka itu saya diam atur nafas, seperti pemburu sedang membidik sasaran tembaknya. Sebelum pintu diketuk tiba-tiba pintu sudah terbuka duluan dan kawan lama saya tengah berdiri di balik pintu kamar itu. Kamarnya sedang gaduh waktu itu. Ada suara musik dari computer, ada bunyi ringtone hp, ada bunyi berisik dari televisi dan dering alarm jam. Setelah saya masuk semua bunyi-bunyian berhenti kecuali suara berisik televisi yang sengaja tidak dimatikan oleh kawan lama saya. Sengaja tidak dimatikan sebab acara infotainment sedang ditayangkan di sana. [ ]

Uwa, Mei ‘08

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai