15 May 2012

Tabur Embun di Kalibata

“Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.” (Dewi Lestari)

Sepotong pertanyaan kadang-kadang muncul di benak saya. Sederhana saja. Mana yang benar : Jalan Riau atau Jalan R.E. Martadinata?. Jalan Tamansari atau Jalan A.H. Nasution?. Pertanyaan ini akhirnya membawa saya ke Haarlem, sebuah kota tua di Belanda yang dipenuhi kanal, yang jaraknya 10 kilometer dari tepi pantai, dan 15 kilometer sebelah barat Amsterdam. Di kota tua terbesar nomor sepuluh di negeri Kincin Angin itu ada jalan yang bernama Mohammed Haatastraat. Ujung jalan tersebut bertemu dengan Sutan Sjahrirstraat. Cukup menakjubkan. Di negeri yang pernah melahirkan para bromocorah rempah-rempah ternyata ada dua nama pejuang kemerdekaan Indonesia yang diabadikan. Barangkali para pengambil kebijakan nama jalan di negeri bendungan itu berpikir bahwa masalalu adalah masalalu, dan sejarah tidak digoreskan untuk mengabadikan dendam.

Mungkin mereka berpikir bahwa orang-orang dengan pikiran besar dan sepak terjang militant harus diperlakukan secara fair. Maka tak heran jika di kawasan itu ada pula jalan yang namanya diambil dari Emiliano Zapata (pemimpin pemberontakan petani asal Meksiko), ada Savador Allende (mantan pemimpin Cile, politisi sosialis yang dikudeta), ada pula Steve Biko (mahasiswa Afrika Selatan kulit hitam antiapartheid yang tewas di penjara), Bisschop Luwun (uskup vocal asal Uganda yang meninggal akibat kecelakaan mobil, diduga atas rekayasa diktator Idi Amin), Antonio Neto (politikus asal Angola), juga Pal Maleter (jenderal revolusioner asal Hungaria).

Membaca nama-nama jalan tersebut membuat saya seperti sedang berdiri di titik nol kilometer kota Bandung, tepat di titik ketika Daendels berkata, “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd” (“Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”). Pikiran saya tiba-tiba bergerak ke belakang, ke Banda Neira yang permai oleh pantai, tempat di mana Sjahrir bermain dengan anak-anak. Baadilla tua adalah seorang keturunan Arab yang pernah menjadi saudagar, dia menitipkan cucu-cucunya kepada Sjahrir. Goenawan Mohamad pernah membayangkan Sjahrir di paviliun itu : ia seorang hukuman yang berbahagia. Ia mengajar anak-anak itu menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan entah apa lagi. Ia menyewa mesin jahit Singer dan menjahitkan pakaian mereka.

Sjahrir memang ceria, berbeda dengan Hatta yang kutubuku. Ketika pesawat Catalina berputar-putar di atas Banda Neira hendak membawa dua tahanan politik, Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak peti. Sementara Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak-anaknya, meskipun salah satunya masih berumur tiga tahun. Tapi Sjahrir yang ceria, mencintai anak-anak, dan gemar mendengarkan musik lewat gramofon, bukan berarti tidak bisa membentak dan mengkritik presiden.

Rosihan Anwar pernah bertutur, ketika Belanda melancarkan aksi militer pada bulan Desember 1948, Sjahrir bersama Soekarno dan Agus Salim diasingkan ke Brastagi dan Prapat, Sumatera Utara. Sekali waktu Soekarno mandi dan melantunkan lagu One Day When We Were Young cukup keras. Sjahrir merasa terganggu. Dia berteriak, “Houd je mond !! (tutup mulutmu).” Soekarno bilang ke Agus Salim, “Siapa dia, marah-marah dan berani bentak. Saya ini kepala negara.” Sjahrir juga pernah mengkritik Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda, “Kamu kan presiden, jaga gengsi dong!,” katanya. Soekarno jengkel.

***

Muncar, Banyuwangi, 1955. Hatta berdiri di atas sebuah meja kayu, memegang mikrofon dan berpidato di hadapan rakyat yang sebagian berjongkok dan sebagian lagi berdiri. Dua orang tentara dengan seragam lusuh dan sederhana berdiri di depannya sambil menyandang bedil, mungkin Paspampres kalau sekarang. Sementara dua meter di depan tentara itu seekor kambing kurus tenang saja bermain, tidak diusir warga ataupun tentara, padahal wakil presiden sedang berdiri di “podium”. Sebuah pemandangan yang bersahaja, apalagi jika melihat dua peristiwa belakangan ini, di mana seorang mahasiswa di Bandung dibuat lari ke rumah sakit karena kena hajar pampampres waktu berusaha membentangkan spanduk di depan wapres. Ada juga seorang tukang kebun yang lugu, melintas di depan podium presiden karena tidak tahu, dengan sigap paspampres mengamankannya. Ya, sigap terhadap tukang kebun yang lugu dan tidak tahu.

Sepuluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, protokoler terlihat sederhana, justru kesederhanaan inilah yang membuat rakyat begitu dekat dengan pemimpinnya. Selembar foto ini juga merupakan cermin sahaja dari seorang Hatta. Salah satu kisah Bung Hatta adalah kisah sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Beliau kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. Ya, kisah Hatta berjejalin sahaja.

Waktu beliau masih kanak-kanak, orang-orang tua di Bukittinggi menyebutnya sebagai anak “cie pamaenan mato” (anak yang pada dirinya terpendam kebaikan, dan perangainya mengundang rasa sayang). Sekali waktu Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya, dinyatakan pailit karena piutangnya yang tidak tertagihkan pada saudagar lain, dan hal ini membuatnya harus mendekam di penjara pemerintahan Hindia Belanda selama enam tahun,  sementara itu Hatta harus pergi ke Belanda untuk melanjutkan sekolah. Dari balik jeruji penjara, Ayub, orang yang mencintai Hatta itu, yang membiayai sekolah Hatta selama di Jakarta berpesan agar Hatta tetap meneruskan pelajarannya ke Belanda, dan tak usah mengkhawatirkan beliau. “Biarlah, aku beristirahat sebentar di sini. Aku gembira sekarang Hatta sudah dapat berangkat ke Rotterdam.” Dan berangkatlah Hatta ke Belanda. Selama sebelas tahun beliau bergulat dengan berbagai aktifitas pergerakan, termasuk memimpin organisasi pelajar dari tanah air di Eropa : Perhimpunan Indonesia.

Dari sebelas tahun pergulatan dalam perjuangan itu ternyata ada satu kisah yang tertinggal di sudut Rotterdam. Suatu hari, 8000 mil dari Bukittinggi, tempat ia lahir dan dibesarkan, tanpa uang di saku ia mendekati sebuah rak buku besar di De Westerboekhandel, sebuah toko buku tua di kota itu. Ia mengambil Hartley Withers, Schar, dan beberapa buku karangan T.M.C. Asser. Ia tak rahu dengan apa semua buku itu harus dibayar. Beruntung, pemilik toko buku itu tahu bagaimana harus bersikap kepada mahasiswa miskin dari Dunia Ketiga. “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayarannya tiap bulan f 10. Aku diijinkan memesan buku it uterus sampai jumlah semuanya tak lebih dari f 150,” demikian tulis Hatta dalam buku Mohammad Hatta Memoir.

Beberapa buku tentang Bung Hatta saya baca perlahan. Saya berusaha menyesap kisah-kisah perjalanan hidupnya. Ah, panjang sekali. Barangkali benar kata penyair dari Padang itu, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak pernah tamat dibaca.” Sementara dari kamar sebelah, samar terdengar sebuah lagu dari radio, suaranya agak kemerosok :

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…

Jujur, lugu, dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru

Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

***

Dari titik nol kilometer pikiran saya terus bergerak. Teringat Bung Karno, Natsir, Tan Malaka, Daud Beureuh, Kertosuwiryo, Wahid hasyim, Agus Salim, dan Jenderal Soedirman. Teringat pula kepada seorang anak berumur 12 tahun yang tertidur menyandang bedil di sebuah tikungan di sudut kota Surabaya, ketika pertempuran antara tentara Inggris dan ribuah pemuda pecah, berdarah-darah. Para pemuda yang tidak mau tunduk langsung maju ke garis depan setelah Bung Tomo menggelorakan semangat lewat corong radio. Ah, masih sangat jelas pidatomu Bung. Dengan bantuan youtube saya mencoba mendengarkan kobaran itu :

Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka…

Saudara-saudara,
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya

Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini

Dengarkanlah ini tentara Inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian

Hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita :

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itu, kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka

Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap : merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

***

Di subuh yang kesiangan, sisa udara dingin mengambang di udara, dan embun masih berkuasa di Kalibata. Saya berusaha merapal beberapa potong kalimat, mungkin namanya do’a :

"Tuhan, jangan biarkan saya menjadi bosan membaca dan menulis.

Jangan biarkan saya menjadi berhenti atau bahkan mundur karena tulisan yang tak berstruktur, tambal sulam, terlampau banyak mengutip dan menyalin, loncat-loncat, tersesat, dan hampa makna.

Jangan biarkan semangat saya menguap, pergi meninggalkan aksara, dan melupakan buku.

Berilah kesehatan kepada kedua tangan saya agar selalu bisa mengerakkan jari untuk menulis.

Sematkanlah sebaris kata-kata Chairil ke dada saya, “Berselempang semangat yang tak bisa mati.” Amin… [ ]

Itp, 7 Nov ‘11

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…