19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 2)


Sebermula adalah pagi, dia tajamkan tatapan ke arah mataharinya. Dari mana datangnya matahari?, dia sendiri tidak tahu. Selalu ada pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Ada lidah api yang terkadang menabrak logika dan rasionalitas sosial. Komoditi pasar yang satu ini memang berdaya hantam hebat. Matahari dan dirinya sama-sama berdiri, membentuk garis diagonal. Dari belakang setengah samping, dapat dia lihat, mataharinya terlihat cantik. Seperti motor Jepang yang menemukan jalan tikus, lidah api selalu dapat menembus labirin yang ujungnya tak terduga.  Saya kira mas Joko sedang mengalami hal yang sama seperti pagi itu, waktu dia menulis puisi. Katanya, kata mas Joko, “Seperti anak rusa menemukan sarang air / di celah batu karang tersembunyi.”

Nasib terbaik adalah membaca buku. Meskipun kemudian menjadi subversive. Matahari kembang gula susastra tidak bersinar di mahatinggi cakrawala, dia hanya terbit di perasaan yang susah didefinisikan, dan di lorong panjang gudang kata-kata.

“Seperti gelandangan kecil menenggak sebotol mimpi / di bawah rindang matahari,” itu pun, lagi-lagi, kata mas Joko. Barangkali, atau pasti, perempuan yang dia cintai itu, yang dia sebut dengan nama Haryani, tidak tahu dan tidak menyangka bahwa kemudian dirinya akan dicintai seorang laki-laki yang meraba-raba rasa roti buaya. Tapi misteri akan berhenti beraksi ketika semuanya bisa ditakar dengan kata pasti. Artinya, hidup berjalan linear. Dan itu akan menghilangkan daya kejut yang selama ini berjalan dalam eksistensi. Mestinya, dulu dia tidak pernah menonton Power Ranger. Buat apa mengingat lagi tokoh hero kalau yang dipinjam dalam tulisan hanyalah karakter warna?.

Lalu gelombang naik lagi, kali ini dia tidak ingin kalah oleh ketakutan. “Seumur-umur, baru kali ini keberanian bertukar dengan defisit pulsa,” begitu katanya. Anak-anak terbaik dilahirkan ketika hasrat purba terbenam di lantai dasar. Mereka tidak dilahirkan oleh gemuruh kamar remang, ataupun jebakan dapur yang biasa dipakai untuk menangkap macan. Bukan, bukan dari sana mereka lahir. Mereka lahir ketika kata-katamu tiba-tiba berubah menjadi metafora. Ketika bahasamu tiba-tiba meledak dalam redup dan nyata. Apa yang kamu sembunyikan?. Apakah kamu malu mengakuinya?. “Tidak, Haryani. Aku tidak malu. Aku bahkan mengatakannya, bukan?.”

Jauh. Romantisme telah turun dari pundak, semenjak kawan-kawannya bertukar potongan dengan belah ketupat. Atau memang segalanya hangus dibakar waktu?, yang jelas bau jilid dan fotocopy telah hilang bertukar dengan rupiah. Meskipun jarang mendengar, tapi dia tahu, mas Taufik pernah menulis romantisme itu, “Kalian berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini / dengan darah arteri sendiri / merah putih yang setengah tiang ini / merunduk di bawah garang matahari / tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi / tapi peluru logam telah kami patahkan dalam do’a bersama / dan kalian bersih pahlawan / bersih dari dendam.”

Siapa yang tidak tahu?. Dari tiada ke tiada. Dari-Nya kembali kepada-Nya. Sudahlah, sudah. Kawan tentu lebih faham. Kawan tentu lebih banyak tahu.

Kali ini dia berani melupakan Amsterdam, demi ingat Kepala Gading. Kampung halaman Westerling yang sepi, yang rumah para penduduknya berjauhan, yang bahkan sapi-sapi di sana merasa kesepian, adalah symbol konservatif, konstelasi antara Groningen - Sumur Batu - Pegangsaan. Dia sekarang tahu, mencampur gula dan pewarna bukan hanya monopoli puisi, tapi bisa dilakukan oleh siapa saja yang berani sombong menjadi dewa kebijaksanaan. Hidup masih di sini, masih di tanah air yang dulu dia pernah ragu-ragu, bahkan sampai sekarang; ini wakil rakyat atau wakil partai?. Brengkes, buat apa menulis wakil rakyat segala?!.

“Ya, Haryani. Aku mengerti. Setiap orang pasti punya masalalu, dan butuh waktu untuk melupakannya, atau bahkan tidak bisa dilupakan sama sekali.” Kalimat itu dia tulis selepas isya, sehari setelah puasa pulsa. Lampu kamar yang menyala terlihat seperti bunga matahari terkena anemia. Beberapa orang tetangganya sempat melongokkan kepala, melihat dia yang tengah menulis entah apa. Sartre selalu membuatnya pusing, tapi apa sih sebenarnya yang paling dinginkan ketika mataharinya justru membuat dia terbenam?. Mungkin duduk di dekat jemuran, di bawah lampu yang mati, adalah sedikit jalan keluar. Maka dia pergi ke sana. Duduk di kursi tanpa sandaran, dan inilah masadepan; tarikan nafas panjang dan merasa kosong.

Apa, stranger than fiction?. Bahkan altar kebenaran pun telah dipenuhi mockingbird, murai, anis, dan kenari.

Kedua adalah siang. Ada do’a yang disampaikan, dari dia kepada perempuan yang dicintainya. Mendo’akan tidak melulu soal garis demarkasi denotasi, tapi ada yang bisa disamarkan. Haryani, perempuan yang dicintainya itu, bukan seorang semut yang doyan mendekati sumber gula kata-kata, dia bahkan datar saja. Tapi, kata orang, mencintai selamanya adalah memberi. Sebuah mantra, yang sebenarnya, tidak sepenuhnya dia percayai. Tapi apa salahnya mendo’akan?. Maka dalam gumam hati yang tak jelas, dia merapal lagi puisi mas Sapardi, “Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala / dalam do’aku / kau menjelma pucuk-pucuk cemara / yang hijau senantiasa / yang tak henti-hentinya / mengajukan pertanyaan muskil kepada angin / yang mendesau entah dari mana.”

Para paus sastra wannabe akan menangkap cinta purba nan absurd sebagai upeti imajinasi yang akan digoreng dengan bumbu kaldu rasa nirwana dan rasa keinsyafan hakiki. Sepertinya dia ingin sekali menikmati generasi HAMKA yang datang tidak dengan belati, tapi pena yang tajam dan penyembuh luka. Cuka, garam, dan silet mengingatkannya pada scene Gerwani di film pengkhianatan yang menjadi propaganda politik blok Cendana. “Tenang saja, Haryani. Aku tidak akan tega membuat sepotong puisi cinta untukmu,” gumamnya. Kontra catatan adalah tikungan tajam yang manis, yang menuntut sebuah rambu-rambu, tapi kalau menyukai tantangan yang memacu adrenalin, bolehlah bergaya geng motor. Silang pendapat, saling hantam dalam bahasa yang mampat, dan curhat tersendat-sendat, adalah anak kandung komunitas kata, jadi mengusirnya adalah kelakuan Dayang Sumbi terhadap Sangkuriang kecil.

“Waktu lengkung merah menguasai langit barat, segala jual beli seharusnya segera diakhiri untuk sementara,” itu kata-kata yang ingin diucapkannya, tapi sekarang dia tidak berani lagi, bahkan pada dirinya sendiri, dia sedang meluncur ke bawah. Tapi semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, dari mulai dewan legislative lambung sampai alam metafisika yang sering dijelaskan khatib di mesjid-mesjid pesisir desa.

Dan cinta terbaik adalah menulis. Dia mengabarkan sejarah kepada siapa saja yang tidak menyadarinya. Seperti kabut yang hilang di cahaya matahari, begitu pula kumpulan emosi, jika tidak dicatatkan, dia hanya akan membantu mengerutkan kulit muka untuk lekas menjadi tua.

Dan Haryani. Siapa dia?. Sepertinya saya kenal?. [ ]

12/04/2011

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai