19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 1)


Dan pagi itu dia mendapati dirinya tengah terduduk di depan pintu kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin KOMPAS. Kepalanya masih terasa sedikit berat, keampuhan obat warung tidak bekerja dengan sempurna. Semalam, kawan-kawannya sudah bilang, kalau sakit tak usah ikut, tapi dia sudah janji, dan di mana-mana janji harus ditepati, maka dia pun turut serta. Dalam kepungan angin malam yang menggigit, dia coba menikmati nomor-nomor dari The Beatles; Ticket to Ride, Obladi Oblada, Yesterday. Dan semakin malam, suhu tubuhnya semakin tinggi. Pasukan kuda troya menyerang pertahanan tubuhnya. Pada cigarette batang ke enam dia begegas ke toilet dan membuang isi lambungnya. Orang-orang yang habis buang air dan sedang mencuci muka menyangka dia tak kuat menahan dosis Jack D, dan mereka salah. Kesehatan pemimpin memburuk, pasukan bubar. Mereka pulang.

Dalam gelap suasana kamar, masih terdengar percakapan di luar. Kawan-kawannya masih membangun malam dengan cigarette, kacang tanah, minuman ringan, dan obrolan yang mudah dilupakan.

Dalam panas suhu tubuh dan hangat temperature kamar, dia ingat kembali sepotong artikel di koran pagi, tentang Teater Koma yang telah berjalan selama 34 tahun. Sekali waktu penontonnya didominasi orang-orang berbaju hijau, mereka disuruh atasan, atasan disuruh pimpinan, pimpinan diperintah komandan, komandan dapat pesan dari orang yang duduk di kabinet, orang yang duduk di kabinet takut sama babeh yang manis betul kalau sedang tebar senyum. Sepotong senyum cukup untuk membuat stempel Bapak Pembangunan. Tapi Teater Koma terus berjalan. Tekanan dijadikannya hulu ledak ide. Mas Nano dan Mbak Ratna terus memproduksi pementasan sampai sekarang.

Tapi kemudian dia menyumpah, “Kau siapa?. Coba kau lihat cermin. Kau tak lebih dari seorang pecundang!!.”

Suhu tubuh terus meroket, kalau saja usianya masih balita mungkin dia sudah terkena step. Hampir saja dia mengigau, tapi cepat dicegah oleh ingatannya pada tulisan Andrea : “Masa depan bagiku adalah pensiun dalam keadaan miskin dan rutin berobat melalui fasilitas Jamsostek, lalu mati merana sebagai orang yang bukan siapa-siapa.” Awalnya dia sempat setuju, dengan ikut-ikutan mengutuki beberapa profesi, tapi kemudian dia ingat bapaknya di kampung. Pengabdian 40 tahun telah tunai demi pendidikan anak-anaknya, lalu sekarang terbaring lemah, sementara para ahli warisnya bertekuk lutut di tangan kuku-kuku tajam bernama keluarga, kerja, dan kesibukan. Brengkes, tahu apa Andrea tentang pengabdian?!.

Pintu kamar diketuk dari luar. “Minum obat dulu Bung!”, dan obat warung lingkaran biru menyerbu ke dalam. Siapa bertetangga tapi hidup sendirian, silahkan pak hansip gerebek saja dia yang sedang berpacaran dalam kamarnya yang tertutup. Siapa bertetangga tapi kehilangan pisau dapur seperti kehilangan nyawa, maka jemurannya tak usah dipindahkan waktu turun hujan.

Waktu badannya menggigil karena lingkaran biru belum bereaksi, dia ingin sekali menyanyikan lagu mas Iwan, tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya perlawanan terhadap rasa dingin. Lagu hanya berbunyi entah di mana, begini kurang lebih : “Jika di antara kita jatuh sakit / lebih baik tak usah ke dokter / sebab ongkos dokter di sini / terkait di awan tinggi”.

Dan dia akhirnya menyerah pada tidur. Terbangun tengah hari, masih menggigil. Terbangun menjelang subuh, keringat luruh. Terbangun pagi hari, lumayan sehat. Di tengah kepala yang masih sedikit berat, pagi itu, dia terduduk di depan kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin KOMPAS. Setelah membasuh muka dengan air keran, dia duduk lagi di depan pintu kamar.

“Hidup adalah tentang kesetiaan, Haryani,” begitu kalimat yang ingin dia ucapkan untuk perempuan yang dicintainya, tapi kata-kata terhenti di tenggorokan.

Semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, makanya banyak yang bicara ngelantur ke mana-mana. Makanya banyak yang berteori, mencari hikmah, beragitasi, hujan retorika, mensiasati kelamin, berjudi di lembaga pendidikan, atau bermetamorfosis menjadi besi biar magnet rejeki menariknya dari segala penjuru.

“Tidak, Haryani. Aku hanya sayang kamu. Jangan kau paksa aku untuk mencari perempuan lain,” demikian kalimat lanjutan yang ingin dia katakan untuk perempuan yang disayanginya, tapi lagi-lagi tenggorokan menghentikannya.

Lalu matahari merangsek meninggalkan waktu dhuha. Dia melihat cucian, “Oh, kesibukan,” gumamnya. Hidup selalu diawali oleh keluhan, meskipun kau berusaha menyembunyikannya lewat gugusan tulisan. Mereka yang bertahan adalah orang-orang yang berhasil merubah keluhan menjadi keringat, meragi sakit hati dengan pertahanan yang teguh, dan sedikit do’a-biar tak dianggap meninggalkan Tuhan. Alangkah perihnya menikmati gincu kata-kata dengan riasan menor tentang kebijaksanaan. Meja hijau bagi si pemilik jelaga hati. Sementara para penikmat tafsir brilliant sekali berkicau “munafik” kepada sesamanya.

Brengkes, bicara apa saya ini?!. Mana lelaki yang tadi melihat cuciannya?, oh itu dia. Deterjen serbuk dia tuang ke dalam ember putih, dan lihatlah itu busa, memakan kotoran yang menempel di pakaian. Sebenarnya dia masih lemah, arus darahnya masih tertahan di kecepatan 1 kilometer pertahun, tapi besok hari senin, besok masih ada “I Don’t Like Monday” di Hardrock. Selesai merendam, dia turun ke bawah, duduk di warung kopi menunggu tukang koran lewat. Sepeda kumbang muncul dari belokan ujung gang, KOMPAS dia barter dengan 3,500 rupiah. “Nyari lagi kerjaan baru, Mas?,” tanya pemilik warung kopi. Dia menggeleng. Dekat jemuran, sambil menunggu cucian, dia membaca sepotong sajak mas Goenawan : “Cinta terbaik seharusnya diperpendek / pada pagi / oleh daun / yang ditemukan matahari.”

Apa yang dijanjikan kimia?, tidak ada!!. Lelaki itu telah dirayu untuk keluar dari persembunyiannya yang gelap dan sepi. Dia coba kumpulkan remah-remah keberanian untuk membentangkan sayap, tapi mataharinya justru membenamkan dia ke dalam ruang hampa. Absurd. “Di mana sekarang Rumi?, saya ingin menggugatnya!,” teriak lelaki itu. Siang menjelang dzuhur memang waktu yang bagus untuk menjemur pakaian. Angin sedang rakus berhembus, dan sinar ultraviolet sedang sangat bagus menakut-nakuti siapa saja yang menjadi korban iklan pemutih kulit muka. “Sesama pengecut dilarang saling menggurui,” begitu kata angin yang membawa aroma Molto rasa bunga lavender.

Haryani, perempuan yang dicintainya berkelebat di baju yang sedang dijemurnya. Tapi kemudian hilang lagi sebab terdengar olehnya suara-suara aneh Pramoedya dari cerpen “Gado-gado” yang berhasil merekam terhempasnya uang republik pada titik terendah. Wajah-wajah pribumi berjajar kuyu di depan gedung-gedung yang akan segera gulung tikar. Radio lemah belaka mewartakan rencana serangan besar-besaran pasukan sekutu. Bapak tani akan segera meninggalkan sawah dan hewan ternaknya yang akan menjadi rebutan tentara republic dan dan pasukan sekutu, akan habis, tak menyisakan sedikit pun buatnya. Ibu tani akan kehabisan pangan lalu duduk di taman kota menunggu para pemuda yang takut menikah, merayu mereka untuk memeluknya dan tidur di taman itu, lalu besok sebelum pagi sempurna memperlihatkan lengkung langit, dia akan mati dimakan raja singa di taman hijau itu, di bawah langit tanah airnya. Harga-harga melambung, mencekik rakyat yang tengah cemas dan waspada akan serangan senjata.

Jelas sekali dalam bayangannya, wajah Pramoedya menyindir dirinya. “Dulu aku hampir mampus diburu peluru NICA, lalu berbilang tahun hidup di tempat purba (penjara), tapi aku tak pernah menyerah.”

Seharusnya tidak ada yang menghentikan pertumbuhan kosa-kata. Kaum pemuja Sufi harus ditenggelamkan dulu ke dasar samudera para idolanya agar nanti tidak ada lagi plagiasi kepada cerita garam yang dibuang ke dalam gelas dan telaga. “Hiduplah kami, mampuslah kau plagiator!!,” begitu kata Pidibaiq waktu karyanya diadaptasi oleh salah satu acara komedi station televisi swasta yang bermarkas di jalan Kapten Tendean. Tapi bolehlah bermazhab kepada Bovard dan Pechucet, karena katanya, menulis adalah sebuah gerak yang tidak pernah benar-benar asli.

Siang sudah menjelang sore, dia membaca lagi koran yang dibelinya pagi tadi. Tidak. Sekali lagi dia tegaskan, bahwa dirinya tidak akan mencintai perempuan lain. Dan saya harus pergi, bosan juga mengikuti kegiatan hariannya. Tapi saya ingin sekali menulis pertemuan mula-mula antara dirinya dan perempuan itu. Artinya, saya tidak boleh dulu mengemasi pena. [ ]

itp

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai