19 May 2012

Rute


Pagi telah melepaskan balon gas ke udara, lalu angin merubahnya menjadi matahari. Entah pada menit keberapa saya sudah berdiri di depan cermin, melihat kembali seorang laki-laki yang membetulkan kerah bajunya.

Bola api perlahan naik, dan saya melewati lagi tukang nasi uduk, got busuk, dan seorang nenek yang terlihat masih mengantuk. Di ujung gang, manusia bergerak seperti diorama yang berjalan, pergi menuju ke alamatnya masing-masing.

Tidak pernah ada pertanyaan untuk setiap langkah yang dibuang, untuk setiap detik yang ditukar degan jadwal. Seperti gelap pekat yang tidak bisa mengelabui tangan untuk menemukan mulut, hari-hari kita, barangkali, seperti itu juga. Gerak motorik telah hafal di luar kepala, dan hidup terus saja kita lanjutkan.

Barangkali, pagi ini harus turun hujan, agar para pejalan kaki menepi dan berteduh di pinggir atap rumah oranglain, menunggu sambil melihat jejaknya yang perlahan mulai terhapus. [ ]

15 april '11

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…