15 May 2012

Ventilasi

“Menurut Bung, siapa yang bisa melakukannya?”
“Angkatan Muda”
“Kenapa Angkatan Muda?”
“Dari dulu sampai jatuhnya Harto, Angkatan Muda para pelakunya!”
“Bagaimana dengan buruh?”
“Buruh tidak bisa berkutik, mereka punya anak, punya bini yang hidupnya harus dipenuhi, sedangkan di belakang mereka adalah kepentingan multinasional. Membungkam mereka akan lebih gampang daripada membungkam para pelajar dan mahasiswa yang pikirannya masih jernih, masih bebas, tidak diberati oleh banyak beban dan kebutuhan!.”

***

Pernahkan kamu, entah bagaimana mulanya, kadang-kadang merasa menjadi bangsa yang inferior?. Di hadapan orang asing tubuh dan jidatmu membungkuk, atau pasrah menerima serapah. Kemarahan akan memasuki stadium 4 jika kamu menganalogikan pasa asing itu adalah tamu, dan tamu itu memberikan ukiran terbaik di wajahmu dengan sepatu ceko yang yang keras. Sarapan paling sial adalah ketika pantat belum genap lima menit duduk di kursi, kupingmu telah kenyang oleh umpat dan maki daalam bahasa Korea. Dan kamu sadar ini bukan cinema drama yang mampu menguras air mata, tapi menguras magma emosi yang masih terlelap di pagi hari.

Ketika mata rantai proyek "Nation and Character Building" terputus, tiba-tiba saja kemerdekaan dan kejayaan menjadi mitos. Seorang mahasiswa Antropologi tidak jadi membuat field work di pedalaman Papua, dia harus puas dengan skripsi tentang masyarakat tukang buah-buahan di pasar induk Kramat Jati. Alumnus-alumnus jurusan kimia tidak mendapatkan formula canggih, mereka terdampar di pabrik sabun dan mentega.

Apa yang terjadi dengan peristiwa Malari 1974?, ketika motor-motor Jepang dibakar dan dibuang ke kali Ciliwung?, mungkin Hariman Siregar, Sjahrir, dan Rahman Tolleng adalah orang-orang yang pantas untuk menerima pertanyaan tersebut, sebab mereka ditangkap : masuk penjara tanpa proses pengadilan. Harus ada ralat, bahwa kemerdekaan sebenarnya belum pantas untuk diproklamasikan.

Apa kabar dengan 1 Mei?. Setiap tahun agenda tuntutannya tidak berubah : tingkatkan kesejahteraan buruh dan hapuskan out sourching. Setiap tahun mereka berteriak, dan sepanjang tahun pula pemerintah tuli. Siapa berani pakai otot?, siap-siap saja dipukul mundur dan pulang membawa oleh-oleh perban di jidat dan lengan. Tapi mereka bukan patung selamat dating, mereka adalah makhluk biologis yang sepanjang tahun terus makan, minum, dan berbiak. Maka kalau pun tidak dibungkam, mulut mereka tertahan untuk tidak terlampau banyak bacot, sebab kelangsungan hidup keluarga taruhannya. Dulu, di kamarnya yang remang dan banyak nyamuk, Hok Gie pernah menulis dengan nada satir : “Kalau mau aman kerjalah di sebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil, atau jaminan-jamianan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai.”

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah onani konyol, tapi semacam sore hari ketika para kuli perbaikan jalan minum kopi dan sadar sepenuhnya bahwa besok mereka akan kembali dijemur. Seperti lobang angin yang menjadi lalu lintas sirkulasi, maka kalau tompel cukup di muka saja jangan di sekujur tubuh. Barangkali, harus ada yang tersisa sedikit saja dari jiwa kita yang bebas dari jelaga. Dan besok selasa. Pesta akan kembali berulang. [ ]

 19 Juni 2011

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai