11 July 2012

Alarm Seremoni


Jakarta pagi hari

Jum’at, kalender sedang menunjukkan tanggal 24

Mendung menggantung di langit. Saya berjalan menyusuri gang kumuh. Banyak bendera kuning. Orang-orang sibuk ngaji Yasin. Pak RT meninggal dunia kemarin. Meninggalkan warganya yang hidup di antara hunian kumuh dengan got-got busuk dan aroma mencucuk hidung, bikin saya mau muntah. Beberapa tukang ojek mangkal di mulut gang, wajah-wajah lusuh dan berdebu. Seorang nenek duduk manis sambil menghirup kopi hitam dan sebatang cigarette. Giginya sudah banyak yang tanggal, dan senyum yang ganjil, menyeramkan. Sebuah bajaj menderu di kejauhan, suaranya nyaring menjengkelkan. Air pekat dan bau busuk mengalir di anak sungai Ciliwung, melewati komplek Cempaka Mas, mengalir pelan, dan akhirnya berjumpa dengan lautan. Monster-monster jalanan sudah sibuk dari awal pagi, memenuhi perutnya dengan penumpang yang berdesakan. Angin bertiup kencang, menyapa daun-daun tua, dan jalanan seperti sedang hamil musim gugur. Jembatan penyebrangan sepi pengunjung. Orang-orang lebih memilih jalan pintas, lewat bawah sambil mengutuki mobil yang tak habis melintas. Ada bunyi sirene di kejauhan, seremoni pagi para aparat negeri. Anak-anak sekolah bergerombol riuh rendah, menelan jatah hidupnya yang sedang lincah. 

Di ujung jalan Sumur Batu saya berdiri, menunggu monster hijau yang tua dan gelisah. Sementara gadis kecil bernyanyi riang di jok belakang sepeda bapaknya, gembira sorot matanya menyambut hari ceria masuk sekolah. Anak-anak TK memakai baju polisi, pasti bukan karena cita-cita, tapi karena jadwalnya yang memaksa. Ada banyak suasana pada pagi hari yang sama, sementara rahmat kerja tenang menunggu di balik meja. Pagi hari bukan waktu yang tepat untuk menggerutu, saat itu adalah ketika jejentik jam mengingatkan kita untuk banyak bersyukur : tentang mata yang masih bisa melihat langit-langit kamar, tentang berita di televisi yang masih bisa terdengar, tentang secangkir kopi pahit dan rokok kretek batangan, tentang sepiring nasi uduk dan dua buah gorengan. Sudah terlalu banyak yang merasa kekurangan sambil tersedu sedan, atau keluh yang tak kunjung luruh : mengeluh tentang harta, mengeluh tentang pekerjaan, mengeluh tentang penampilan, dan mengeluh tentang kebahagiaan. Kalau saja alarm peringatan bisa menyala secara otomatis ketika kita mengeluhkan hal-hal begitu, pasti itu bukan dari sebuah jam yang kita taruh di atas meja, bukan pula dari ponsel yang kita setting sebelum memejamkan mata, melainkan dari hati yang sadar jaga. [ ]

Uwa, Juli '09

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai