28 June 2012

Karni

Empat anak panahnya telah melesat ke masadepan. Kini Karni hidup sendirian, mirip seperti orangtua berkacamata di film kartun Shaun The Sheep. Bagi Karni, waktu berjalan seumpama sumbu petasan yang dibakar dan berlari kencang menuju hulu ledak. Meledak. Berhamburan. Lalu sepi. Kini anak-anaknya sudah punya alamat rumah masing-masing. Mereka membangun lembaga kehidupan sendiri, sementara hulu batih lembaga kehidupannya hidup sendirian dan kesepian. Mempunyai anak, menemani pertumbuhannya, lalu ditinggal pergi, bagi Karni, persis seperti meniup balon gas. Balon terlepas dan terbang tinggi ketika volume udara telah membuatnya hamil. Dan mudik, oh mudik, tidakkah itu hanya semacam ziarah ke masalalu?. Pertemuan setahun sekali dengan anak-anaknya tak lebih dari sekedar pamer keganasan waktu. Jutaan milisekon telah membuat badannya perlahan menjadi ringkih, dan rambutnya berangsur memutih. Anak-anaknya, seperti juga dia sadari, memang adalah anak panah masadepan, tapi juga dirasakannya---ketika mereka pergi---seperti mata pedang virtual yang meninggalkan ruang kosong lalu membabatnya, yang orang banyak menyebutnya sebagai rindu.

Sekali ini Karni mengakui juga, dia merindukan anak-anaknya. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai