12 July 2012

Manusia-manusia Sunyi [01]

Di pasar dekat alun-alun, dulu dia berjualan nasi, semacam warung nasi yang menjual macam-macam lauk dan nasi tentunya bagi para pedagang baju dan sembako yang berdatangan dari penjuru desa. Ada juga para karyawan kecamatan dan kewedanaan yang mengisi perutnya ke sana, ke warung nasi mak Engkom, lalu datang keuntungan atau laba hasil dari berjualan nasi tersebut, sebagai bekal nanti untuk dibawa pulang ke rumah. Laba yang tidak banyak harus dibagi-bagi pula dengan anaknya yang dua orang, yang kedua-duanya laki-laki, yang kedua-duanya pengangguran. Maklum lulusan SD, di kampung pula. Maka dua-duanya sampai usia 31 tahun waktu itu, masih juga mengandalkan ibunya, mak Engkom, untuk membiayai kehidupan sehari-hari yang hanya makan, minum dan rokok. Kebutuhan sederhana itu harus ditanggung mak Engkom dari laba jualan nasinya yang tidak maju-maju. Semenjak saya masuk SD untuk permulaan kali sampai sekarang sudah lulus kuliah, warung nasinya tidak maju, bahkan bangkrut dan habis tak bersisa. Maka sekarang saya sering mendapatinya, mendapati mak Engkom sedang melamun di pinggir kali, di dekat rumahnya yang gelap dan lembab.

Kali yang memanjang dari sumber mata air yang sudah kering di kaki bukit, melintasi juga kampung saya, melintasi juga halaman belakang rumah mak Engkom. Kali yang dari dulu hanya penuh dengan sampah dan kotoran manusia serta air keruh, tiap sore berhadap-hadapan dengan mak Engkom, entah apa yang ada di pikirannya, yang ada di lamunannya, mungkin masalalu, mungkin juga masadepan, saya tidak tahu persis. Tapi jika dilihat dari usianya yang hampir mendekati 70 tahun, mungkin dia sedang bercengkrama dengan masalalunya, dengan masa-masa mudanya yang meliuk-liuk.

Sebelum saya lahir, suami mak Engkom telah meninggal dunia atau lebih tepatnya menghilang, karena dia pergi dan tak pernah kembali, begitu cerita ibu saya. Waktu itu adalah ketika ada gejolak di Jakarta yang menyebabkan beberapa Jenderal Angkatan Bersenjata meninggal dunia oleh huru-hara, atau kakek saya lebih senang menyebutnya sebagai pengkhianatan partai politik katanya. Dan pada sebuah sore yang merah, suami mak Engkom mengibas-ngibaskan semacam kipas untuk mendinginkan tubuhnya yang gerah sehabis kerja, dan di kipas itu ada gambar palu aritnya, maka beberapa hari setelah meletus huru-hara di Jakarta, ternyata sampai juga apinya ke kampung saya. Dan di sunyi senyap siang yang panas, maka digiringlah suami mak Engkom ke sebuah truk yang berjejalan manusia untuk dibawa ke kota. Semenjak itu dia tak pernah kembali lagi ke lembaga kehidupannya, dia meninggalkan istri serta dua orang anak laki-laki yang sampai sekarang pengangguran. Lembaga kehidupan yang hancur itu akhirnya harus bertahan hidup dengan susah payah, sampai akhirnya berhasil punya warung nasi untuk melanjutkan hidup, sampai akhirnya sekarang bangkrut juga karena gelombang krisis ekonomi yang bertalu-talu menghajar rakyat kecil.

Rumahnya menghadap ke barat, membelakangi rahmat cahaya matahari di pagi hari. Lembab dan gelap di sana-sini sebagai kompensasi tidak bersentuhan dengan sinar mentari, bahkan beberapa dindingnya telah lepas terkelupas dan cat pudar melingkupi semesta rumah. Tapi yang hendak saya bicarakan adalah kali yang melintas di halaman belakang rumahnya. Ada juga pohon alpukat yang penuh ulat di dekat rumah, serta satu bangku kayu yang sudah tua tempat mak Engkom tua melayangkan tatapan kosongnya setiap hari, dari pagi sampai sore selalu begitu, setiap saya melewati bagian belakang rumahnya, maka setiap itu pula saya melihat dia, seorang manusia tua yang sorot matanya mulai pudar sedang mengenang-ngenangkan hidupnya yang berliku-liku. Tak ada seorang pun yang peduli untuk menyapa perempuan tua itu, seolah-olah dia adalah unsur sosial yang sudah tidak bermanfaat, yang sudah tidak ada artinya sama sekali, laku orang-orang memperlakukan Museum Pos yang sepi pengunjung.

Pernah pada suatu pagi yang masih meremang, ketika saya disuruh untuk membeli rokok, dan untuk sampai ke jalan desa, ke jajaran warung kelontongan, pastilah saya harus melewati rumah belakang mak Engkom dan mendapatinya sedang dalam penuh mendung raut mukanya. Seolah-olah hujan lebat akan turun di muka keriputnya, saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di langit jiwa orang tua itu. Kosong, dan tatapannya kosong masih seperti biasa, menerawang, menembus batas waktu yang entah kapan bermula dan entah kapan akan berakhir. Perempuan tua itu adalah manusia republik yang kian tersingkir di semak-semak zaman yang terus bergerak cepat meninggalkannya. Semakin hari, semakin tak nyaman saya melihatnya, melihat perempuan tua itu. Seperti ada rasa iba yang mencuat dari jiwa saya. Entah orang-orang yang lalu-lalang seperti saya ini, yang pasti saya tidak pernah melihat dia berkomunikasi dengan satu orang pun diantara para pejalan kaki yang melewati halaman belakang rumahnya.

Sampai tibalah pada suatu sore yang merah, ketika kelelawar mulai berkeliaran, saya tidak mendapatinya lagi. Entah ke mana perempuan tua yang selalu murung itu. Saya hanya mendapati bangku tuanya yang kosong dan pohon alpukat yang masih penuh dihinggapi ulat bulu. Wajah-wajah murung penghuni kampung berkurang satu lagi, begitu pikir saya. Kemudian mencoba bertanya pada orang-orang yang suka lewat, tapi mereka tidak tahu, bahkan tidak pernah melihatnya sama sekali katanya. Mau bertanya pada kedua anaknya yang pengangguran, susah, sebab mereka kini telah pergi ke kota, mencoba mengadu peruntungan mungkin. Ke mana perempuan tua pemurung itu?. 
Dua hari setelah kasus menghilangnya, masyarakat menemukannya telah terbujur kaku di sebuah kebun yang sunyi milik warga. Di bawah pohon rambutan yang rindang, jasad tua itu menghembuskan nafas terakhirnya. Terasing. Dalam hidup dan matinya, perempuan tua itu sangat terasing. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai