19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 4)


Apa yang seringkali kita lupakan?, mungkin salah satunya adalah bahwa kita pernah dibesarkan oleh seorang ayah, oleh seorang laki-laki yang agak pendiam, tak banyak cakap, tak pernah terlihat menangis, kadang-kadang doyan cigarette, dan setia kepada keluarganya. Dalam sebuah sore yang hangat, lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu, mengajarimu naik sepeda di ujung jalan yang agak sepi. Waktu kamu terjatuh dan lututmu berdarah, dia, lelaki yang tak banyak cakap itu, menyemangatimu untuk bangkit dan belajar lagi.

Kalau siang hari hujan turun deras, kamu sudah pulang dari sekolah, dan di luar rumah; kawan-kawanmu sangat menggoda dengan salah seorang memegang bola, maka kamu akan keluar mengendap-ngendap, dan berlari ke tanah lapang, mandi hujan dan pesta lumpur. Di rumah, kalau ibumu sudah menunggu dan siap memarahimu, lelaki yang agak pendiam itu justru bersikap sebaliknya, dia akan memberimu uang agar kamu dapat membeli bakso. Dia mengetahui hal-hal yang menyenangkan, karena dia juga pernah menjadi anak laki-laki.

Ketika kamu beranjak dewasa dan mulai terlihat cantik, usiamu bergerak mendekati kepala dua, organ tubuhmu seperti ada yang bertambah, dan kamu betah berlama-lama di depan cermin, maka lelaki yang tak pernah terlihat menangis itu akan hati-hati mengamatimu dari jendela, ketika kamu pergi dengan seorang laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat. Karena kamu agak sedikit mudah digoda, maka akhirnya kamu pulang malam. Rumah telah redup, kamu hati-hati mengetuk pintu, ibumu bangun dengan mata pedas karena masih ngantuk, lalu kamu setengah berjingkat masuk ke kamarmu dan mencari cermin untuk melihat senyum. Laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat telah membuatmu merasa menjadi istimewa. Apakah kau tahu sayang?, tadi, waktu kamu berjalan berjingkat, di sudut ruang tamu, di bawah remang pantulan cahaya lampu, ayahmu duduk menunggu kedatangannu. Dia mencemaskanmu. Dia belum tidur sekejap pun sebelum bidadari kecilnya sampai di rumah.  

Pidibaiq pernah bilang, “Aku juga sepertimu, berasal dari sorga yang turun ke bumi dengan cara diam-diam diselundupkan oleh ayahku di sebuah kamar pengantin, lalu keluar dari ibuku di sebuah kamar rumah sakit.” Tapi ayah sesungguhnya bukan seorang penyelundup, dia hanya menangkap gemuruh, membaluri cinta, dan dengan sebaik-baiknya berusaha merawat anak-anak terbaik yang diamanatkan Tuhan kepadanya, dengan caranya sendiri, yang kadang-kadang terasa lirih dan sunyi.

Coba tanyakan pada ibumu, apa yang sering diberikan ayahmu kepada istri tercintanya?. Pasti ibumu mengerutkan dahi dan sedikit bingung, sebab lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu jarang sekali memberikan sesuatu. Dia tak pandai memberikan kejutan, apalagi memberikan hadiah-hadiah yang mewah. Tidak, dia tidak punya uang sebanyak itu. Tak banyak yang dia diberikan kepada istri tercintanya, kecuali bangun di tengah malam untuk mengganti popokmu yang basah, kecuali terlihat senang dengan masakan ibumu yang sederhana, kecuali memperbaiki genteng bocor dengan tangannya sendiri, kecuali tak pernah menginap ketika pergi ke luar kota karena ingin segera pulang, kecuali menikmati dengan penuh khidmat kopi di pagi hari yang sudah tersaji dari tangan sang istri, kecuali tak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang ditemuinya di luar rumah, dan kecuali bersikap jujur kepada istri tercintanya.

Dari mana mereka, ayah-ayah kita itu belajar mencintai pasangan dan keluarganya?, mungkin dari buaya. Sebab buaya tidak pernah membaca novel Jendela-Jendela yang ditulis Fira Basuki, karena di dalamnya ada June yang melakukan affair dengan Dean, mereka mengkhianati Jigme (suami June dan sahabat Dean). Dia juga tidak pernah membaca novel yang diadaptasi dari film Cinta Dalam Sepotong Roti, yang lagi-lagi ditulis Fira Basuki, sebab buaya tak mau tawar-menawar perasaan seperti yang dilakukan oleh Mayang, Harris, dan Tovan. Dia pun tidak pernah membaca cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu yang seringkali berbicara banyak sekitar---maaf—payudara, lendir dan selangkangan. Bahkan dia juga menjauhi novel Dewi Lestari yang sangat memikat, yang menceritakan perselingkuhan antara Rana dan Ferre, atau dalam sebutan lain antara Putri dan Ksatria.

Buaya tahu, dia dilahirkan bukan untuk membaca tulisan-tulisan seperti itu, apalagi menirunya, tapi entah kenapa dia selalu saja menjadi metafor untuk mewakili tabiat laki-laki brengkes?. Yang mengerti tabiat buaya yang sesungguhnya hanyalah masyarakat Betawi. Di acara pernikahan masyarakat Betawi, pengantin laki-laki biasanya membawa roti buaya sebagai lambang kesetiaan. Kalau tak percaya, tanya saja kawan saya, namanya Bung Rohman. [ ]

15/04/2011

No comments: