14 May 2012

long-distance gifts

Ini adalah garis batas yang terbuat dari sebuah perjanjian yang kuat : mitsaqon ghaliza. Mereka yang melaksanakannya adalah para pelintas batas. Tak ada yang bisa bebas dari masalalu dan hujan kenangan, atau emosi sesaat pada aksara, tapi setiap pelintas batas harus bersikap sportif, harus bisa membedakan mana gulma (yang harus dibabat), dan mana bibit (yang harus ditumbuhkan). Usia biologis mungkin saja masih muda, tapi para pelintas batas adalah orang-orang brilliant yang berani mengambil keputusan. Do’a formalitas akan terdengar basi bagi para penjaga malam yang seringkali---atau mungkin sesekali---bertemu dengan jejalin kata-kata.

Barangkali sang komedian itu benar, bahwa meskipun paling galak, liar, dan paling buas, kalau merasa terancam, harimau pasti larinya ke hutan tidak ke tempat yang lain, dia merasa nyaman dan terlindungi oleh hutan. Begitupun sebaliknya, jika tahu bahwa di dalamnya ada harimau, siapa pun tidak akan berani mendekati, apalagi memasuki hutan. Hutan aman oleh keberadaan harimau. “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”

Pada peristiwa yang kita hanya ingin menjalaninya satu kali, tentu pertimbangan itu sudah matang, bahkan mungkin sudah dipersiapkan sejak beberapa tahun ke belakang, yang orang banyak menyebutnya : (pura-pura lupa). Seperti biasa, saya tak berminat memberikan apa-apa kecuali buku, tapi buku kiriman pun belum juga datang, jadi ya menulislah, lumayan sambil menunggu sore.

Catatan yang dihuni metafora, atau penyamaran diksi tingkat tinggi, seringkali terdengar hiperbola, padahal sebenarnya bisa lebih sederhana dan biasa saja. Tapi buku telah mendidiknya seperti ini, bahwa kejujuran pun punya pakaiannya sendiri. Kelambu dibuat bukan untuk menyembunyikan penghuni ranjang, tapi melindunginya dari serangan vulgar pasukan peminat darah.

Ya, ya, ya…santai sajalah. Bekerja saja seperti biasa, keluarkan keringatmu, maksimalkan pikiranmu, dan nikmati minatmu. Barangkali saya tak perlu mengutip takdir seperti yang dikatakan Paulo Coelho dalam The Alchemist. Tapi mungkin di antara kita ada yang lupa, maka baiklah, begini katanya : “Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.”

Ya, ya, ya….santai sajalah. Tak ada, tak seorang pun mau keluar dari kafilah besar Rosul akhir jaman. Semua pasti ingin dan akan mengikuti sunahnya. Perbedaan hanya dibuat oleh waktu, tapi niat tak bisa dilihat, dan keyakinan, barangkali, adalah sesuatu yang intangible. Semoga selamat sampai tujuan. Mungkin jalan akan semakin mudah, sebab agama sudah digenggam setengahnya. "Baarokalloohu laka wa baaraka 'alayka wa jama'a baynakumaa fi khoiir,” asli, do’a ini saya copas dari sebuah blog dengan bantuan google. Jadi kalau mau tahu artinya silahkan jalan-jalan ke sana. Atau mungkin sudah hafal artinya di luar kepala?.

Ah, sudah sore. Bayangan sudah bergeser beberapa derajat. Semoga setiap dari kita bisa tetap istiqomah untuk menjadi diri sendiri. [ ]

itp, 20/9/11

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…