30 July 2012

Ibu, Penggallah Jika Kepalaku Berubah Menjadi Kelinci

Yang aku butuhkan saat ini hanyalah kantong plastik hitam, atau ember, atau apapun : karena aku ingin muntah. Diksi tentang rayuan lucifer yang menyamar menjadi do'a-do'a malaikat dan hinggap di hati para perempuan lemah begitu dahsyat efeknya : isi perutku ingin keluar semua. Kalau saja ibuku masih ada, aku akan memberinya sebuah parang yang amat tajam, yang akan beliau gunakan untuk memenggal kepalaku jika aku berubah menjadi kelinci. Tak ada yang paling kubenci selain para lucifer yang dengan gagah memakai topeng malaikat.

Jika engkau ingin aku menjadi diri sendiri, maka inilah aku. Aku bukan penyair salon yang berbicara tentang kata maaf dan terbang. Tidak, aku tidak mau dikenang sebagai orang yang seolah-olah baik. Aku hanya mencintai terang benderang, bahwa pedang adalah pedang, bukan bintang yang melambungkan seperti anti biotik bagi orang-orang sakit.

Aku tidak mau menaburkan gula pada luka menganga hanya untuk dipersepsikan sebagai sebuah apology yang elegan. Telah aku istirahatkan kata-kata manis itu. Kata-kata yang telah memerangkapku dalam diri entah siapa. Hanya jejalin niat baik yang kini aku pertahankan, bahwa dalam wujudnya yang paling mengerikan sekali pun, komunikasi harus tetap bergerak rancak dalam fitrahnya. Semoga kosakata pahlawan segera dihapus dari kamus. [ ]

20 - Kemanakah Sang Juara Itu?

Hampir dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Agustus 2010, serial Olva mulai aku tulis. Aku tidak peduli orang menyebut catatan ini sebagai apa. Kenyataannya, catatan ini  memang paduan antara fakta dan fiksi, kubumbui dengan puisi merah jambu, kutipan buku, dan emosi yang turun-naik laksana iman seseorang. Kini sudah masuk Ramadhan ketiga semenjak catatan ini aku mulai. Kalimat-kalimat suci masih merambati tiang-tiang mesjid dan melesat ke langit. Sementara aku masih kedodoran di surat A-An’am (Hewan Ternak). Payah sekali tahun ini. Tahun-tahun ke belakang, di hari kesepuluh, biasanya sudah hampir sampai di pertengahan kitab suci. Seorang kawan, Bung Marjo, yang dulu sengit berkompetisi denganku untuk segera sampai di An-Naas, ke penghujung mukjizat ini, sekarang tak ada kabar. Sang juara seperti hilang. Begitu juga aku.

Aku merasa lelah, entah kenapa. Mungkin karena sudah semakin tua, atau pengalaman yang mendera akhir-akhir ini. Langit di dalam jiwa tidak begitu cerah. Aku bukan seorang melankolik, tapi  tidak pernah mau jika prinsipku menjadi goyang dan roboh berderak-derak. Biar saja Sigmund Freud berkhotbah tentang ego, tahu apa dia tentang aku?. Mungkin orang menyebut aku sentiment, tapi aku selalu berpihak kepada para pemberani. Ya, para pemberani yang tegak menghadapi setiap tanda tanya hidup. Busur boleh sama, tapi anak panah akan melesat ke tempat yang berbeda-beda. Dengan bakcsound suara The Panasdalam yang bernyanyi berulang-ulang, aku lanjutkan catatanku.

***    

Olva. Ah, apa kabar dia?. Langit Surabaya barangkali masih menjadi atapnya. Sekali-kali aku masih mengingatnya dalam wujud yang paling sederhana : perempuan berbaju biru. Atau bahkan dalam kontruksinya yang paling menawan, yakni sebagai perempuan yang pernah membuatku kelebihan energi dan daya hidup. Baru-baru aku membaca Partikel dari serial Supernova yang ditulis Dewi Lestari, kutemukan pamafrasa ini : “Akhirnya kumengerti betapa rumitnya kontruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia menanggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang. Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka.”

Tapi walau bagaimanapun masa lalu menggerayangi tempurung ingatan yang berarak di awan otak, aku tidak mau menjadi kereta tua. Telah kucoba untuk---atau mungkin tidak sengaja---jatuh cinta lagi pada perempuan. Sekali waktu datanglah seorang perempuan yang bermata juara. Usianya masih relative muda, dan meteor yang membedaki langit melankoli tidak pernah memilih usia. Aku gembung dengan perasaan yang bercorak indah pelangi. Aku layangkan sebuah pandangan tajam, tapi memang aku bukan ahli strategi dalam urusan yang satu ini. Dia menghindar dalam gradasi sikap yang tidak dapat aku mengerti. Kalau kata seorang kawan, Bung Erlan, perempuan adalah ilmu pengetahuan, barangkali dia benar, sebab tidak kutemukan titik koordinatnya di perpustakaan. Aku hanya belajar otodidak, dan ternyata dalam definisi yang sederhana, akhirnya dapat aku uraikan.

Kemudian waktu tidak pernah sama lagi setelah itu. Dalam kanal tersembunyi ranah maya, datang lagi seorang keturunan Hawa.  Proses menuju titik kulminasi, atau bahkan titik nadir, selalu saja diawali dengan gila. Pertahanan manusia dirancang seperti itu. Pada titik permulaan, yang menjadi konsentrasi adalah soal memakai baju, urusan baju itu ukurannya cukup atau tidak, warnanya sesuai atau tidak, semuanya akan terjadi di hilir, di aliran yang telah berjalan seiring waktu. Di hulu, yang terjadi hanya taburan cahaya yang kerap membutakan mata. Dan itu indah. Di pertahanan terlemahnya manusia merayakan jatuh cinta. Berjuta janji dan resolusi berhamburan dengan mudah. Dunia seolah diciptakan hanya untuk berdua. Klise memang. Tapi siapa yang sanggup menghindar dari langit merah jambu yang cahayanya berpendaran menembus batas-batas saturasi jiwa?.

Hanya kesadaran tentang masa depan yang akhirnya menghentikan puisi itu. Aku terdiam di kamarku yang berantakan. Aku nanar menimbang pikiran dan perasaan. Aku tahu, aku dilahirkan untuk tidak takut mengambil keputusan. Dan keluarlah ultimatum itu. Olva edisi ketiga ini, yang aku kerap memanggilnya Wangihujan, juga ternyata berani mengambil keputusan. Aku apresiasi langkahnya, dan kami pun berkemas-kemas. Sekali waktu, dia pernah memberiku sebuah buku catatan yang cantik. Dalam emosi yang telah terakumulasi, di buku catatan yang dia berikan itu, aku menulis : 

“Tapi cinta bukan perjalanan satu jiwa, jadi bukan siapa menguji siapa, melainkan proses membangun saling pengertian. Sering mengalah sesungguhnya bukan sebuah bentuk kasih sayang, tapi dendam yang ditanam dengan hati-hati untuk dipanen pada suatu hari nanti. Jadi jangan terlampau senang jika merasa sering menang. Lihat ke dalam dan pelan-pelan berpikirlah. Jika tahu itu duri kenapa terus dimakan?. Bukankah nanti akan nyangkut di tenggorokan?. “

Setelah catatan emosional itu, pernah juga aku menulis dengan sepenuh tulus. Aku berusaha menjernihkan segalanya. Aku menulis begini :

“Aku datang dengan niat baik. Juga catatan ini. Kejujuran terkadang terasa pahit, tapi yakinlah bahwa dia akan menyembuhkan. Lebih baik kita limbung di pantai daripada karam ketika bahtera telah dilayarkan. Apakah kamu akan ikut dengan perahuku?. Itu sepenuhnya menjadi hak kamu.”

*** 

Ada yang bergetar hebat entah di mana, waktu dia pada hari itu, sore itu, memberi kabar bahwa di hari ketika para pekerja mainstream tengah merayakan libur, dia justru berangkat dalam balutan serba biru. “Demi kamu”, katanya. Ah, terdengar manis sekali. Aku tidak mau berprasangka buruk. Aku hanya tahu bahwa ketulusan selalu ingin aku balas dengan ketulusan, tak peduli meskipun dia hanya memakai baju biru saja.

Tapi satu hal, aku tidak mau membuat puisi merah jambu yang picisan tentang kenangan, yang seolah-olah aku manusia bijak yang penuh simpatik. Tidak, aku tidak mau melakukan itu. Aku sadar, aku telah invalid. Aku telah mengecewakan Wangihujanku. Dan oleh karena itu aku pantas untuk dibenci. [ ]

26 July 2012

Menyapa Seorang Kawan

Ini kopi sudah kuseduh. Kopi yang sama seperti yang dulu juga, waktu kita meminumnya dari gelas air mineral yang dipotong pisau lipat. Sementara buku-buku tidak tersusun rapi. Bertumpuk di lantai kamar yang berdebu, sebagian di rak kayu yang sudah usang. Tumpukan koran hari minggu mulai menguning, tapi aku pertahankan juga, tak lebih karena di dalamnya ada rubrik budaya yang memuat  cerpen dan beberapa puisi dari pengarang yang tidak semuanya terkenal. Ini aku baca lagi tulisan Pram, yang tak henti-hentinya menghantam. Biar kubacakan padamu kawan :

“Sekali ini aku ingin bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia : keluarga!. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan isteri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan.”

Sementara aku pun teringat pada tulisan kau di halaman paling belakang buku catatanku yang aku sudah lupa kapan kau menulisnya. Tapi begini kau menulisnya waktu itu :

“Kalau kamu baca tulisan ini, mungkin saya sedang bermesraan dengan istri, atau juga sedang main petak umpet dengan anak saya. Kalau kamu baca lagi tulisan ini, mungkin saya sedang berlibur dengan keluarga ke ladang sawit, atau mungkin saya sedang sibuk membacakan puisi untuk anak saya. Kalau kamu masih nekad baca juga, mungkin saya sedang duduk di teras depan rumah saya, sambil memberi makan ikan, atau mungkin saya sedang memarahi anak saya karena terlambat pulang. Tapi kalau kamu berhenti sampai di sini, berarti kamu masih ingat saya. Masih ingat dengan perburuan buku yang belum usai, dan juga problem perut yang semakin besar.”

Ah Bung, begini rupa waktu telah menyeret kita untuk tunduk pada halaman-halamannya. Pernah suatu saat kau kuolok-olok dengan tulisan, tentang cinta yang gagal, invalid macam Sjahrir dan Tan Malaka. Apakah kau masih ingat apa yang kutulis Bung?. Baiklah, kalau kau sudah lupa, mari kutulis ulang :

“Dan cinta tidak hanya hinggap kepada orang-orang besar saja. Selain di kedua tokoh itu, di kedua bapak bangsa itu, cinta juga mengjangkiti seorang kawan. Apalagi dia seorang laki-laki konservatif yang sering menghabiskan cintanya hanya kepada seorang perempuan saja. Cintanya kepada seorang perempuan bermata sipit yang ditemuinya di sebuah sore yang manis tak sedikit pun goyah. Jarak hanyalah halangan ilusi untuk menyatukan cinta mereka. Bertahun-tahun cinta itu tumbuh, sampai akhirnya jarak mengkhianati. Halangan ilusi itu akhirnya merobohkan getaran semesta hubungan mereka. Keputusan sudah diambil, tali itu mereka putuskan bersama. Dan lagi-lagi tali hanyalah sebuah bullshit, karena ternyata cinta masih mengaliri semesta perasaan. Cinta bukan datang lagi, karena dia tidak pernah benar-benar pergi. Kini dia menemukan lagi lampu sorotnya, matahari perlahan menumbuhkan kembali cinta yang telah lama bersembunyi. Tapi kawanku adalah dia yang sudah tercatat di alam virtual, jauh sebelum waktu itu datang, bahwa dia harus mengalami pahitnya ditinggalkan; perempuan bermata sipit itu ternyata berani mencuri start, dia yang mula-mula naik ke pelaminan dengan seorang maskulin yang berbeda. Kawanku ditinggalkan dengan kepedihan yang muram, pahit, merobohkan perasaannya sampai berderak-derak. Dia invalid. Hujan turun deras waktu aku mendengarkan kisahnya.”

Nah, kau ingat kan sekarang?. Tapi sudahlah, itu masalalu kawan. Mengolah memori memang tidak semudah yang dibayangkan, bagaimana tidak, pasti ada satu atau dua kenangan yang menjadi fosil di tempurung batok kepala kita, bukan?. 

Apa kabar Cikarang?, bukankah itu tidak terlalu jauh dari Bekasi?. Ah, Bekasi. Lagi-lagi kota yang satu ini menyeretku untuk membaca lagi tulisan-tulisan Pram tentang revolusi, tentang tapal batas yang dipertahankan tentara-tentara republik. Kubaca lagi kisah Farid dalam buku ‘Di Tepi Kali Bekasi’. Ya, fragmen dari ‘Kranji-Bekasi Jatuh’ itu begitu menohok titik kesadaran, bahwa selamanya anak-anak muda adalah kaum pelopor yang senantiasa berani mendobrak. 

Tapi jika saja Farid dan kawan-kawannya sekarang masih hidup, tentu darah mereka akan mendidih lagi, kota yang dulu mereka perjuangkan itu kini telah jatuh kembali ke haribaan tangan-tangan asing. Pabrik-pabrik milik Jepang, Amerika, dan Korea memperkerjakan anak-anak bangsa dengan upah sangat menyedihkan. Polusi, ya polusi di mana-mana. Memenuhi paru-paru langit tanahair yang dulu begitu biru gilang-gemilang. 

Oh, apa kabar perburuan buku?. Apakah kau masih berminat pada cerita-cerita bersetting tahun 1800-an?. Tentu buku sakti kau masih ‘Mencari Sarang Angin’ bukan?. Kesibukan kerja barangkali telah menawan kau dari buku-buku yang dulu selalu menggoda itu. Ya, aku pun, kalau kau tahu, telah mulai jauh dengan buku, kawan.  Sudah hampir tiga bulan ini tak satu buku pun aku khatam. Baru-baru ‘Partikel’ Dewi Lestari aku ambil dari Gramedia, tapi nasibnya tak jauh berbeda dengan buku-buku yang lain : tak kubaca benar-benar. Apakah budaya membaca ini akan hilang?, aku begitu mengkhawatirkannya. Tapi barangkali ini hanya masalah waktu, mungkin saat ini waktunya buatku untuk belajar menentukan pilihan, belajar dalam dunia nyata dan untuk sementara istirahat membaca buku. Kau tahu kawan, kini aku tengah berada dalam sebuah persimpangan jalan. Tapi tenang saja, aku masih ingat apa yang ditulis Muhidin dalam memoarnya :

“Kesanggupan memilih, sebagaimana petuah novel ‘Burung-burung Manyar’, mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengatasi nasib.”

Kau sendiri bagaimana?, apa kabar puisi merah jambu?, apakah kau masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar imajiner club?. Tapi kawan, kau tentu sudah tahu, bahwa menjalani tidak semudah menuliskannya. Banyak betul tikungan tajam yang menuntut konsentrasi, pengendalian emosi, dan terutama mengolah ego. Ah, kawan….sebetulnya masalah meneruskan atau menyudahi sebuah hubungan bukanlah soal emosional, melainkan pandangan visioner ke depan, tentang sikap, tanggungjawab, dan ketentraman. 

Pernah sekali waktu aku menulis, barangkali namanya bukan puisi, atau apapun namanya, tapi beginilah jadinya :

“Saya hanya ingin duduk di bawah pohon rindang
Teduh, angin perlahan hinggap
Kantuk mulai datang dan menyerang     
Dan saya tertidur lelap

Saya tidak perlu yang banyak berkicau
Banyak omong tentang mode, kesetaraan gender, dan kosmetik
Saya tidak butuh yang akan membuat kacau
Ada kiranya yang sederhana, patuh, dan simpatik

Membicarakan perempuan
Berarti berbicara tentang kecenderungan dan ketentraman
Mereka adalah pakaian bagimu
Dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

Dari tadi kita hanya minum kopi saja, kawan. Marilah kita sebatang dulu, sambil melarung segala pahit masalalu, segala kegagalan, atau harapan yang kandas, atau cita-cita yang terbenam sebelum terbit sempurna. [ ]


22 July 2012

Lebaran Orang Kaya


Oleh: Ustadz Rahmat Abdullah (alm)

Selamat lebaran wahai orang-orang kaya. Lebaran yang membebaskan dari segala ketergantungan pada ikatan-ikatan bumi. Lebaran yang menyucikan dari segala kepura-puraan; halal bi halal politik, takbir politik atau ketupat politik. Politik pura-pura. Lebaran orang-orang yang tak cemas tentang bahaya yang menghadang di depan dan tak bersedih dengan apa yang hilang di belakang. Lebaran orang-orang yang tak perlu gelisah oleh peringatan keamanan lingkungan agar mengunci pintu kuat-kuat karena menjelang lebaran banyak pencuri berkeliaran. Pencuri yang resah oleh gerutuan istri karena pakaiannya mengulang tahun kemarin, kue lebaran belum di dapat dan sepatu anak-anak masih di kedai.

Lebaran orang-orang kaya adalah lebaran yang tak perlu operasi atau posko ketupat lebaran dengan angka-angka yang dilaporkan polisi; berapa banyak yang mati kecelakaan, berapa yang tertangkap dalam kerusuhan, berapa yang mabuk terkapar di selokan dan tepi jalan, berapa korban petasan. Ia memang bukan hari celaka. Lebaran yang benar-benar gema Allahu Akbar Allahu Akbar yang merasuk sampai jauh ke dalam lubuk hati, merambat istana-istana malaikat di langit tinggi, menggapai masa depan dan menegarkan kekuatan yakin di hati hamba, bahwa memang kemenangan adalah Kerja Dia sendirian; Wahazamal ahzaba Wahdah! (Dan Dia membinasakan sekutu-sekutu musuh-Nya dengan sendirian saja).

Luar bisa cerdas taoke retail itu, yang berobsesi moga-moga ada perubahan dalam tradisi lebaran ummat Islam: Hayya, enak betul kalo lebalan olang Silam jadi tiga kali setahun. Owe cuci gudang laa. Ajaib logika kebanyakan ummat ini. Setelah mengurangi jadwal makan menjadi dua kali, ternyata pengeluaran justru semakin meningkat. Seharusnya biaya perorang sehari rata-rata sepuluh ribu rupiah untuk dua kali makan, tidak lima belas ribu, karena makan siang telah dihilangkan. Tatapi mengapa tak ada deposit 30 x Rp 5.000 di akhir bulan. Yang ada hutang dan hutang.

Ajaib, bulan yang seharusnya semua orang kurang makan, minum, dan belanja, ternyata malah defisit besar, keranjang sampah selalu penuh dengan makan lebih. Makanan orang-orang miskin yang malang, yang selalu merasa kurang. Selalu tegang bila lebaran tak pamer kekayaan, pakaian baru, makanan mahal yang membosankan dan lemparan uang logam yang diperebutkan anak-anak, sekolah sempurna untuk jadi miskin berkepanjangan, dengan belajar meminta-minta sejak usia dalam ayunan.

Siapa yang mau memelopori jadi orang kaya dengan sepuas hati mereguk ari telaga Kautsar, sepenuh suka cita menikmati lapar. Lapar dan haus yang mengeringkan badan telah menjadi menu penguat bagi ruhani, bersama kesunyian, kerja keras, perlawanan terhadap selera dan keledzatan badan. Inilah hari-hari jamuan Allah yang luar biasa meriah. Ada bebuahan yang datang menghampiri saat ahlinya berbaring. Ada sungai madu dan susu yang mengalir. Ada khamr yang tak memabukkan.

Kasihan hamba-hamab perut yang begitu kemaruk di senja hari, sesudah menahan penderitaan sepanjang hari. Malang para pelebaran yang segera melupakan derita panjang Ramadhan dan merasa terlepas dari beban yang menghimpit sepanjang bulan, melupakan derita panjang dan menganggap diri telah menang.

Tiadakah mereka bersedih kehilangan sang kekasih yang teramat mulia?. Saat pagi dan malam menempuh perjalanan ruh yang melesat cepat ke haribaan Al Khaliq yang dirindukan. Unta tunggangannya berdengus. Kaki-kakinya memercikkan bunga-bunga api di bebatuan yang keras. Menerbangkan debu-debu di dingin fajar saat udara sangat berat. Menerjang pasukan lawan dengan kejutan yang melumpuhkan dan serentak memekikkan kemenangan. Tetapi mengapa justru masih saja lahir manusia yang ingkar, yang begitu mabuk dalam cinta harta.

Adegan ulangan selalu ditayangkan masa demi masa, saat kelakuan kaum Tsamud kembali berulang, dengan arogan menyembelih unta Allah yang seharusnya mereka beri hak hidup dan berbagi air di perigi kehidupan. Unta itu tak memerlukan semua sumur untuk semua hari. Ia hanya menuntut pergiliran yang adil, untuknya sehari minum dan kalian sehari pula. Kini begitu banyak pembantai "unta" itu, menghilangkan kekuatan daya angkut menuju negeri keabadian.

Kasihan sang pemikir yang kelewat percaya diri kepada fikiran binalnya yang sama sekali tak berbobot. Ia berfikir agama telah memanjakan kaum masochist; para penikmat siksaan. Padahal pemilik ruhani sehat, menjadi sangat nyaman ketika berkurban, ketika berlapar-lapar dan haus. Ia melaju dengan perahu jejalahnya menuju Dia yang Maha Agung, tanpa hambatan beban berat makan, gravitasi bumi nafsu dan kepura-puraan.

Adalah semata-mata kejujuran, saat kaum Bakkaien (mereka yang menangis sedih), menangis ketika Rasulullah mengatakan, "Aku tak dapatkan kendaraan untuk membawamu ikut berjihad." (QS. At-Taubah : 92). Meraka pergi dengan air mata berlinang karena tak terikutkan dalam barisan jihad. Kebanggan apa yang berkembang di hati mereka yang bersenang-senang saat tak melibatkan diri dalam proyek-proyek kebajikan?.

Tidakkah masuk ke dalam benaknya ungkapan tegas Abdullah bin Rawahah kepada sang jiwa : "Kubersumpah wahai jiwa, turunlah ke medan laga, turun atau kau harus dipaksa, mengapa kulihat engkau membenci surga?!, wahai jiwa, bila engkau tak dibantai, kau kan pasti jadi mati."

Alangkah jauhnya logika bumi dan logika langit, logika daging dan logika jiwa. Wangi mulut itu begitu menyegarkan. Cerah wajah itu begitu mengagumkan. Cemerlang gigi itu begitu menyenangkan. Tetapi siapa yang dapat melihatnya berlumuran darah dan nanah, robekan daging pada geraham dan taring. Itulah daging, darah dan nanah saudara sendiri, saat mulut, bibir dan lidah itu asyik menggunjinginya. Ada orang yang begitu tekun bergelimang kotoran, menjadi segar setelah memakan begitu banyak kotoran dan mendadak mati saat diberi kemuliaan.

Binatang "jal" (sejenis kumbang yang hidup dalam tumpukan kotoran sapi) sangat kuat dan tangkas selama hidup berkubang kotoran. Tetapi bila bunga yang harum didekatkan ke hidungnya ia akan segera pingsan atau mati. Berapa banyak penguasa yang menjadi sangat perkasa setelah menyengsarakan begitu banyak rakyat, merampok begitu besar kekayaan rakyat dan mengkhianati satu demi satu kepercayaan rakyat. Mereka punya logika terbalik; menderita dalam amal mulia dan miskin dalam kekayaan jiwa.

Begitu rapuhnya sarang laba-laba itu, tertimpa ranting habislah dia. Tetapi mengapa masih ada makhluk tak mampu melepaskan diri dari jeratnya. Itulah lalat dan nyamuk, penggelimang dalam bangkai dan kotoran serta penghisap darah. Mereka terjerat di sana. Tubuh mereka nampak masih berisi, padahal laba-laba itu telah mengeringkan seluruh daging mereka.

Ada orang berdasi dengan mental kuda gigit besi. Ada orang nampak merdeka padahal berjiwa super budak. Ada yang tampil bagai abid (ahli ibadah) yang khusyu, padahal motivasi dunia telah merasuki seluruh jiwa dan niatnya. Berbahagialah mereka yang menuju kepada-Nya tanpa menoleh, mendzikir-Nya tanpa mengintai-ngintai siapa yang mendengarkan gumamnya. Berfatwa dan berdakwah tanpa takut siapa yang akan tersinggung atas putusan dan pesannya.

Selamat lebaran wahai orang-orang kaya. Selamat lebaran wahai orang yang hartanya ia letakkan di mana saja, dijaga Malaikat dan ia tak pernah gelisah memikirkannya. Selamat lebaran ia yang kalau berpakaian, memakai pakaian taqwa dan memamerkan; betapa melimpah kasih sayang yang diterimanya. Kalau ia bersibuk, ia sibuk melayani-Nya. Kalau ia berdarah, itu demi melukis segala makna keindahan di atas bumi-Nya.

Lailaha illallah; benarlah janji-Nya, Ia membela hamba-Nya, Ia muliakan tentara-Nya, Ia hancurkan sekutu-sekutu-Nya, sendirian saja! [ ]

Foto: yesmuslim.blogspot.co.id

18 July 2012

Lensa Retak

Maka baiklah, nanti malam aku akan mengambil air, mengetuk pintu, dan tertidur. Aku yakin ini tidak cukup satu kali. Kontrak seumur hidup bukan sistem outsourcing. Ini bangunan yang harus mengabadi, bukan permainan bongkar-pasang anak-anak ingusan, kecuali sayap maut telah datang menjemput. Aku mengetuk pintu dengan akal sehat dan hati yang dipersiapkan, maka aku tidak akan menggugat apa pun hasilnya. Aku memang hanya noktah, tapi ego begitu menjajah. Menuju detik-detik hilal, menuju derap usia yang semakin tua, dan aku berdiri simpang itu. [ ]  

17 July 2012

Quantum

Kecemasanku mungkin beralasan, sebab usia sudah tidak muda lagi, sudah melewati angka 25. Sementara sainganku adalah mereka yang baru saja lulus dari SMA. Ilmu mereka masih hangat, seumpama pisang goreng yang baru diangkat dari wajan, dan mereka jumlahnya ribuan. Di wajah mereka terpancar semangat yang berkobar untuk meraih masadepan gilang gemilang. Tapi aku tak boleh surut, dengan langkah yang dikuat-kuatkan serta mengucapkan “Basmillah”, aku dekati gedung tempat ujian itu. Pensil 2B bermerek Faber Castel, alas triplek untuk menulis yang dilengkapi penjepit kertas, dan kartu ujian sudah aku siapkan. Baju dan celana sudah rapi dan licin karena disetrika, sepatu hitam sudah aku semir sejak dari subuh. Waktu aku menginjak gerbang di pintu masuk gedung, dadaku terasa sesak, aku bergetar; bauran antara kecemasan akan kompetisi dan rasa haru yang mencucuk, haru bahwa aku masih bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, dan masih berpeluang menginjakkan kaki di kampus yang dari dulu selalu gagal aku taklukkan.

***

“Bung, tolong bawa saya ke Fakultas Sastra,” / “Sekarang namanya bukan Fakultas Sastra bung, tapi FIB alias Fakultas Ilmu Budaya,” lalu bis kuning membawaku keliling kampus dan berhenti di FIB. Ini dia kampus yang mengkhianati nasib itu, ini adalah kasih tak sampai, sudah dua kali ikut UMPTN, dua kali pula gagal menembus kampus ini. Sekeras apa pun aku belajar, ujung-ujungnya pasti terduduk layu di depan koran pagi, arus darahku melemah, ditertawakan mereka yang nomor ujiannya tercetak di koran pengumuman. Aku sudah lupa bagaimana ceritanya sehingga nasib akhirnya membawaku ke sebuah desa di pinggiran kota Bandung, aku terdampar di Politeknik Gajah Duduk.

Pagi ini, sembilan tahun setelah nasib menolakku untuk belajar di kampus ini, akhirnya aku berhasil menjejakkan kaki di sini, aku hirup udara sebanyak-banyaknya, luar biasa, begini rupanya udara yang mengambang dan bergerak di sekitar orang-orang yang sedang belajar sastra, sangat anggun dan menyegarkan. Dadaku gembung sekaligus perih, cita-cita yang dibelokkan nasib memang sakit tak terkira. Beberapa orang mahasiswa terlihat sedang berselancar di internet, di tengah taman yang menyejukkan mata. “Bagaimana bung, apakah wajah mereka memancarkan aura novel?” / “Tidak terlalu bung, malah sepertinya masih lebih bagus tulisan kau daripada tulisan mereka,” aku kemudian duduk pada sebuah kursi di taman, di sisi gedung Departemen Sastra. Tadinya aku berniat mau mengeluarkan laptop, tapi tidak jadi, sebab aku tidak punya. “Bung, apakah syarat mengikuti SPMB dibatasi usia?,” / “Saya kira tidak bung,” kemudian diam, tanpa dialog.

Aku kemudian berdiri dan berjalan menelusuri setiap sudut Departemen Sastra. Semakin lama perasaanku semakin ngilu, begini rupa nasib telah memperlakukanku dengan sangat buruk. Aku duduk terpekur di salah satu sudut bangunan dan merasakan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba banyak wajah dan suara mengepung penglihatan dan pendengaran. Wajah-wajah para penulis novel, penulis cerpen, penulis puisi, penulis kritik sastra, dan masih banyak lagi wajah-wajah lain yang mengepung. Mereka semuanya mengeluarkan suara yang seragam, mirip gumam, “Kenapa kamu tidak kuliah di sini..?!”. Suara itu semakin lama semakin keras, mereka meneror dengan pertanyaan yang menyebalkan. Aku ingin menjawab pertanyaan mereka dengan teriak yang sangat keras, “Kampus ini tidak mau menerimaku..!!!”. Tapi itu urung aku lakukan, aku takut ditangkap satpam dan diusir dari kampus ini.

Aku akhirnya berlari, kembali ke taman dan mendapati kawanku yang masih duduk di sana. Tak ada dialog, aku sibuk dengan pikiranku. Aku kaget, aku melihat bayangan berkelebat, sosok seorang perempuan berkerudung. Bayangan itu semakin lama semakin nyata, dan ternyata perempuan berkerudung itu adalah Helvy Tiana Rosa. Dia tengah berjalan menuju Departemen Sastra, tangannya memegang buku “Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah”. Aku berdiri dan mencoba mengejarnya, tapi dia tiba-tiba menghilang. Aku kembali duduk. Angin berhembus pelan, aroma pohon membuatku ngantuk. Dalam kondisi mata yang semakin berat, tiba-tiba aku dikagetkan kembali dengan bayangan yang berkelebat, kali ini sosok seorang laki-laki berambut panjang. Dia juga berjalan menju ke arah Departemen Sastra. Aku langsung bangun berdiri dan berlari mengejarnya, aku semakin dekat dengan laki-laki itu, aku mengenalnya, dia adalah Seno Gumira Ajidarma, dia memegang buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara”. Tapi dia pun kemudian menghilang. Aku kembali dan terduduk lemas di kursi taman.

Kawanku diam saja, dia tak mengomentari apa yang aku lakukan. Tapi dia kemudian berbicara, “Bung, kalau kau kuliah lagi, usiamu bagaimana?. Ingat bung, ada agenda hidup lain yang harus kau jalani. Bukankah manusia itu diciptakan untuk berpasang-pasangan?, apakah kau lupa pada Ar Rumm ayat 21?, pada Al Baqoroh ayat 187?. Lagipula, sampai kapan semangatmu akan bertahan” / “Melawan terlambat bung, setiap hari adalah baru. Nanti, siapapun dia yang akhirnya menjadi Olva, tak ada yang boleh menghalangi mimpiku. Dan kau bertanya padaku tentang semangat, ketahuilah, semangatku untuk belajar sastra seperti api abadi di Mrapen ” Dia diam. Rasa kantukku sudah hilang, tapi hatiku masih perih, bahkan para penulis yang tadi sempat aku lihatpun ternyata hanya halusinasi, mereka hanya hadir dalam angan-angan, mereka tidak nyata. Mereka seperti ikut berkonspirasi memojokkanku. Keadaan ini mebuat emosiku naik dan meledak, detik itu juga aku kemudian bersumpah dalam hati; suatu hari nanti, kampus ini akan aku taklukkan.

Semenjak itu waktu seperti berjalan lambat, dia seumpama kereta tua yang kepayahan membawa puluhan gerbong. Aku tidak sabar menunggu pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri dibuka. Sementara itu, setiap hari, sepulang kerja dan setiap hari libur, aku selalu belajar keras dan habis-habisan. Aku kerahkan segala kemampuanku, aku patuhi nasihat Ahmad Fuadi; aku melebihkan usaha di atas rata-rata. Aku tidak mau gagal untuk yang ke tiga kalinya. Dia, kampus berjaket kuning itu harus tahu, inilah aku; aku dibesarkan di tengah keluarga guru yang gandrung pendididkan. Aku tumbuh dalam banyak peristiwa ketika bapakku menggadaikan satu persatu harta bendanya sampai habis demi untuk membela pendidikan. Kalau dia, kampus berjaket kuning itu menganggap aku akan menyerah hanya karena sudah dua kali aku gagal menaklukkannya, maka dia salah besar.

Waktu pendaftaran datang, aku hanya memilih satu jurusan : Sastra Indonesia UI, dengan penuh semangat aku membubuhkan kode jurusan pada formulir pendaftaran : 01201191. “Kok satu mas, kan jatahnya dua. Pilih satu lagi mas buat cadangan,” demikian petugas pendaftaran menasehatiku. “Tidak usah mbak, cukup satu saja,” / “Sayang loh mas, aku bukannya ngedo’ain, tapi siapa tahu di kampus ini mas tidak lolos, kan masih ada peluang di tempat yang lain,“ dia masih terus menasehatiku. Tapi aku tak bergeming, aku hanya memilih satu jurusan saja. Mbak petugas penerima pendaftaran akhirnya menyerah.

***

Dan hari yang ditunggu akhirnya datang. Semalam aku tak bisa tidur, gelisah, menunggu jejentik jam mengantarkan malam berubah menjadi pagi. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian. Mataku merah dan pedas. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi, aku sudah di lapak tukang koran di  pinggir jalan, bahkan tukang korannya pun belum datang. Udara terasa dingin, tapi aku yakin, rasa dingin ini bukan datang dari cuaca Jakarta walaupun waktu itu langitnya mendung, tapi dari dalam diriku yang gelisah, cemas, dan khawatir. Aku menyalakan cigarette untuk mengusir semuanya. Waktu tukang koran datang, aku semakin menggigil, kuhisap cigarette dalam-dalam. Setelah transaksi, aku langsung membuka koran itu di pinggir jalan. Aku susuri setiap nomor urut peserta ujian, angka terus bergerak, kartu ujian aku pegang di tangan sebelah kiri. Dan tiba-tiba aku berhenti pada sebuah nomor. Aku cocokkan nomor itu dengan nomor yang ada di kartu ujianku. Mataku tajam, dadaku gemuruh, pandanganku perlahan menjadi kabur, aku rasakan ada yang menggenang hangat dipelupuk mataku, aku menangis. “Allohu Akbar!!,” dengan tangan dan bibir gemetar aku bertakbir, nomor ujianku tertera di koran itu. Aku lulus..!!!.

Aku kemudian berlari ke tengah jalan yang masih lengang, sementara langit yang dari tadi mendung mulai menghamburkan serbuk hujan. Aku meniru gaya Ikal dalam novel Padhang Bulan, juga meniru kata-katanya. Aku menengadah dan kepada langit ku katakan : “Inilah aku!. Putra bapakku!. Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan!. Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin, karena aku belum menyerah!!. Tak kan pernah menyerah!!. Takkan pernah!!”. Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karena kemudian aku tersadar bahwa nomor jurusan yang aku tulis salah, nomor 01201191 ternyata bukan nomor jurusan Sastra UI. Aku keliru, nomor belakangnya ternyata terbalik. Seharusnya aku menulis nomor 01201119. Nasib kembali berkhianat, kali ini dia hanya menukar posisi dua angka saja untuk membelokkan cita-citaku.

Aku terduduk lemas. Aku menerawang. Mataku kembali terasa hangat. Tapi kali ini aku menangis bukan karena haru, tapi kesedihan yang tak tertanggungkan. Setelah badai di pedalamanku sedikit reda, aku mengambil buku panduan yang memuat nama-nama jurusan di seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia beserta nomor kodenya. Jelas tertulis di sana, bahwa kode jurusan Sastra Indonesia UI adalah 01201119. Lalu nomor 01201191 jurusan apa?, universitas apa??.

Tak pernah disangka sebelumnya, ternyata kode 01201191 adalah kode untuk jurusan Quantum ITB!!. Kepalaku langsung pening. Sangkaanku, jurusan ini pasti berhubungan erat dengan ilmu hitung, terutama fisika. Membayangkannya saja membuatku menjadi mual, belum sempat aku berlari ke toilet, aku sudah muntah di kamar. Kepalaku berat sekali, seperti habis dihantam palu godam. Kesadaranku melemah, berjuta kunang-kunang terbang rendah di depanku, pandanganku menjadi gelap, aku rebah dan kepalaku menghantam dinding tembok kamar. [ ]



Tato

Ini keajaiban dunia nomor delapan. Bahkan mengalahkan Pulau Komodo yang hanya bertahan sebagai nominasi. Seumur-umur, tak pernah dia datang ke kostanku, apalagi yang di Bandung. Tapi sore itu, dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih dan dibalut oleh cardigan hitam, dia datang ke kostanku, di Bandung. Aku tengah duduk di teras kamar sambil membaca buku Umar Kayam, waktu dia tiba-tiba datang menghambur dari arah pintu gerbang. “Haaii…..,” wajahnya ceria sekali, padahal titik-titik hujan menbasahi cardigannya. Asli, aku kaget bukan buatan.

“Tahu kostan gw dari siapa lo?”, dia tak menjawab, malah membuka cardigannya, lalu duduk di sebelahku. Nafasnya terdengar sedikit memburu, mungkin karena tadi dia berlari. Mukanya sedikit berkeringat, ini membuatku masuk ke dalam kamar dan membawa segelas air bening. “Makasih..,” dan dia minum, kerongkongannya terlihat bergerak ketika air melewatinya. “Gw ikut ke air dong, belum sholat nih,” lalu dia berdiri. “Tuh, airnya di pojok, tapi gw ga punya mukena Pit,” / “Gapapa, gw bawa kok.” Lalu dia berwudhu dan masuk ke kamarku. Pintu kamar di tutup dan aku masih di luar, masih membaca “Para Priyayi” karya Umar Kayam. Dan hujan masih titik-titk turun.

Tak lama kepalanya muncul di balik pintu dengan dibalut mukena. Kalau saja waktu itu sudah malam dan lampu di kostan mati, pasti aku kaget luar biasa melihat kepala putih di balik pintu itu. “Kiblat ke mana?,” dia bertanya letak Masjidil Haram. Kujawab, “ke barat”. “Gw juga tahu ke barat, tapi arahnya ke mana bung??!,” nadanya terdengar semacam jengkel. Lalu kutunjukkan arahnya, dan dia menutup pintu dari dalam. Tak terdengar suara takbir, mungkin dia pelan sekali mengucapkannya. Buku hampir tamat dan sore semakin redup.

Setelah sepuluh menit (dengan asumsi sholatnya lumayan khusyu, dan ini agak aneh) terdengar dia memanggil dari dalam, “Bung, masuk dong jangan di luar mulu!!, jadi ga enak gw.” Nah loh, ini kamar siapa?, kok dia nyuruh-nyuruh aku masuk segala, pakai teriak lagi. “Ngapain?!”, aku jawab juga dengan teriak. “Sini deh lihat, bagus ga?,” / “males ah, lo aja yang ke sini.” Lalu diam, tapi sebentar. Kemudian kepalanya muncul lagi di balik pintu, dan masih dibalut mukena. “Masuk dong, bentaaar aja!,” dia sedikit memohon, tapi aku menggelengkan kepala. Di akhirnya keluar dan menarik tanganku. Aku di seret masuk ke kamar, dan dia menutup pintu rapat sekali. Edan, ada apa gerangan?, dadaku gemuruh. Aku mulai bersu’udzon, jangan-jangan dia akan memperlakukanku seperti kelakuan Zulaikha mendzolimi Nabi Yusuf.

Tapi kemudian dia kembali duduk di atas sajadah yang tadi dipakainya untuk sholat, sementara akau duduk di kasur. Sambil membelakangiku, tiba-tiba dia melepaskan mukena, dan (dadaku benar-benar bergemuruh seperti mau pecah), dia melepaskan t-shirtnya!!. Aku melihat punggungnya yang benar-benar putih dan, gila, dia bertato!!. Mukena dan t-shirt dia pakai untuk menutupi piranti depan. Badanku menjadi panas dan gerah sekali. Tidak mudah berduaan dengan perempuan dalam kamar yang tertutup rapat, sementara perempuan itu memperlihatkan punggungnya yang mulus, putih, dan bersih, meskipun perempuan itu adalah kawan sendiri, meskipun dia duduk di atas sajadah dan memegang mukena; benda-benda yang dipakai ketika menjalankan ritual mendekati-Nya. “Bagus ga?!,” dia santai saja, seperti tidak menyadari keadaanku yang sudah panas dingin tidak karuan.

“Kok diam aja sih lo?, bagus ga tato gw?!,” dia bertanya lagi dengan nada yang mulai tinggi. “Ba..ba..bag…bagus..bagus Pit,” aku tergagap dan sedikit gemetar. Norak memang, tapi kenyataannya demikian, aku tidak bisa membasuh sedikit pun bahwa aku adalah laki-laki konservatif. Tatonya bergambar sayap elang, rapi, tercetak persis di bawah pundaknya, dan terlihat seperti logo Dewa 19. Dia mungkin terinspirasi oleh iklan bank BNI 46 yang versi sayap, atau mungkin juga terobsesi untuk terbang, aku tidak tahu. “Keren kan tato gw?,” dia bertanya lagi yang pertanyaan menggiring, bahwa aku harus menjawabnya dengan kata, “Iya, keren.”

Aku masih setengah tidak percaya waktu dia menyuruhku mendekat, “Di lengan juga masih ada bung. Sini deh lo nya mendekat.” Pelan-pelan aku mendekat, berdebar, tubuhnya hanya tinggal berjarak satu meter saja, aroma parfum terasa menampar hidung, dan mulai memperhatikan lengannya yang sebelah kanan, lengan yang putih itu, sementara lengannya yang sebelah kiri tetap kukuh menutup piranti depannya dengan mukena dan t-shirt putih, dia memamerkan tatonya yang bertuliskan : “MIGHTY”.

Lama aku terdiam, memperhatikan detail tatonya, lalu kembali ke tempat aku duduk, menjauh dari tubuhnya. “Lo balik kanan dulu bung, gw mau pakai baju,” kembali dia menyuruhku. “Tadi pas lo buka baju kok ga nyuruh gw balik kanan?,” aku sedikit protes. “Ga usah banyak tanya, cepetan balik kanan!!,” suaranya meninggi. Aku mengalah dan akhirnya balik kanan; mengahadap tembok kamar. Tak lama dia menyuruhku kembali balik kanan, kembali menghadapnya. Dan langsung kuserang dengan pertanyaan, “Udah lama lo ditato?,” / “Baru sebulan,” / “Di mana bikinnya,” / “Di tempat bikin tatolah, masa di toko buku!.”

Aku menuju pintu dan membukanya, tak nyaman lama-lama berduaan dengan perempuan dalam kamar yang tertutup rapat, sekuat apa sih imanku?, bahkan sholat pun kadang-kadang aku lalaikan, aku takut terjadi apa yang terjadi, dan bukan apa-apa, aku takut digerebek hansip, lagi pula sedari tadi aku belum menghisap cigarette, asam betul mulut ini rasanya. Kusulut A Mild, dan asap rerak berhamburan.

Aku menyerang lagi , “Emang lo ga tahu kalo tato itu haram?,” / “Hah, apa?, haram?!, kata siapa?!,” / “Eh Pit, tato permanen alias yang dirajah, yang merekatkan tinta dengan jarum mesin, seperti yang lo punya itu, tintanya menghalangi air untuk masuk ke pori-pori, lo kalo wudhu jadi ga sah, dan sholat lo pun otomatis jadi ga sah juga,” aku kira di akan diam mendengarkan penjelasanku, tapi ternyata dia langsung menyerang balik. “Nah ini yang lo belum paham. Hei bung, tidak semua tinta tato seperti itu, tato gw ga menghalangi pori-pori kok, jadi ga ada masalah donk,” dia rupanya berkelit dan melakukan pembelaan diri. Aku memang tidak paham masalah bahan dan dunia per-tato-an, jadi aku terdiam. Tapi kemudian aku membayangkan cara membuatnya. Tentu tato itu dikerjakan oleh oranglain, tidak mungkin, sangat tidak mungkin kalau dikerjakan oleh tangannya sendiri.

“Terus yang bikinnya siapa?,” / “Ya, tukang bikin tatolah, masa tukang gorengan!,” lihat, dia menjawab seperti petasan cabe, memukul, reaktif, berloncatan. “Maksud gw, ce apa co?, / “Cowok donk, mana ada tukang bikin tato ce.” Aku lihat wajahnya, tak ada sedikit pun garis-garis muka yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang perempuan yang pasrah. Pasrah punggungnya digerayangi tukang bikin tato, pasrah waktu lengan kanannya dipegang-pegang oleh ahli bikin tato. “Waktu bikinnya lo ga risih Pit?,” / “Maksud lo?!,” / “Punggung sama lengan lo dipegang-pegang sama tukang bikin tato emang ga risih?,” dia diam sebentar, lalu menjawab, “Risih juga sih, sedikit.”

Tak lama adzan maghrib berkumandang, aku pergi ke mengambil wudhu, dan dia meengikuti. “Lo mau sholat di mana?,” / “Di mesjid,” / “Di sini aja donk, kita berjamaah, lo jadi imam ya,” / “Engga, gw ga mau jadi imam orang bertato!!,” / “Emang kenapa sih kalo gw punya tato?, itu kan urusan gw, tugas lo cuma jadi imam, lo kan cowok, masa gw yang jadi imam?!!.” Tapi aku tidak peduli dengan argumennya, aku menyambar sarung dan peci putih, lalu pergi ke mesjid.

Dia masih di kamar, sedang mengacak-ngacak rak buku waktu aku kembali dari mesjid. Dia tak banyak cakap, diam, tak ada dialog. Mungkin dia marah. Buku-buku sudah banyak yang tergeletak di lantai, dan dia masih asyik mengacak-ngacak. Aku diam saja dan pergi ke teras kamar, membakar cigarette, hujan telah pergi, hanya jejaknya saja di tanah yang berlumpur. Tak lama dia muncul dari balik pintu, tangannya penuh oleh buku; lima buka dan diantaranya luamyan tebal. “Gw pinjem ya?”, aku tak percaya dengan ucapannya, yang ku tahu, dia bukan seorang yang berminat pada buku. Mungkin lebih cenderung kepada tato.

“Buku apa aja?, sini gw lihat dulu,” aku tambah kaget. Gila, perempuan bertato ini, yang kutahu tak pernah berminat sedikitpun pada buku, tiba-tiba mau pinjam lima buku yang semuanya adalah buku tentang agama dengan ketebalan yang cukup signifikan : Dialog Sunnah-Syi’ah (Syarafuddin Al-Musawi), Ma’alim Fi Ath-Thariq (Sayyid Quthb), Majmu’ah Rasail (Hasan Al-Banna), Menjadi Manusia Haji (Ali Syariati), dan Minhajul Muslim (Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri). Wah, dalam rentang beberapa jam saja, perempuan ini sudah membuat dua kejutan : Tato dan Buku!!.

“Ga salah nih?, lo kan ga suka buka?,” / “Buat bokap.” / “Oohh….” / “Gw balik dulu ya, udah malem nih,” / “Balik ke mana?, rumah lo kan di Jakarta, di Kelapa Gading, besok aja, jam segini udah ga ada bis!”. Tapi dia tidak peduli dengan ucapanku, dia telah berkemas. Tasku menjadi korban untuk membawa buku yang dipinjamnya. Dia memang keras kepala. Langit telah gelap. “Gw jalan dulu, makasih ya, Assalamu’alaikum!,” dan dia menghilang di belokan. Dasar keras kepala. Aku masuk ke kamar dan menemukan cardigannya tertinggal. Aku menghambur ke luar dan berusaha mengejarnya, tapi jalanan sehabis hujan adalah tempat yang licin. Aku tergelincir dan jatuh menghantam bumi. Dan tiba-tiba aku tersadar, aku menemukan diriku tengah memegang kepala yang sakit karena membentur tembok kamar. Aku masih terbaring di atas tempat tidur. [ ]

16/03/2011 - [ A Curious Dream ]

Rekti

"Kalau kau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Tapi jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri."

Puisi tersebut di atas berjudul “Kerendahan Hati” yang disebut-sebut sebagai karangan penyair Taufiq Ismail. Dan gawatnya puisi tersebut dicurigai sebagai jiplakan dari puisi berbahasa Inggris yang berjudul “Be the Best of Whatever You Are” karangan Douglas Malloch. Maka ramailah gonjang-ganjing, gossip berhembus bagai api membakar rumput kering di kalangan para peminat, pemerhati, dan pelaku sastra, bahwa Taufiq Ismail, penyair sepuh yang pernah menulis puisi pamflet di era menjelang kejatuhan Soekarno, yaitu “Tirani”dan “Benteng” itu sebagai seorang plagiator, penjiplak yang memalukan langit Sastra Indonesia.

Yang pertamakali menarik pelatuk adalah Bramantyo Prijosusilo, seorang seniman dari Yogyakarta yang baru-baru ini sempat konflik dengan Majelis Mujahidin Indonesia. Di dinding facebooknya, Bramantyo Prijosusilo menulis dengan keras :

“Kabarkan kepada dunia, penyair jahat Taufiq Ismail yang suka menekan-nekan seniman muda dengan cara-cara selintutan, adalah plagiator tuna-budaya.”

Bramantyo juga menulis di rimbunan komentar statusnya di atas bahwa seseorang memberitahunya bahwa Taufiq Ismail “njiplak dan karena aku sebel dengan kelakuan dia nggencet-nggencet Lekra, bahkan terakhir orang-orang eks Bumi Tarung yang sudah sepuh-sepuh mau dikerjainya. Jadi, kuumumkan sebisaku bahwa Ismail ini memang otak kurap.”

“Status” Bramantyo itu mengundang beragam komentar. Salah satunya aktivis Partai Gerindra dan sekaligus keponakanTaufiq Ismail, Fadli Zon. Lalu susul-menyusul komentar-komentar lainnya. Menurut pengamat Sastra Indonesia, Katrin Bandel, seperti tertulis di dinding facebooknya : “Jelas tidak sah dan tidak etis kalau diakui sebagai karya sendiri. Judul puisi memang tidak sama, mungkin agar tidak mudah ketahuan. Ironisnya, judul puisi Taufik justru : ‘Kerendahan Hati’. Hahahaha,” jelas Katrin. Sedangkan perupa Dadang Christanto berkomentar “Jika benar tuduhan itu, maka penyair Taufiq Ismail adalah seniman pecundang dan tak mengherankan kreativitas dan tindakannya mencerminkan kepencudangannya itu.” Dan masih banyak lagi komentar-komentar pedas yang menghantam harga diri Taufiq Ismail.

Gerah dengan serangan bertubi-tubi yang menyembelih harga dirinya, maka tepat tanggal 2 April 2011, Taufiq Ismail melakukan serangan balik kepada para penuduhnya. Salah satu sasaran tembaknya adalah Bramantyo Prijosusilo.

Di paragraph akhir pembelaannya Taufiq Ismail menulis : “Dalam kasus saya dikelirukan dengan Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh. Saya tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum, dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran nama baik. Saya meminta bantuan pengacara sastrawan Suparwan Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi dan Budayawan Fadli Zon.”

Lihat, betapa kata-kata yang dihamburkan secara serampangan telah mengundang ledakan. Semuanya telah mencapai titik didih. Emosi dilawan dengan emosi, hingga direncanakan harus melibatkan Kepolisian. Tapi untunglah, sebelum berkas gugatan Taufiq Ismail itu sampai di meja Kepolisian, Bramantyo akhirnya meminta maaf dan akhirnya keduanya berdamai dengan hangat. Di situs berita digital detik.com terlihat Taufiq Ismail berpelukan dengan Bramantyo. Mereka berdua telah memilih jalan kebaikan.

Ya, seperti juga kata Khaled Hosseini dalam novel ‘The Kite Runner’, dia menulis : “Selalu ada jalan untuk kembali menuju kebaikan.” [ ]

Di Bibir Maghrib

Di depan sebuah showroom motor Jepang, tidak jauh dari Rumah Sakit Islam, sore itu, hujan menghentikan langkah setiap orang untuk terpaksa berlindung dalam dekapan halte. Maghrib telah menganga di depan, dan gelap perlahan merayap. Setiap kepala yang terjebak, semuanya memiliki tatapan kosong, entah di mana pikirannya. Barangkali ada yang  telah sampai di rumah, di sambut secangkir kopi panas dan penganan alakadarnya. Atau mungkin ada yang tengah memikirkan dan gelisah tentang gerhana yang terjadi pada hubungan persahabatan, keluarga, atau relasi entah apa. Atau barangkali ada juga yang tengah tersangkut di masalalu, dalam kenangan melankolik dan sendu, tentang cinta yang telah begitu kurangajar memperdaya kepribadian. Dan mungkin ada juga yang mereka-reka masadepan, penuh misteri, tentang keluarga yang manis dan penuh simpati.

Cahaya yang berpendaran dari mobil dan lampu jalan, terkesan buram diiris arsiran hujan. Gelap mulai berkuasa dan panggilan kemenangan mulai terdengar dari pengeras suara. Tiba-tiba tercium aroma tembakau, sepasang jari sedang bermesraan dengan tuhan 9cm. Batuk dari tadi pagi berhasil menghilangkan selera untuk menikmati cigarette. Ada sedikit cemas yang bersembunyi entah di mana, tentang ketakutan akan harapan premature yang kapan saja bisa hancur berantakan. Suara kondektur tenggelam ditelan deras dan gemuruh petir. Tampias telah membasahi tas, baju, dan sepatu yang bocor di pinggirnya. Ini sebuah titik, sebuah jeda waktu untuk siapa saja yang mau meluangkan waktunya untuk melankolik, setelah seharian menukar delapan atau sembilan jam dengan rahmat kerja.

Dari apa sesungguhnya hidup ditegakkan?. Apakah dari rangkaian kekalahan dan kompromi?. Apakah dari berlembar-lembar kenangan yang masih hangat ataupun telah usang?. Apakah dari tsunami kata-kata yang pedas dan deras?. Apakah dari kompetisi mengumpulkan pundi-pundi?. Ataukah  dari minat yang bergelombang dan tidak bisa dibendung?. Ataukah dari kesadaran transenden yang sesekali hidup dan sesekali mati?. Pada akhirnya manusia tidak kembali kepada manusia, melainkan kepada Tuhan.

Ketika hujan mulai reda, orang-orang mulai berani menerobos. Dan saya baru teringat : belum sholat maghrib!!. [ ]

Ulangtahun dalam Timbangan

“Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya. (Alan Lightman)

Benarkah?.

***

Siapa yang bisa memfosilkan waktu?. Kita hanya mendapati angka yang dikasih tanda stabilo merah. Kata siapa waktu berulang?, yang serupa hanyalah angka yang merekat di kalender usang. Menyaksikan orang yang berulangtahun tidak seperti sedang melihat para pembalap yang berkali-kali menyentuh garis finish tapi belum berhenti karena jumlah lap belum terpenuhi semuanya, melainkan gambar utuh tentang perjalanan menuju titik akhir. Kita bisa menggugat Alan Lightman yang pernah menulis :

“Biasanya, orang tidak tahu bahwa mereka akan menjalani kehidupan mereka kembali. Pedagang tidak tahu bahwa mereka akan saling menawar lagi, dan lagi. Politikus tidak tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orangtua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan terdengar lagi. Sepasang kekasih yang pertamakali bermain cinta malu-malu melepas busana. Bagaimana gerangan mereka tahu bahwa tiap kerlingan rahasia, tiap sentuhan, akan terulang lagi tanpa henti, persis seperti sebelumnya?.”

Sebentar, bukankah yang terulang itu adalah aktivitas?. Benarkah waktu bisa berulang?. Kue cantik yang terasa manis oleh gula dan ucapan selamat dari relasi publik dan orang-orang tercinta adalah alarm yang begitu nyata, bahwa kita semakin menjauhi pangkal dan mendekati ujung. Tapi memang itu semua semacam ekstrak ramuan berkhasiat yang disimpan dalam tablet hisap abadi yang selalu mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian.

Atau barangkali sejenis obat ampuh bagi rutinitas yang bosannya jarang melepuh. Ya, seperti kata Muhidin M. Dahlan : “Kerap rutinitas memang membuat selera manusia merosot. Yang ada adalah sebuah ritual yang sudah kehilangan kesan yang mendalam. Biasa-biasa saja. Karena itu membosankan. Setiap ritual pasti membosankan kalau seseorang tidak mampu menangkap sesuatu yang menarik dalam rutinitas itu.”

Apapun itu, yang jelas kini tanggal dan bulan itu datang lagi. Menyapa lagi. Sama seperti tahun kemarin. Dan kemarin lagi. Dan kemarinnya lagi.

Menimbang ulangtahun artinya menimbang sudut pandang. Bukan bermaksud menggiring pada perspektif khotbah, bukan pula mengajak menakar ulang setiap perayaan yang begitu manis sampai tetes terakhir ke arah kutub konservatif. Tapi barangkali semacam sebuah lemparan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Sebab kuncinya sudah jelas. Sejelas tulisan Dewi Lestari yang sudah sering di repost di kanal-kanal catatan jejaring social:

“Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai disembur nafas, lilin tersungkur mati di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah. Sederet do’a tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kukuatan hati yang tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.”

Mei selalu menyala di awal. Jutaan buruh di seluruh penjuru dunia kerap turun ke jalan mengusung aspirasi dan pesan. Akankah nyalanya bersisa sampai di ujung?. Ah, barangkali boleh juga mengucapkan : “Selamat tanggal 31 Mei.” [ ]

16 July 2012

"give me medicine or cure, give me some rock n roll"

Apalagi yang ingin kau langkahi selain hari ini, dengan keringat dan air mata yang asin. Jarum jam kusesuaikan kembali dengan waktu permulaan, tak ada yang boleh merebut kemerdekaan selain reaksi kimia yang larut dalam pusaran fitrah. Setiap orang beranjak tua, tapi tidak setiap orang menjadi dewasa. Ah, itu bukan tagline sebuah local wine legendaris yang berjajar di pinggir jalan. Bukan pula iklan cigarette bersaham raksasa. Kusulut lagi candu ini. Aku bukan terdakwa, karena aku tidak akan pernah menyesal mencintai kata-kata. Hanya tumpukan buku yang aku selamatkan ruhnya, selain itu semuanya terlalu fana. Benda-benda yang kuhanguskan berubah menjadi asteroid yang membedaki langit utara. Apa kabar meja?. Bunyi tik-tak tik-tak jari masih saja terdengar, sambil menghisap KKK, menunggu rintik hujan dan ledakan bahasa. Dari balik jendela kulihat lagi udara lembab yang mengambang, awan kelabu membawa kabar kebenaran sederhana. Masadepan tidak akan pernah aku injak, hanya derap kaki yang terus-menerus menelan hari. Kusambung dengan air bening dari telaga terdalam, tapi burung nazar tidak akan pernah berhenti mengintai bangkai. Gerak angin yang menyayat seperti menawarkan bendera putih, kutuntun dengan diam, solilokui, dan aksara yang rapuh. Dan aku terhisap. [ ]

15 July 2012

Dunia Persilatan

Percakapan ini terjadi di udara, bertemu dalam gelombang satelit, lalu diuraikan oleh situs jejaring sosial, beberapa bulan sebelum berita Ruyati menjadi headline media-media nasional. Pada sebuah siang yang terik, tiba-tiba menu chatting saya menyala, tanda ada yang mau ngajak bicara, seorang teman lama muncul dalam wujud kata-kata. Tentu banyak yang terpotong, dan ini hanyalah sisa yang terselamatkan, kurang jelas awal, tengah, dan akhirnya :

My friend : Ya dunia persilatan, hahahahaha, eh Bung di kampung ada yang minat jadi TKI?
Me : Aman, Wiro Sablengnya sudah tua sekarang mah
My friend : Kalo ada yang minat kabar kabari atuh
Me : Banyak, tapi saya larang
My friend : Walah, kunaon, kan resmi
Me : Ah suka jadi korban, ga di luar negeri ga di dalam negeri
My friend : hmmmmmm
Me : Liat aja pas turun di bandara
My friend : Kadang ada juga kesalahan di pihak TKInya, ada juga kesalahan di pihak majikan, selagi perusahaan, negara, dan pihak luar sama-sama bertanggungjawab dan punya agreement resmi, biasanya tidak akan terjadi. Contoh : kemarin ada TKI cerita langsung sama saya, dia bilang sama majikan perempuan untuk dipulangkan saja karena saya sering di perkosa sama majikan laki-laki, dia bilang itu cara saya biar bisa pulang bu, padahal majikan laki-laki ga mau ngasih duit saya. Woowww.., ada juga yang memang diperlakukan asli tidak berprikemanusiaan oleh majikan, saya sendiri pun marah sangat.
Me : Kita harus jujur, TKI mayoritas level pendidikannya rendah dan berasal dari kampung, mereka tak paham dengan segala regulasi dan retorika pemerintah dengan negara tempat mereka bekerja, data real di lapangan hanya dirasakan oleh para TKI dan ujung-ujungnya jadi headline berita : "Telah mati TKI bla.bla.bla di negara bla.bla.bla".....saya sendiri, maaf, tidak pernah percaya kepada badan resmi TKI yang berada di bawah pemerintah.
My friend : Karena pemerintah sendiri yang berbuat seperti itu, setiap orang punya hak ko bung, its ok just 4 share.
Me : Iya saya setuju, dari daerah saya sebenarnya sampai saat ini banyak sekali yang sudah jadi TKI, tapi dari kampung saya persis, saya kira tidak ada. [ Tgl tidak tercatat ]

14 July 2012

Sadarkah Kau Kawan, Kedaulatan Frekuensi Kita Dirampok Jakarta!

Salah satu lagu yang terkenal beberapa puluh tahun lalu, bertanya : “Siapa yang menyuruhmu ke Jakarta?”. Saat ini jawabannya sederhana : Televisi!.

***

Menuju Rumah

Sekali waktu, Bung Rano, kawan saya pernah menyodorkan sebuah pertanyaan tajam : “Bung ini, apalagi yang kau tunggu, segeralah menikah. Kalau alasannya belum cukup, belum cukup apalagi?, semua orang yang menikah pasti dalam keadaan belum cukup. Nanti setelah kau punya istri semuanya akan disempurnakan.” Dan saya, seperti biasa, hanya diam tak bisa menjawab. Tapi tiba-tiba saya teringat sebuah kata-kata yang sering didengar, entah siapa yang mula-mula mengatakannya : “semua akan indah pada waktunya.”

Lebaran dua tahun yang lalu, seperti biasa saya pulang kampung. Pada sebuah sore, ketika tengah membaca buku di teras depan, tiba-tiba Bung Dodo, kawan sewaktu di Madrasah Tsanawiyah datang berkunjung. Lalu ngobrol kesana-kemari, dan berujung pada sebuah pertanyaan yang dilontarkannya : “Bung ini sudah menikah belum.” Saya menggeleng. “Ah, kawan, apalagi yang kau tunggu, segeralah. Apakah kau tak tertarik untuk segera menikmati indahnya hidup berkeluarga?.” Saya hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba petang hampir dijemput maghrib. Dia pamit pulang.

Ponsel berbunyi, terdengar suara seorang kawan, Bung Abu. Tanya kabar, saya jawab : “sehat”. Panen tertawa dari cerita-cerita masalalu, dan terhenti di sebuah pertanyaan klasik : “Kapan Bung mau menikah?. Segeralah, ayah Bung sudah meminta menantu perempuan.” Dia bertanya dengan nada bercanda, tapi terdengar serius di telinga saya. Saya jawab, “nantilah, kawan.” Dia menyerang lagi : “ah kau ini, selalu saja nanti-nanti, tak maukah kau menjadi seperti kawanmu ini, sudah jadi seorang ayah kawanmu ini, Bung.”

***

Saya memanggilnya Wangihujan. Cantik adalah urusan mata, sedangkan ketenteraman bersemayamnya di jiwa. Siapa yang ingin menjadi petualang?, saya hanyalah orang rumahan. Siapa yang tidak ingin mengikuti sunnah kanjeng nabi?, setiap orang yang masih sendirian pasti merindukan saat-saat itu, saat ketika akhirnya perempuan menjadi halal bagi laki-laki, dan laki-laki menjadi halal bagi perempuan. Ini melebihi kisah drama romantik, sebab bukan sekedar jejalih cerita mesra, tapi lebih dahsyat lagi : mendirikan lembaga kehidupan yang bernama keluarga. Tempat yang mula-mula melindungi anak manusia dari lebat dan teriknya pergaulan hidup.

Kemudian perempuan itu menjadi calon ibu. Di rahimnya yang kuat ada yang bersemayam dengan nyaman. Nama tempat itu sama dengan nama Tuhan : Rahim = Penyayang. Maka tak berlebihan jika perempuan selalu didesain dengan sifat penyayang yang luar biasa. Dalam lindungan rahim itu, memasuki bulan ke empat, ruh ditiupkan. Sang calon ibu membawa dan melindungi ruh baru yang sangat disayanginya. Tapi kondisi fisik memang terus bertambah turun. “Wahnan ala wahnin”, payah yang bertambah-tambah.

Sementara yang laki-laki dihinggapi cemas yang luar biasa. Inilah kelahiran anak pertama. Nama sudah disiapkan jauh-jauh hari. Apapun nanti jenis pirantinya, si calon ayah telah siap dengan nama yang berkarakter. Bukan tidak tenang, tapi bagaimana rasanya menunggu kehadiran sang ahli waris menghirup dunia?. Maka setiap laki-laki brengsek harus kerap diingatkan tentang cemasnya menunggu kelahiran anak pertama.  Proses di mana sang istri berjuang antara hidup dan mati.

***

Saya berdiri di atas kaki sendiri. Merindukan keluarga yang mengabadi sambil bekerja mengisi pundi-pundi. Barangkali waktu telah menjadi pembunuh berdarah dingin, tapi saya tidak menyerah. Saya bersabar menanti saat itu tiba. Dan saya tidak tinggal diam, tapi berjalan, bahkan berlari menuju rumah ketenteraman itu. [ ]   

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai