12 July 2012

Manusia-manusia Sunyi [02]

Orang-orang memanggilnya Darman, tapi saya selalu memakai embel-embel mang (paman), meskipun sebenarnya dia bukan adik kandung ibu atau pun bapak saya, tapi yang jelas dia masih saudara saya, bahkan rumahnya pun sangat berdekatan dengan rumah saya. Maka tak heran jika saya sering main ke rumahnya dan masuk ke kamarnya untuk melihat-lihat koleksi buku yang cukup banyak, ada buku Emha Ainun Nadjib di sana. Ada juga poster GNR yang sedang menulis sambil duduk itu. Kamarnya berukuran sekitar 3x3 dan bersuasana gelap, apalagi kalau langit sedang mendung. Di kamarnya itu, akhir-akhir ini dia sering melihat langit-langit kamar sambil terbaring, sambil meresapi suasana kamarnya yang hening dan senyap, sementara orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Mungkin sekitar tahun 1976 dia dilahirkan, sebab seangkatan dengan kakak saya yang sudah menikah itu. Sejak SD dia memang pintar, sehingga salah satu saudaranya membawa dia ke kota untuk melanjutkan sekolah di sana. Tapi saya tidak tahu prestasi dia selanjutnya, sebab saya pun harus punya kesibukan, harus punya kegiatan yang disebut sekolah, biar tetangga tidak menyebut saya anak yang putus sekolah. Apalagi waktu itu sedang gencar-gencarnya Wajib Belajar 9 Tahun, maka demi patuh pada peraturan pemerintah, akhirnya saya disuruh sekolah juga sama bapak. Dia sekolah, saya sekolah. Sekolah di mana-mana. Pengangguran di mana-mana.

Orang-orang di kampung saya pasti terkejut dan tidak terima, jika akhirnya pada suatu hari Darman pulang kampung, bukan untuk liburan, tapi untuk pulang mencari penghidupan. Semua orang tahu bahwa kampung saya itu bukanlah tempat yang baik untuk mencari nafkah, hampir semua pemuda di sana pergi ke kota untuk mencari kerja, sedangkan dia malah pulang kampung untuk mencari penghidupan. Maka bergosiplah orang-orang itu membicarakan Darman, si anak pintar yang telah gagal dalam penghidupannya di kota. Tapi buat apa mendengarkan ocehan orang lain, lebih baik dengarkan saja kata hati, begitu pikirnya. Akhirnya dia diterima sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta di kampung itu. Dan kehidupan baru itu dijalaninya. Tahun demi tahun begitu, sampai akhirnya dia merasa bosan dengan pekerjaannya itu. Tanpa pikir panjang akhirnya dia berhenti sebagai guru honorer dan menyibukkan diri dengan hobi barunya : mancing ikan di sungai. Tapi lama-kelamaan mancing di sungai kurang menantang pikirnya, maka pindahlah dia ke arena lotre pancing, arena perjudian di tengah kecipak ikan itu. Dan karena dia sudah tidak kerja, sudah tidak ada sumber penghasilan lagi, maka uang untuk lotre pancing itu dia minta ke ibunya. Sedangkan ibunya tidak tahu bahwa uangnya akan dipakai untuk membayar pendaftaran lotre pancing. Demikianlah hari-hari Darman selanjutnya berlangsung, tanpa kerja, tanpa kejujuran. 

Manusia yang dulu pintar itu, yang dulu menjadi harapan kampung itu kini terperangkap dalam nasib yang mendung. Apa sebenarnya yang menjadi impiannya, apa sebenarnya yang ada di batok kepalanya sehingga dia menjadi seperti sekarang ini, benar-benar saya tidak tahu. Buku-buku yang menumpuk di kamarnya kini menjadi kawan setianya, sebab kawan-kawan seangkatannya sudah pada pergi, sudah menuju impiannya masing-masing, anak-anak muda tetangganya pun entah kemana, mereka juga tidak ada, yang ada hanyalah anak-anak sekolah SD dan SMP, yang baginya bukanlah kawan sepadan untuk diajak bicara. Darman kini sering menyendiri di kamarnya yang 3x3 itu. Langit-langit kamar semakin banyak goresan dari air yang bocor waktu hujan. Pemuda itu kini terperangkap dalam dunianya yang sunyi dan tak berkawan, dan ini adalah tragedy social yang mungkin juga ada di sekitar kalian.

Waktu terakhir pulang kampung, saya dapati pemuda itu sedang mencuci baju di dekat sumur belakang rumahnya, sendirian. Waktu itu siang sekitar jam 13, seisi kampung sedang  sibuk dengan urusannya masing-masing, dan dia pun sibuk di dekat sumur itu. Sendirian tanpa kawan bicara. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai