22 July 2012

Lebaran Orang Kaya


Oleh: Ustadz Rahmat Abdullah (alm)

Selamat lebaran wahai orang-orang kaya. Lebaran yang membebaskan dari segala ketergantungan pada ikatan-ikatan bumi. Lebaran yang menyucikan dari segala kepura-puraan; halal bi halal politik, takbir politik atau ketupat politik. Politik pura-pura. Lebaran orang-orang yang tak cemas tentang bahaya yang menghadang di depan dan tak bersedih dengan apa yang hilang di belakang. Lebaran orang-orang yang tak perlu gelisah oleh peringatan keamanan lingkungan agar mengunci pintu kuat-kuat karena menjelang lebaran banyak pencuri berkeliaran. Pencuri yang resah oleh gerutuan istri karena pakaiannya mengulang tahun kemarin, kue lebaran belum di dapat dan sepatu anak-anak masih di kedai.

Lebaran orang-orang kaya adalah lebaran yang tak perlu operasi atau posko ketupat lebaran dengan angka-angka yang dilaporkan polisi; berapa banyak yang mati kecelakaan, berapa yang tertangkap dalam kerusuhan, berapa yang mabuk terkapar di selokan dan tepi jalan, berapa korban petasan. Ia memang bukan hari celaka. Lebaran yang benar-benar gema Allahu Akbar Allahu Akbar yang merasuk sampai jauh ke dalam lubuk hati, merambat istana-istana malaikat di langit tinggi, menggapai masa depan dan menegarkan kekuatan yakin di hati hamba, bahwa memang kemenangan adalah Kerja Dia sendirian; Wahazamal ahzaba Wahdah! (Dan Dia membinasakan sekutu-sekutu musuh-Nya dengan sendirian saja).

Luar bisa cerdas taoke retail itu, yang berobsesi moga-moga ada perubahan dalam tradisi lebaran ummat Islam: Hayya, enak betul kalo lebalan olang Silam jadi tiga kali setahun. Owe cuci gudang laa. Ajaib logika kebanyakan ummat ini. Setelah mengurangi jadwal makan menjadi dua kali, ternyata pengeluaran justru semakin meningkat. Seharusnya biaya perorang sehari rata-rata sepuluh ribu rupiah untuk dua kali makan, tidak lima belas ribu, karena makan siang telah dihilangkan. Tatapi mengapa tak ada deposit 30 x Rp 5.000 di akhir bulan. Yang ada hutang dan hutang.

Ajaib, bulan yang seharusnya semua orang kurang makan, minum, dan belanja, ternyata malah defisit besar, keranjang sampah selalu penuh dengan makan lebih. Makanan orang-orang miskin yang malang, yang selalu merasa kurang. Selalu tegang bila lebaran tak pamer kekayaan, pakaian baru, makanan mahal yang membosankan dan lemparan uang logam yang diperebutkan anak-anak, sekolah sempurna untuk jadi miskin berkepanjangan, dengan belajar meminta-minta sejak usia dalam ayunan.

Siapa yang mau memelopori jadi orang kaya dengan sepuas hati mereguk ari telaga Kautsar, sepenuh suka cita menikmati lapar. Lapar dan haus yang mengeringkan badan telah menjadi menu penguat bagi ruhani, bersama kesunyian, kerja keras, perlawanan terhadap selera dan keledzatan badan. Inilah hari-hari jamuan Allah yang luar biasa meriah. Ada bebuahan yang datang menghampiri saat ahlinya berbaring. Ada sungai madu dan susu yang mengalir. Ada khamr yang tak memabukkan.

Kasihan hamba-hamab perut yang begitu kemaruk di senja hari, sesudah menahan penderitaan sepanjang hari. Malang para pelebaran yang segera melupakan derita panjang Ramadhan dan merasa terlepas dari beban yang menghimpit sepanjang bulan, melupakan derita panjang dan menganggap diri telah menang.

Tiadakah mereka bersedih kehilangan sang kekasih yang teramat mulia?. Saat pagi dan malam menempuh perjalanan ruh yang melesat cepat ke haribaan Al Khaliq yang dirindukan. Unta tunggangannya berdengus. Kaki-kakinya memercikkan bunga-bunga api di bebatuan yang keras. Menerbangkan debu-debu di dingin fajar saat udara sangat berat. Menerjang pasukan lawan dengan kejutan yang melumpuhkan dan serentak memekikkan kemenangan. Tetapi mengapa justru masih saja lahir manusia yang ingkar, yang begitu mabuk dalam cinta harta.

