03 July 2012

Pantai

Setiapkali jam kerja selesai, yang dia tahu hanyalah pulang. Pulang ke rumah sederhana itu, disambut istri dan anak-anaknya yang manis. Dia sudah meninggalkan masa-masa mudanya yang penuh dengan gejolak, gelisah, cemas, dan ketidakpastian. Ketika dia menikah, surga mini segera menyambutnya. Firdaus itu ternyata tidak dibangun dari retorika, tapi dari keluarga yang hangat oleh saling pengertian, yang membuatnya merasa enggan untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Kebahagiaan dia gali dari mataair yang mengalir jernih di sela-sela komunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Atau bahkan ketika dia diam, hanya merasakan sejuknya ketika anak-anaknya belajar ngaji, memperebutkan buku cerita, dan bermain di bawah pelukan hujan. Waktu istrinya mengandung, dia tak pernah banyak berjanji, hanya menemani dan melindunginya dengan tulus. 

Kawan-kawannya mulai banyak yang kecewa, karena dia sudah tidak bisa lagi diajak olah vocal di ruangan berpendingin, nongkrong berlama-lama di warung kopi, atau hanya sekedar menghabiskan sebatang cigarette di ujung sore. Dia sudah meninggalkan semuanya. Kini rute kehidupan sehari-harinya begitu sederhana : rumah – tempat kerja – mesjid. Hanya sesekali saja dia pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buah cerita anak sebagai hadiah kecil bagi anak-anaknya yang manis.

Setiapkali kawan-kawannya bertanya, “ko lu ga ikut?”, dia pasti menjawab, “mau main sama anak gw.” 

Maka di sebuah sore yang baru saja tinggalkan rintik hujan, tidak jauh dari tanah lapang, dia mendapati dirinya tengah menemani anaknya yang sedang belajar sepeda. Sambil berjalan pelan, dia memegang stang dan jok, sedangkan anaknya tertatih mengayuh pedal. Ketika tangannya dilepaskan dari stang dan jok, dan keseimbangan anaknya belum terjaga, maka sepeda berjalan oleng sebelum akhirnya terhenti di tanah lapang yang sedikit basah. Anaknya terjatuh ke rumput ketika dia berusaha mengejar sepeda. 

Dari dulu dia tidak pernah bisa romantic, tapi setiapkali anaknya yang masih bayi terbangun di malam hari karena pipis, dia begitu cekatan mengganti popok dan menidurkannya kembali, sementara istrinya terlelap karena lelah setelah seharian mengurus anak. Saat pagi datang dengan tergesa, matanya masih merah, tapi senyum itu masih tersisa.

Jika surga kelak, tempat yang dijanjikan itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah berhasil melewati bermacam-macam ujian dari Tuhan, maka apakah bisa dianalogikan dengan perjalanan menuju keluarga yang menentramkan?. Apakah memang sama harus melewati dulu rute yang panjang, penuh cadas, dan jurang menganga di kanan-kirinya?. Ah, entahlah. Lebih baik menyeduh kopi dan membakar cigarette saja. Oh tidak, saya sudah berhenti berkawan asap. [ ]
     

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…