30 July 2012

Ibu, Penggallah Jika Kepalaku Berubah Menjadi Kelinci

Yang aku butuhkan saat ini hanyalah kantong plastik hitam, atau ember, atau apapun : karena aku ingin muntah. Diksi tentang rayuan lucifer yang menyamar menjadi do'a-do'a malaikat dan hinggap di hati para perempuan lemah begitu dahsyat efeknya : isi perutku ingin keluar semua. Kalau saja ibuku masih ada, aku akan memberinya sebuah parang yang amat tajam, yang akan beliau gunakan untuk memenggal kepalaku jika aku berubah menjadi kelinci. Tak ada yang paling kubenci selain para lucifer yang dengan gagah memakai topeng malaikat.

Jika engkau ingin aku menjadi diri sendiri, maka inilah aku. Aku bukan penyair salon yang berbicara tentang kata maaf dan terbang. Tidak, aku tidak mau dikenang sebagai orang yang seolah-olah baik. Aku hanya mencintai terang benderang, bahwa pedang adalah pedang, bukan bintang yang melambungkan seperti anti biotik bagi orang-orang sakit.

Aku tidak mau menaburkan gula pada luka menganga hanya untuk dipersepsikan sebagai sebuah apology yang elegan. Telah aku istirahatkan kata-kata manis itu. Kata-kata yang telah memerangkapku dalam diri entah siapa. Hanya jejalin niat baik yang kini aku pertahankan, bahwa dalam wujudnya yang paling mengerikan sekali pun, komunikasi harus tetap bergerak rancak dalam fitrahnya. Semoga kosakata pahlawan segera dihapus dari kamus. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai