03 July 2012

Cemong

Malam Nisfu Sya'ban. Ada yang bergerak entah di mana. Barangkali di kesadaran transenden, tentang tradisi yang memudar di satu sisi, dan menguat di sisi yang lain. Apakah ini bukti bahwa manusia tidak pernah statis?.  

Dulu di pekuburan Baqi ada yang menengadahkan wajahnya ke langit. Sekarang aku di depan monitor, pengetahuan tengah diacak-acak internet. Struktur berpikir dipencundangi hiperteks. Informasi datang berlapis-lapis membuat karakter menjadi buram dan rapuh. 

Ada yang dibesarkan sebagai penjudi yang payah. Dadu kepercayaan berhamburan di meja tanpa pretensi untuk menyiapkan sebuah pertahanan yang liat dan kokoh. Strategi telah mati sebelum dikeluarkan. Identitas terombang-ambing di sepanjang titian waktu yang berparade.

Kemarin bulan telah sempurna dengan cahaya kuning keemasan. Adakah malam ini dia tidak dicuri awan seperti hari sebelumnya?. 

Terkadang pengetahuan, peristiwa melankolik, kesadaran transenden, dan tata-kelola emosi tidak pernah benar-benar sempurna. Semuanya bervisual cemong. Sebaran bedak tidak pernah benar-benar rata, selalu ada ketimpangan di antara sisi-sisinya. 

Tapi ada satu hal yang tidak boleh cemong pada keseluruhannya, itulah kepercayaan. 

Ah, sudah malam, kawan. [ ]


No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai