09 July 2012

Berjalan Pulang dalam Kecemasan yang Menggores

Kepada kawan Muhidin :

Sekalipun kita belum pernah bertemu secara fisik, tapi setidaknya kita berkawan di jejaring sosial, maka boleh kiranya Bung saya panggil “kawan”. Dengan ini saya sampaikan, bahwa saya dalam keadaan sadar boleh kiranya menulis ulang beberapa paragraph apa yang telah Bung catatkan di buku memoar bergambar pemuda berambut gondrong membawa tumpukan buku pada sepeda hitam. Alasannya tak lebih, mungkin sama dengan Bung,  bahwa saya pun percaya dengan kata-kata Hannah Arendt. Bahkan judul pun saya ambil punya Bung, entah apa namanya, entah napak tilas atau apa, yang jelas buku yang saya beli di tengah tahun 2004 itu kini telah begitu rusak, hampir semua lembar halaman telah terlepas dari punggung buku, telah begitu ramai dengan stabilo aneka warna, dan sekaligus begitu saya cintai. 

***
Saya tidak tahu, apakah ini perayaan stagnasi, atau memang obat yang tak tergantikan. Nyatanya saya (selalu) kembali lagi ke buku itu.

***
Ambillah apa yang kamu ingini kawan!!. Semua barang-barang absurd di ruangan ini. Deretan buku dan tumpukan koran itu. Cukuplah aku memiliki onggokan jasadku yang lapuk ini, yang suatu saat juga akan kubuang ke liang gelap kuburan. Aku tak punya apa-apa selain ruh. Ya, ruh itulah yang aku selamatkan. Ruh itu boleh bernama qalbu, nurani, ataupun kesadaran transendensi.

Kalaupun masih ada kabar baik, mungkin kabar itu berbunyi begini : aku masih dikaruniai kemampuan menulis. Ya, aku hanya bisa menulis ketika beberapa waktu ini aku diserang stagnasi yang membuatku terhempas dalam ruangan yang amat sempit. “Guslag” yang amat menyakitkan.

Semua relasi publik yang pernah kupunyai seakan-akan terengkuh dalam putus dan tak mungkin disambung lagi. Naluri ke-kita-an itu entah kenapa tak bisa kurajut. Menguap entah ke mana. Tak banyak sebenarnya yang kudamba. Tak banyak yang kuharapkan. Karena memang, di ambang batas harapan seperti ini apa sih yang menjadi harapan yang paling signifikan?.

Mataku hanya bisa nanar melihat larat-larat yang ditulis Ernest Cassirer dan Kierkegaard : “Manusia menghayati dirinya yang uniqum bukanlah dengan jalan menghindari kebersamaan, melainkan justru bersama dengan yang lain-lain.” Mungkin aku akan ditertawakan Kiekeergard, Burber, Heidegeer, Fromm, Liang, karena aku telah terjerumus dalam patologi isolasionisme.

***
Siapapun mempunyai ego. Termasuk saya!.

***
Kecemasan, ragu-ragu, menjadi cerita tersendiri dalam ruang diskursus psikologi modern. Kata itu berarti pula rajutan perasaan yang bimbang menuju spasi rasa berikutnya. Tapi ironi. Karena di tengah gerundukan kecemasan, bisa jadi ia membawa petaka bagi pelakunya. Yakni sebuah situasi yang tak pernah terarah, chaostic. Maka jadilah manusia itu terombang-ambing. Tak punya tujuan. Tak pasti. Inkonsistensi. Bikin pusing orang. Dan, mungkin membuat gila (majnun).

Ia tidak meyakini lagi bahwa masadepan itu ada. Semuanya absurd. Mambang. Dan satu sikap yang paling menonjol kelihatan, yakni bersoliloqui. Seuntai sikap yang bergumam sendiri dalam geremengan sembari berjuang membuka katub kesadarannya untuk berdialog ulang dengan masadepan. Juga berpeluh untuk berdialog dengan kekasih yang dengan itu ia seperti orang yang mabuk.

Sampai di sini kecemasan berubah menjadi situasi yang amat positif, tak lagi semacam death anxiety (kelainan jiwa). Karena kecemasan itulah yang mengantarkannya pada statiun reflektif untuk mengurai pilihan. Ya, memilih terkadang butuh perenungan, refleksi sebelum memutuskan sesuatu. Bahkan Tuhan sendiri lewat tangan nabinya menyiapkan sebuah instrumen ritualistik metafisis untuk itu (shalat Istikharah).

Toh kecemasan juga masih dalam variable ruang. Makanya ia mesti berbatas. Soal kapan batas itu tercapai---bahkan terlewati---itu persoalan waktu.

Asalkan saja kecemasan itu jangan sampai tak kembali ke rumahnya.  Bila itu terjadi, maka ia bisa liar dan anarki, memporak-porandakan pertahanan akal sehat. Kepulangan itulah membawa sinyal kehadiran : berusaha menghadirkannya, tak sebatas mendefinisikannya. Penghadiran oleh para filsuf Muslim disebut “hudhuri” dan Martin Buber menamakannya “making present”. 

Proses seperti itulah aku berusaha melakukan laku panjang yang terkadang keluar dari mainstream modernitas. Ya, modernitas telah menghilangkan pentingnya “penghadiran” itu, dan lebih mementingkan “definisi”.

***
Dan selalu ada batu di sekitar bangunan yang tidak selesai. [ ]
    

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai