14 May 2012

Perawan Tua Di Sarang Stigma

Sekali ini, di sebuah sore yang sepi, saya bertanya kepada Olva, “Sayang, kamu mau gak jadi tokoh rekaan dalam cerpenku?.”

Dia tak menjawab, mungkin kesal karena saya panggil ‘sayang’. Tapi tak lama kemudian ada suara dari mulutnya, “Mau aja, tapi tokoh apa dulu?.”

Kini giliran saya yang tidak langsung menjawab. Saya sedikit ragu, takut dia meledak. Tapi di sisi lain saya yakin, saya telah mengenalnya cukup lama, jadi pasti tidak akan apa-apa. Lalu saya jawab, ‘Jadi perawan tua.”

“Apa?!!,” dia menjawab sengit. Saya salah perhitungan.

“Bung, kamu tak berubah ya, masih tetap seorang looser. Pecundang!!.” Mulutnya berubah menjadi senapan mesin.

“Dengar dulu, sayang,” saya mencoba menenangkan. Garis mukanya masih bernama naik pitam.

“Dengar apa?!,” nadanya masih tinggi.

“Kamu gak kangen jadi tokoh dalam tulisanku lagi?. Dulu kan kamu sering muncul di ceritaku. Aku selalu membangunmu dengan wajah cantik, rambut sebahu, dan berbaju biru. Aku rekatkan namamu dalam belasan episode cerita, dalam bahasa yang penuh sanjung puja. Apakah kamu tidak merindukan semuanya itu, sayang?.”

Dia terdiam. Menghela nafas, lalu melepaskannya perlahan. “Kenapa ga kamu aja tokohnya. Maksudku, kenapa ceritanya tidak tentang bujang lapuk saja. Kenapa mesti tentang perawan tua?.”

Saya sudah memprediksi, pasti arah pertanyaannya akan ke sana. Tapi saya pun sudah mempersiapkan jawabannya. “Olva, dulu kita pernah sama-sama membaca buku ‘Anak Perawan Di Sarang Penyamun’ karangan Sutan Takdir Alisjahbana, lalu belum lama kita juga telah membaca buku “Perawan Di Sarang Militer” karangan Pramoedya Ananta Toer. Mereka, kedua penulis buku itu tidak tertarik untuk bercerita tentang bujang, tapi selamanya tentang perawan, sayang.”

“Lalu apa hubungannya?”

“Aku juga ingin menulis sebuah cerita tentang perawan, sayang.”

"Hanya itu saja alasannya?." Dia terus mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar seperti protes. Dia juaga sempat bertanya kenapa harus dia yang jadi tokohnya. Kenapa tidak Sigi atau Iryani. Saya jawab, mereka berdua masih terlalu muda. Emosinya masih belum stabil, masih seperti api yang berkobar, dan perlu usaha ekstra untuk meredakannya. sedangkan dia, Olva, lebih tenang daripada mereka. Sekali lagi aroma biru terpancar dari dirinya.

Cukup sampai di sana?. Jelas tidak. Dia juga bertanya ihwal pemantik awal yang membuat saya ingin menulis cerita itu. Lalu saya jelaskan, setidaknya ada tiga poin yang saya jelaskan padanya :

1. Baru-baru terdengar kabar dari kampung, bahwa ada seorang tetangga yang anak perempuannya berkhianat kepada kepercayaan orangtua. Telah tiga bulan rahimnya diduduki oleh benda yang terbentuk dari pertemuan ovum dan sperma. Sementara semua orang tahu, dia belum menikah. Lalu apa ini namanya?. Bukankah dia telah menyemburkan ludah ke muka orangtuanya?. Anak itu diusir dengan amarah dan airmata. Kiamat datang lebih awal di rumah keluarga itu.

2. Seorang kawan punya kakak perempuan, dan dia bercerita. Kakaknya itu pernah berada pada kondisi kurang nyaman, di usianya yang telah menginjak 33, dia belum juga berumahtangga. Lalu datanglah pangeran kodok tanpa menunggang kuda putih ke haribaannya. Orangtuanya mendesak secara halus untuk menerima pinangan itu. Meskipun dia tidak menyukai pangeran kodok, tapi dengan banyak pertimbangan, akhirnya diterima juga pinangan itu. Lalu perahu rumahtangganya dihantam badai bertubi-tubi. Perahunya oleng, terapung-apung di lautan maha luas.

3. Seorang kawan baru di jejaring sosial pernah menulis puisi atau mungkin do'a di note facebooknya. Begini tulisnya :

(Kiriman dari Seseorang)


Thank God, untuk ...
Kemerdekaan menjalani hidup
Keleluasaan mengejar karier
Waktu melimpah untuk hang-out
Masa yang panjang untuk bersenang-senang
Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran
Kemewahan untuk menikmati kesendirian
(dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami... )

Beri kami kesabaran untuk ...
Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan ortu
Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang
Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

Beri kami kekuatan untuk ...
Tidak melepas masa lajang karena everybody does
Tidak melepas masa lajang karena takut stigma perawan tua ...
Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami
Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua ...
Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang.

Dear God,
Biarkan kami menikmati kesendirian kami
Dan merelakannya pergi pada waktunya
Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri
Berikan kami teman terbaik untuk berbagi kesenangan
The good one, of course, if You dont mind .....

Amin........

***

Setelah tiga poin itu saya sampaikan, Olva akhirnya luruh juga. Dia menyetujui niat saya untuk menjadikannya menjadi tokoh perawan tua dalam cerpen yang akan saya tulis.  Dia memang begitu, selalu biru. Selamanya biru. Dan sebelum senyumnya merusak konsentrasi, saya segera menulis. [ ]

itp, 29 okt '11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai