14 July 2012

Menuju Rumah

Sekali waktu, Bung Rano, kawan saya pernah menyodorkan sebuah pertanyaan tajam : “Bung ini, apalagi yang kau tunggu, segeralah menikah. Kalau alasannya belum cukup, belum cukup apalagi?, semua orang yang menikah pasti dalam keadaan belum cukup. Nanti setelah kau punya istri semuanya akan disempurnakan.” Dan saya, seperti biasa, hanya diam tak bisa menjawab. Tapi tiba-tiba saya teringat sebuah kata-kata yang sering didengar, entah siapa yang mula-mula mengatakannya : “semua akan indah pada waktunya.”

Lebaran dua tahun yang lalu, seperti biasa saya pulang kampung. Pada sebuah sore, ketika tengah membaca buku di teras depan, tiba-tiba Bung Dodo, kawan sewaktu di Madrasah Tsanawiyah datang berkunjung. Lalu ngobrol kesana-kemari, dan berujung pada sebuah pertanyaan yang dilontarkannya : “Bung ini sudah menikah belum.” Saya menggeleng. “Ah, kawan, apalagi yang kau tunggu, segeralah. Apakah kau tak tertarik untuk segera menikmati indahnya hidup berkeluarga?.” Saya hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba petang hampir dijemput maghrib. Dia pamit pulang.

Ponsel berbunyi, terdengar suara seorang kawan, Bung Abu. Tanya kabar, saya jawab : “sehat”. Panen tertawa dari cerita-cerita masalalu, dan terhenti di sebuah pertanyaan klasik : “Kapan Bung mau menikah?. Segeralah, ayah Bung sudah meminta menantu perempuan.” Dia bertanya dengan nada bercanda, tapi terdengar serius di telinga saya. Saya jawab, “nantilah, kawan.” Dia menyerang lagi : “ah kau ini, selalu saja nanti-nanti, tak maukah kau menjadi seperti kawanmu ini, sudah jadi seorang ayah kawanmu ini, Bung.”

***

Saya memanggilnya Wangihujan. Cantik adalah urusan mata, sedangkan ketenteraman bersemayamnya di jiwa. Siapa yang ingin menjadi petualang?, saya hanyalah orang rumahan. Siapa yang tidak ingin mengikuti sunnah kanjeng nabi?, setiap orang yang masih sendirian pasti merindukan saat-saat itu, saat ketika akhirnya perempuan menjadi halal bagi laki-laki, dan laki-laki menjadi halal bagi perempuan. Ini melebihi kisah drama romantik, sebab bukan sekedar jejalih cerita mesra, tapi lebih dahsyat lagi : mendirikan lembaga kehidupan yang bernama keluarga. Tempat yang mula-mula melindungi anak manusia dari lebat dan teriknya pergaulan hidup.

Kemudian perempuan itu menjadi calon ibu. Di rahimnya yang kuat ada yang bersemayam dengan nyaman. Nama tempat itu sama dengan nama Tuhan : Rahim = Penyayang. Maka tak berlebihan jika perempuan selalu didesain dengan sifat penyayang yang luar biasa. Dalam lindungan rahim itu, memasuki bulan ke empat, ruh ditiupkan. Sang calon ibu membawa dan melindungi ruh baru yang sangat disayanginya. Tapi kondisi fisik memang terus bertambah turun. “Wahnan ala wahnin”, payah yang bertambah-tambah.

Sementara yang laki-laki dihinggapi cemas yang luar biasa. Inilah kelahiran anak pertama. Nama sudah disiapkan jauh-jauh hari. Apapun nanti jenis pirantinya, si calon ayah telah siap dengan nama yang berkarakter. Bukan tidak tenang, tapi bagaimana rasanya menunggu kehadiran sang ahli waris menghirup dunia?. Maka setiap laki-laki brengsek harus kerap diingatkan tentang cemasnya menunggu kelahiran anak pertama.  Proses di mana sang istri berjuang antara hidup dan mati.

***

Saya berdiri di atas kaki sendiri. Merindukan keluarga yang mengabadi sambil bekerja mengisi pundi-pundi. Barangkali waktu telah menjadi pembunuh berdarah dingin, tapi saya tidak menyerah. Saya bersabar menanti saat itu tiba. Dan saya tidak tinggal diam, tapi berjalan, bahkan berlari menuju rumah ketenteraman itu. [ ]   

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai