13 July 2012

Pemilukada Jakarta (Babak 1) : Parade Blunder, Telenovela, dan Hancurnya “Penguasa”

Untunglah setelah Piala Eropa lewat ada Pemilukada Jakarta. Ini pengganti yang sebanding, kawan. Setidaknya bagi para maniak judi, sebelum tanggal 11 Juli 2012 mereka masih bisa buka lapak untuk pasang taruhan jagoannya masing-masing. Dan ketika hasil quick count mengindikasi bahwa Pemilukada akan terjadi dua putaran, maka bersoraklah para bandar dan maniak judi itu. Berlebihan?, ah tidak juga. Ketika politik telah membuat sebagian masyarakat muak dan jenuh, maka mereka menjadikannya olok-olok sekaligus hiburan dengan memasang taruhan. 

Mari kita tinggalkan dulu meja judi, sebab calon yang akan ikut ke putaran dua telah berhasil diidentifikasi para lembaga survey yang semakin hari semakin canggih mengotak-atik ilmu statistika.

Tapi sebelumnya kita mundur dulu ke belakang. Ada apa dengan Golkar?. Kenapa para jagoan manuver politik yang sudah terlatih puluhan tahun itu begitu gegabah memasang Alex Noerdin?. Mungkin benar dia berprestasi dalam memimpin Sumatera Selatan, tapi lupakah mereka kepada efek sakti lampu sorot media?. Masalahnya, yang sering muncul ke permukaan adalah kasus-kasus yang kurang baik (untuk tidak mengatakan busuk). Ekspos media masih lekat memberitakan kasus perselingkuhan dan kasus wisma atlet. Kalau masalah publik Jakarta tidak terlalu mengenalnya, toh Jokowi pun bukan warga Jakarta, bahkan tidak punya hak pilih ketika Pemilukada berlangsung. Artinya, nama baik yang muncul ke permukaan, yang diberitakan media, kalah dominan oleh kasus-kasus yang membunuh karakternya. Nah, pertanyaannya : Golkar sebagai partai yang kenyang pengalaman kenapa melakukan blunder seperti ini?. Dan lihatlah hasilnya, pasangan Alex-Nono kalah telak oleh duet maut Jokowi-Ahok. Mereka bahkan hanya menempati dasar klasemen bersama dua pasangan independen.

Sementara itu tim sukses Foke-Nara (Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli) melakukan blunder yang tak kalah hebatnya. Gembar-gembor dalam kampanye spanduk bahwa pemilukada akan berlangsung satu putaran dengan syarat pasangan tersebut menang di atas 50 persen telah membuat para pemilih dari kelas menengah malah asyik berlibur dan segan mendatangi TPS. Mereka berpikir, kalau toh akan berlangsung satu putaran buat apa juga memberikan suara, sudah pasti Foke lagi yang akan maju jadi Gubernur, mendingan pergi berlibur. Dan lihatlah hasilnya, prediksi beberapa lembaga survey yang awalnya menjagokan Foke-Nara ternyata hancur berantakan karena sodokan Jokowi-Ahok. 

Blunder kemudian bersambung dengan telenovela. Ketika para pesaing Foke-Nara ramai-ramai dengan vulgar menyerang incumbent, masyarakat Jakarta malah simpati kepada pasangan yang adem-ayem saja. Lihat buktinya : Hendarji dan pasangannya yang selama masa kampanye memasang spanduk dengan tulisan “Jakarta jangan lagi BerKuMis (Berantakan, kumuh, dan miskin) malah menjadi penghuni dasar klasemen sementara.  Sementara pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin yang rajin menyerang  incumbent di beberapa media elektronik dan ketika acara debat, malah menjadi runner-up dari bawah. Hal sebaliknya terjadi pada pasangan Jokowi-Ahok dan Hidayat-Didik, meskipun mereka juga kadang-kadang menyerang (tapi dengan lebih santun), hasilnya malah lebih menggembirakan. Masing-masing menempati ranking pertama dan ketiga. 

Para penyerang incumbent yang menyerang dengan keras nampaknya telah lupa bahwa masyarakat kita adalah masyarakat telenovela. Masih hangat di ingatan kita bagaimana cerita sukses SBY dan para fansnya merajai Pemilu selama dua periode terakhir ini. Ketika konflik SBY-Mega yang waktu itu masih berposisi Menteri dan Presiden mencuat di media, serta-merta masyarakat jatuh simpati kepada SBY yang dinilai “dizholimi” Mega Sang Presiden. Dengan dibumbui politik pencitraan maka sempurnalah SBY mendulang puluhan juta suara dan melenggang manis ke istana selama dua periode kepemimpinan Presiden. Produk budaya hiburan masyarakat kita masih didominasi oleh telenovela dan sinetron, maka ketika kompetisi politik berlangsung pun produk hiburan ini ikut dibawa-bawa. 

Lalu apa kabar dengan PKS?. Partai yang merajai ibukota di Pemilu legislatif 2004 ini malah kedodoran di Pemilukada yang bahkan calonya adalah mantan ketua MPR. Barangkali mereka kelewat percaya diri, ketika tahun 2007 jagoannya (Adang-Dani) yang hanya diusung oleh satu partai hanya kalah tipis dari Foke-Prijanto yang diusung puluhan partai politik, mereka mungkin berpikir bahwa Pemilukada tahun ini akan lebih mudah karena suara pesaing akan terpecah. Justeru yang terjadi malah sebaliknya, suara konstituen merekalah yang akhirnya terpecah dan mengalir ke pasangan lain. Bagi penguasa suara ibukota ini adalah kekalahan telak dan menyakitkan. 

Para pengamat politik seringkali berkhotbah tentang pergeseran konstelasi politik para peserta Pemilukada tanpa lebih jeli melihat peta suara masyarakat Jakarta yang selalu dinamis dan sekaligus sulit ditebak. Di wilayah perkotaan seperti Jakarta para pemilih rasional jumlahnya sangat melimpah dan mereka sangat dinamis melihat realita perkembangan politik. Jika mau melihat ke belakang, bahkan di zaman Orde Baru sedang berjaya, partai sekelas Golkar pun seringkali kesulitan menaklukkan ibukota, karena yang dominan malah partai hijau yang bernama PPP. Ketika reformasi masih hangat (1999) ibukota berhasil dikuasai PDI Perjuangan, tapi lima tahun kemudian partai yang kerap dicurigai sebagai partai transnasional dan masih berusia sangat muda justeru berhasil mendepak para jagoan tua.   
           
Ini Jakarta, Bung. Di sini pertarungan strategi politik selalu menuntut para think-tank handal untuk berpikir dan bertindak dengan jitu demi memenangi setiap kompetisi. 

Selamat kepada pasangan dan tim sukses Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Sampai bertemu di putaran kedua. Pastikan komunikasi politik, stok strategi dan stok logistik berjalan dan tersedia dengan cukup. Hindari praktek money politik, dan jadikan Pemilukada Jakarta sebagai Pemilukada yang berjalan jujur, adil, dan fair. Ingat, masyarakat Jakarta hanya menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik, mereka tidak membutuhkan janji-janji kosong. Selamat berkompetisi, Bung!!. [ ]            

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai