14 May 2012

Solilokui Link Lagu

Ini memang tidak penting. Hanya sebuah kereta masalalu yang mencoba masuk ke station masakini yang jelas-jelas sudah tidak relevan. Gerbang pintu telah ditutup, dan aku mencoba menatap realitas yang selalu meminta konsekwensi dari apa yang aku pilih. Tapi hidup selalu menyediakan sisi sosial untuk meletakkan interaksi di ranah relasi; baik ritus pertemanan, mantan, atau diantara keduanya. Dan dia akhirnya datang lagi. Sekali ini lewat sebuah link lagu, yang katanya, kata kereta masalalu itu, diciptakan untukku. Ini memang tidak penting. Tapi aku merasa ingin mendengarkan lagu itu. Sebuah perhatian---dengan disengaja ataupun tanpa tendensi apa-apa---selalu saja seperti matahari yang menghangatkan. Lagunya memang tidak special, bahkan biasa saja, meskipun band indie tapi tak jauh dengan harmonisasi band-band mayor yang disangoni oleh label-label yang kehilangan idealisme.

Waktu yang telah menyembelih kebersamaan adalah parade milisekon yang tidak bisa difosilkan. Aku telah resigned, dan dia---menurut kabar yang agak samar---terganjal kasus penggelapan financial. Dan kalau aku tidak merespon usaha komunikasinya yang dia layangkan lewat link lagu, hanya karena dia “bermasalah”, adalah hal yang tidak adil. Aku bahkan ingin berbincang lama dengannya, entah apa namanya, barangkali semacam ingin mengkonfirmasi masalahnya. Tapi hal ini pun tidak mudah, sebab dia---dalam prasangkaku---pasti akan menyambar-nyambar lagi hal yang telah berlalu itu. Padahal sekarang aku tengah berkemas dengan berbalut cemas; menabung dan menimbun keyakinan untuk membakar sumbu ledakan yang bernama pelaminan.

Jalan selalu punya alamatnya masing-masing. Dan siklus biologis akan mendampingiku untuk kemudian---mudah-mudahan kalau masih diberi waktu---menjadi seorang istri, lalu berbadan dua, dan mengantarkan ahli warisku mengecup wangi dunia. Memang terbayang sederhana jalan yang akan aku tempuh itu, tapi apa lagi sebenarnya yang aku cari?, perempuan tidak bisa mengkhiati kodratnya sebagai ibu manusia.

Hal-hal yang bernama kenangan dan melankoli---betapa pun beratnya untuk dilupakan---pada akhirnya harus menyerah ditikam agenda realita. Mungkin tidak semua yang aku inginkan bisa hadir digenggaman, dan puncak-puncak mimpi tidak sepenuhnya menjadi kenyataan. Sementara waktu terus memburu nafasku untuk tidak berlarut-larut dalam banyak pertimbangan yang seperti tak ada ujung. Ah, inilah dia godaan pertama itu. Dia tengah menjilat-jilat keputusanku. [ ]

13 Des ‘11
--Untuk seorang kawan--

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai