13 July 2012

Isu Sosial, Siapa Peduli


Barangkali kehidupan sosial kita, hari ini, jika dilihat dari parade lirik-lirik lagu genit, cengeng, dan berdarah-darah, tak lebih dari soal percintaan saja. Industri musik mainstream telah menumpulkan kepekaan sosial para pencipta lagu. Tuntutan priuk nasi begitu hebat menjajah kesadaran berkata-kata. Seorang musisi yang dulu pernah menelurkan album berjudul "Ideologi, Sikap, Otak", kini hanya pandai mengatur perputaran pemasukan dari band-band yang kelahirannya hampir prematur. Idealisme harus bertekuk lutut kepada pundi-pundi yang meminta isi. Dan mungkin benar apa yang dari dulu saya pikirkan, bahwa idealisme mempunyai masa kadaluarsanya. Persis seperti para mahasiswa yang waktu berjaket almamater begitu pandai berorasi, beragitasi, dan bergaya bagai jagoan politik kelas wahid, justeru terjungkal ketika jadwal kerja memenggal segalanya. Idealisme menjadi industri noltalgi, sebatas oleh-oleh yang menjelaskan bahwa kita pernah mengalami masa muda.

Fakta aktual memang selalu berubah, dan ini membuat lirik lagu-lagu sosial pun mengikuti kondisi kiwari. Akhir-akhir ini isu korupsi begitu dominan dalam lirik-lirik lagu sosial. Tapi hal ini membuat kritik via lirik menjadi cenderung homogen : di mana-mana tentang korupsi. Bandingkan misalnya dengan zamannya Iwan Fals yang lebih variatif dalam mengkritisi setiap sendi kehidupan sosial, di antaranya :  diskriminasi pelayanan kesehatan (Ambulan Zig Zag), minimnya kesejahteraan guru (Oemar Bakri), kesulitan biaya pendidikan (Sore Tugu Pancoran), profesionalisme tentara (Serdadu), kritisi parlemen (Surat Buat Wakil Rakyat), potret dilema PSK (Do'a Pengobral Dosa), dan masih banyak lagi.

Kritik via lirik adalah semacam penegasan bahwa masih ada yang tersisa dari karakter yang selama ini telah begitu kalang kabut. Seorang musisi sejatinya tidak boleh hanya menjadi sapi perah para pemegang modal dengan hanya menelurkan karya-karya banal yang disesuaikan dengan selera komersial, tapi mestinya menjadi lokomotif inspirasi bagi masyarakat yang selama ini telah kekeringan mata air karena tangan-tangan perkasa pemegang modal telah masuk juga di wilayah jual-beli otak kanan. 

Jika yang disebut "selera pasar" adalah pembohongan publik, maka untuk apa lagi menjadi karyawan di label-label raksasa?. Siapa pun tahu, bahwa kebohongan yang disiarkan melalui pendekatan komunikasi yang seolah-olah benar dan dilakukan secara terus-menerus akan berubah menjadi "kebenaran" yang dianut banyak orang. Maka hari ini, jangan bermain musik kalau bukan irama yang mendayu-dayu dan berlirik picisan, jika berani melawan maka bersabarlah untuk masuk dapur rekaman para pemegang mayor label.

Siapa peduli dengan isu sosial?, toh kebutuhan sehari-hari tidak bisa dipenuhi oleh lirik-lirik penuh kritisi. Lebih baik cari makan dan urusan selesai. [ ]



No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai