14 May 2012

Mengiris Karat Jelaga

Judul Buku : Warisan sang Murabbi
Penulis : KH. Rahmat Abdullah
Penerbit : Tarbawi Press
Cetakan Kedua : November 2008

Harus menyiapkan mata ganda untuk membaca buku ini. Dan satu lagi: harus siap mengikuti pemikiran penulisnya dengan sigap, karena rangkaian kalimat pun seperti tidak bisa mengejarnya. Almarhum ustadz Rahmat, yang semasa hidupnya pernah menjadi anggota DPR dari fraksi PKS menggebrak di jantung persepsi. Beliau menulis: "Partai Anda partai orang-orang bersih? Tidak ada jaminan pribadi otomatis baik." Nah!

Sehimpunan tulisan di buku ini adalah tulisan-tulisannya di rubrik Asasiyat, Majalah Tarbawi. Beliau menggeber ketajaman bashirahnya dengan pemikiran yang tertuang dalam kalimat-kalimat tajam untuk menguliti jiwa-jiwa ringkih, pasukan bermental seremoni, dan ekspresi atas kesedihannya yang dalam. Dari keseluruhan tulisannya semua berangkat dan tersimpul dalam kalimat ini:

"Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggungjawab? Tak satu pun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggungjawab dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakkan kaki di mata air perdaban modern, beberapa waktu yang silam." (Sebuah Kesaksian, hal. 358)

Kemudian menggelinding, keyakinan mengalir dalam banyak sudut pandang. Selintas tulisan-tulisannya seperti menghakimi, tapi jika dipetakan dalam atlas kejujuran, maka bersiaplah berhenti sejenak, bahkan orang yang merasa paling alim sekalipun niscaya akan meraba kembali klaimnya, menghitung kembali jejak langkah yang telah ditaburnya. Beliau mengutip puisi Iqbal, dan sangat mungkin penggalan puisi itu meresonansi ke setiap penjuru:

"Cuma gereja, kuil, masjid dan rumah berhala
Kau bangun lambang-lambang penghambaanmu
Tak pernah dalam hati kau bangun dirimu
Hingga kau tak bisa jadi utusan mereka." (Penggodok Batu, hal 5)

Potret kehidupan sehari-hari tak lepas dari perhatiannya. Dengan menggunakan bahasa yang sepertinya ia geram dengan kondisi yang ia saksikan. Sebuah paragraph berikut seperti sebuah scene dalam film drama, barangkali kehidupan sehari-hari sudah menjelma menjadi film, dan menuntut para pelakonnya untuk jago acting dan mendalami karakter:

“Lelaki dan perempuan yang melakonkan kedamaian dan harmoni. Di taman-taman kota mereka bersama. Di bus dan kereta api. Begitu santun dan hangat basa basi antar pasangan. Apa yang kau simpan di balik apartemen yang telah menjadi kotak-kotak merpati yang kering, dingin, dan mati rasa? Pasangan-pasangan pemabuk yang mencari kesenangan hidup lain, karena sekadar jenuh atau pembalasan dendam yang konyol atas penyelewengan cinta. Bagaimana remaja dan pemuda menghabiskan waktu di kamar asramanya yang dingin ditemani teman perempuan yang datang dari jarak lima ratus kilometer. Tak puas dengan adegan kamar, mereka masih mencuekkan publik dengan adegan syur sepanjang menanti kereta api datang.” (Sebuah Kesaksian, hal. 358-359)

Atau bagaimana beliau menyoroti kehidupan keluarga kontemporer yang jumlahnya tidak sedikit. Ketika berkeluarga dan proses pewarisan hanya dibingkai oleh hasrat dan mengabaikan amanat, maka simpul-simpul kekhawatiran begitu telanjang dipertontonkan. Begini tulisnya :

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri, atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak : kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsinya tersebut dengan sangat baik.” (Baitud Da’wah, hal. 9)

Untuk para penakut dan pengecut, ustadz Rahmat pun tidak melepaskan perhatiannya. Beliau dengan lugas menawarkan sebuah proposal yang berpijak dari jaminan yang tak pernah lapuk. Begitu jelas beliau menulis:

Mereka yang tak pernah lupa hakekat hidup yang hanya sekali, tak pernah ragu untuk memilih keabadian di sisi-Nya dan terus menggaungkan suara kebenaran yang diyakininya. Beribu-ribu pengecut yang keluar rumah mereka dengan perasaan takut mati, yang membuat langkah menjadi berat dan gambar hari esok hanya berwarna hitam kelam, Allah katakan, Matilah kamu. Mereka telah mati jauh sebelum malaikat maut menjemputnya.” (Komprador, hal.286)

Lalu lanjutnya:

“Betapa perlunya generasi ini memahatkan dalam hati nurani mereka hakekat ini, bahwa tak ada nyawa cadangan dan tak ada umur reserve. Pertarungan sesudah hari-hari ini adalah hidup atau mati, hidup hina tanpa akidah atau mati mulia dalam kenangan abadi. Dunia hari ini menunggu wujudnya pahlawan-pahlawan hidup yang tak lagi berfikir bila dan dengan cara apa mereka akan mati. Kebencian yang terbuka dan kedengkian yang telanjang telah dipertontonkan.” (Komprador, hal.286)

Di atas semuanya, selain mengajak kita untuk terus bergerak memperbaiki diri dan umat, ustadz Rahmat sebenarnya mengajak para sidang pembaca untuk menjernihkan hati nurani dan  menajamkan bashirah :

“Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. Seakan kematian hanya berlaku atas orang lain. Orang-orang seperti ini harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan gelombang yang ganas. Bila tak mempan, takbirkan empat kali bagi kematian hati nuraninya.”

Sehimpunan tulisan dalam buku ini idealnya dapat dijadikan sebagai pisau iris yang dapat mengoyak kerat-kerat jelaga. Tapi barangkali tidak mudah, apalagi belum apa-apa sudah pekat oleh apriori, prasangka sektarian, dan curiga yang menyeruap, mencucuk ruang kesadaran. Maka tak berlebihan jika ustadz Rahmat menulis:

“Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan.” (Bashirah, hal. 206)

***

Ada yang disayangkan dari buku ini, yaitu sepertinya dibidani dengan tidak maksimal. Kesalahan tulis bertaburan di hampir setiap halaman, dan desain isi serta halaman pun dikerjakan dengan tidak memperhatikan estetika dan kenyamanan pembaca, seperti misalnya sub-judul diletakkan menggantung di bawah, hampir menyentuh wilayah catatan kaki. Pemeriksa aksaranya entah ke mana. Maka jadilah buku ini yang secara tampilan terlihat begitu polos dan lugu.

Kalau penerbit Tarbawi Press menulis: “Kita memang perlu memperbaiki cara kita mengenang orang-orang shalih, dari melankolis menjadi tranformatif,” maka saya ingin katakan, “Membuat buku pun tidak cukup hanya asal menjilid Bung, harus juga dibidani oleh awak redaksi yang peka terhadap kenyamanan pembaca.”

Akhirnya apalagi yang harus saya tulis selain: Selamat membaca! [irf]

12 Feb ‘12

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…