Adegan ulangan selalu ditayangkan masa demi masa, saat kelakuan kaum Tsamud kembali berulang, dengan arogan menyembelih unta Allah yang seharusnya mereka beri hak hidup dan berbagi air di perigi kehidupan. Unta itu tak memerlukan semua sumur untuk semua hari. Ia hanya menuntut pergiliran yang adil, untuknya sehari minum dan kalian sehari pula. Kini begitu banyak pembantai "unta" itu, menghilangkan kekuatan daya angkut menuju negeri keabadian.

Kasihan sang pemikir yang kelewat percaya diri kepada fikiran binalnya yang sama sekali tak berbobot. Ia berfikir agama telah memanjakan kaum masochist; para penikmat siksaan. Padahal pemilik ruhani sehat, menjadi sangat nyaman ketika berkurban, ketika berlapar-lapar dan haus. Ia melaju dengan perahu jejalahnya menuju Dia yang Maha Agung, tanpa hambatan beban berat makan, gravitasi bumi nafsu dan kepura-puraan.

Adalah semata-mata kejujuran, saat kaum Bakkaien (mereka yang menangis sedih), menangis ketika Rasulullah mengatakan, "Aku tak dapatkan kendaraan untuk membawamu ikut berjihad." (QS. At-Taubah : 92). Meraka pergi dengan air mata berlinang karena tak terikutkan dalam barisan jihad. Kebanggan apa yang berkembang di hati mereka yang bersenang-senang saat tak melibatkan diri dalam proyek-proyek kebajikan?.

Tidakkah masuk ke dalam benaknya ungkapan tegas Abdullah bin Rawahah kepada sang jiwa : "Kubersumpah wahai jiwa, turunlah ke medan laga, turun atau kau harus dipaksa, mengapa kulihat engkau membenci surga?!, wahai jiwa, bila engkau tak dibantai, kau kan pasti jadi mati."

Alangkah jauhnya logika bumi dan logika langit, logika daging dan logika jiwa. Wangi mulut itu begitu menyegarkan. Cerah wajah itu begitu mengagumkan. Cemerlang gigi itu begitu menyenangkan. Tetapi siapa yang dapat melihatnya berlumuran darah dan nanah, robekan daging pada geraham dan taring. Itulah daging, darah dan nanah saudara sendiri, saat mulut, bibir dan lidah itu asyik menggunjinginya. Ada orang yang begitu tekun bergelimang kotoran, menjadi segar setelah memakan begitu banyak kotoran dan mendadak mati saat diberi kemuliaan.

Binatang "jal" (sejenis kumbang yang hidup dalam tumpukan kotoran sapi) sangat kuat dan tangkas selama hidup berkubang kotoran. Tetapi bila bunga yang harum didekatkan ke hidungnya ia akan segera pingsan atau mati. Berapa banyak penguasa yang menjadi sangat perkasa setelah menyengsarakan begitu banyak rakyat, merampok begitu besar kekayaan rakyat dan mengkhianati satu demi satu kepercayaan rakyat. Mereka punya logika terbalik; menderita dalam amal mulia dan miskin dalam kekayaan jiwa.

Begitu rapuhnya sarang laba-laba itu, tertimpa ranting habislah dia. Tetapi mengapa masih ada makhluk tak mampu melepaskan diri dari jeratnya. Itulah lalat dan nyamuk, penggelimang dalam bangkai dan kotoran serta penghisap darah. Mereka terjerat di sana. Tubuh mereka nampak masih berisi, padahal laba-laba itu telah mengeringkan seluruh daging mereka.

Ada orang berdasi dengan mental kuda gigit besi. Ada orang nampak merdeka padahal berjiwa super budak. Ada yang tampil bagai abid (ahli ibadah) yang khusyu, padahal motivasi dunia telah merasuki seluruh jiwa dan niatnya. Berbahagialah mereka yang menuju kepada-Nya tanpa menoleh, mendzikir-Nya tanpa mengintai-ngintai siapa yang mendengarkan gumamnya. Berfatwa dan berdakwah tanpa takut siapa yang akan tersinggung atas putusan dan pesannya.

Selamat lebaran wahai orang-orang kaya. Selamat lebaran wahai orang yang hartanya ia letakkan di mana saja, dijaga Malaikat dan ia tak pernah gelisah memikirkannya. Selamat lebaran ia yang kalau berpakaian, memakai pakaian taqwa dan memamerkan; betapa melimpah kasih sayang yang diterimanya. Kalau ia bersibuk, ia sibuk melayani-Nya. Kalau ia berdarah, itu demi melukis segala makna keindahan di atas bumi-Nya.

Lailaha illallah; benarlah janji-Nya, Ia membela hamba-Nya, Ia muliakan tentara-Nya, Ia hancurkan sekutu-sekutu-Nya, sendirian saja! [ ]

Foto: yesmuslim.blogspot.co.id

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai