12 July 2012

Ironi Jejaring Sosial Padat komunikasi

Inilah Jum'at itu. Saatnya untuk berziarah ke jejaring sosial klasik yang sudah banyak ditinggalkan umatnya. Multiply, Blogspot adalah sedikit dari kuburan massal jejaring sosial yang mulai gulung tikar dan kesepian. Mereka telah damai dalam kuburannya masing-masing. Apa yang bisa diidentifikasi dari fakta aktual seperti ini?. Jawabannya hanya satu : manusia semakin ingin banyak bicara, dan semakin ingin banyak di dengar. Kosakata "Narsis" barangkali muncul dari kenyataan ini. Siapa pun (kecuali suku-suku pedalaman) tidak ingin hidup terisolasi. Dan bediri di depan lensa bukan lagi monopoli para banci kamera. 

Maka angkat topi bagi mereka yang bisa mengetahui bahwa manusia adalah sejenis makhluk yang dengan gampang kecanduan komunikasi di dunia maya. Jejaring sosial bukan lagi sekedar tempat bertukar informasi, tapi sudah jauh melampaui core fungsinya. Inilah jejaring hiburan sekaligus obat bagi segala jenis penyakit psikologis yang berjangkit akibat obsesi eksistensi, dan gejala "semua harus dibagi". Orang-orang yang pandai berargumen atau berkelit di balik kata-kata bijak yang dipaksakan, dengan tidak sadar pernah menjadi korban juga. 

Ketika tingkat kesadaran atau rasa malu telah menyentuh titik nadir, maka sesaat setelah buang angin pun segera dibagi di dinding pribadi. Sekat-sekat privasi mulai memuai, apalagi dengan tidak dibekali oleh teknik penyamaran tingkat tinggi. Yang menjadi sorotan saya secara pribadi, kalau dibandingkan, jejering sosial klasik lebih menitikberatkan kepada aktivitas menulis utuh, bukan sekedar saling lempar komentar lalu pergi seperti siluman. Memang di jejaring yang tengah berkuasa sekarang juga ada media untuk menulis utuh, tapi siapkan tissue, karena masih banyak yang tidak pernah menggunakannya sama sekali.

Tapi kemudian muncul ironi, bahwa semakin manusia tersambung, dan lalu-lintas komunikasi semakin ramai, justeru semakin susah manusia itu dimengerti. Atau dalam bahasa Majalah tarbawi : "Kita hidup di kepadatan interaksi, tapi sulit untuk belajar memahami." [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…