08 July 2012

Bukan “Ke mana”, Tapi “Dengan Siapa”

Sudah lama dia tidak melakukan perjalanan. Sementara alam pun tidak banyak berubah. Laut tidak pernah banjir, air terjun masih setia kepada gravitasi, dan gunung masih tegak sebagai paku bumi. Lalu apa yang menarik dari harmonisasi bentang alam?, bukankah sudah bisa didapatkan dari kalender usang yang telah diturunkan dari dinding?. Siapa kawan berjalan akan lebih penting daripada ke mana akan pergi. Reaksi kimia purba atau ritus perkawanan bukan sekedar nuansa, tapi jauh melebihi kejernihan air laut, keindahan gerombolan ikan, dan melebihi derasnya air terjun yang yang menghantam batu cadas. Sebuah lirik lawas barangkali masih bisa diingat : “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan.” 

Ketika titik tuju sudah jelas, maka yang terpenting adalah dengan siapa kita akan melakukan perjalanan itu. Kalau saja mau menyisihkan sedikit jeda kesadaran, maka sebuah perjalanan fisik adalah miniatur hidup. Siapa yang ada di sisi kita ketika kita menikmati panorama, ketika kita terjatuh, terluka, dan lelah?. Tapi jika doktrin pragmatime telah begitu kuat menghujam di tempurung kepala maka serahkan saja semuanya kepada Lonely Planet, komunitas yang menjamur, atau bahkan The Naked Traveler. 

Cemas dan ragu-ragu hanya boleh terjadi di luar pintu keberangkatan, di bibir pantai yang airnya masih dangkal, di loket dengan antrian yang cukup panjang. Di luar itu, tidak boleh terjadi lagi. Medan dan jarak tempuh yang dilalui tidak boleh menyertakan ragam perasaan destruktif, sebab berhenti atau mundur, berarti hancur. 

***

Di titik ini, catatan tentang perjalanan adalah Kuda Troya yang dibawa ke tengah kota demi menyusupkan pasukan pesan. Tapi jika yang dianut adalah mazhab tersurat, aliran eksplisit, maka mari mendekat sayang, biar kubisikkan : “Jika Tuhan adalah titik tuju, dengan siapa kamu ingin menghabiskan hidup dan melewati saat-saat kematian?. [ ]           

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai