14 May 2012

I'm A Sir

"Laniiii...udah mau lulus juga masih aja pake celana kayak gitu!. Sepatu udah robek lagi, kayak ga diperhatiin aja, bikin malu mama aja. Belajar pake rok Lanii...kamu kan bentar lagi mau lulus, mau kerja!!."

###

Dalam setiap cerita yang aku tulis, aku tidak pernah membunuh tokoh-tokohku, sebab tanpa aku bunuh pun manusia suatu saat akan mati, tak terkecuali. Dan aku pun tak pernah menulis adegan seks, sebab tanpa disuruh pun laki-laki suatu saat pasti akan tidur dengan perempuan, yang normal tentu saja. Mama seharusnya belajar dariku, bahwa sesuatu yang sudah diketahui pangkalnya, tidak perlu dikampanyekan, apalagi dengan memaksa. Masalah rok itu tak perlulah mama setiap hari berteriak, toh aku pun suatu saat nanti, kalau sudah kerja, dan kalau perusahaan tempat aku bekerja mewajibkan karyawatinya harus memakai rok, pasti aku pun tidak bisa mengelak. Dan lagi, meski tidak terlalu sering, mama tidak perlu menyuruhku untuk berpenampilan anggun, terlihat woman, dan memperlihatkan sisi feminimku, sebab nanti, kalau aku diserang sesuatu yang bernama "jatuh cinta", pasti aku pun akan bermetamorfosis.

Tak ada yang lebih membuatku nyaman selain pergi ke kampus memakai jeans belel yang di beberapa sisinya telah robek, sepatu converse buluk kesayangan, t-shirt bersablon band atau poster film, dan a mild 12 batang, di simpan di dalam tas tentu saja. Persetan dengan persepsi, merokok bukan monopoli laki-laki, aku memang bukan anak yang terlihat baik dari segi penampilan, tapi kawanku berlimpah kalau mau menjadi ukuran. Aku tidak mau berdebat dengan hal-hal terlihat dari luar, aku hanya menikmati caraku.

Aku keranjingan menulis, entah kapan bermulanya, aku lupa lagi. Dan yang membuatku berhasil mempertahankan keranjingan itu adalah kawan-kawanku yang laki-laki. Mereka selalu berhasil membuatku untuk tak henti-hentinya memuntahkan apa saja yang ingin kutulis. Dalam menulis, mereka terkadang sompral, penuh emosi, menabrak-nabrak, tapi mereka selalu bisa mengakhirinya dengan segelas kopi perdamaian. Bagiku ini lebih menarik daripada kawan-kawanku yang perempuan yang cenderung melankolik, jeda gemulai, disesaki mutiara kosa-kata, tapi tak bisa aku mengerti. Ah, barangkali akunya saja yang blo'on, yang tak bisa mengeti bahasa mereka, bahasa jenis manusia yang pirantinya sama denganku. Apakah ini aneh?. Entahlah.

Sore itu, dua orang kawan laki-laki datang ke rumah, asap rokok menguasai mereka. Mama menghembuskan nafas tak ramah, sebab mama tahu mereka datang bukan dengan niat menaburkan mawar dan rayuan gombal, tapi mengsahut anaknya untuk lebih condong ke arah sikap laki-laki. Mama adalah sejenis perempuan yang harus belajar pada waktu, bahwa segalanya akan datang pada saatnya. Tak kurang dan tak lebih. Kawan-kawan laki-laki itu seperti biasa meminta upeti : kopi hitam tanpa kreamer dan...ah..apakah aku harus menuliskannya juga?...ya, rokok. Rokok...rokok...rokok...di mana-mana moncong laki-laki hampir semuanya dikuasai benda 9cm itu. Mama tak sedetik pun melenturkan wajah, tetap setia dengan kerut kesal. Dan aku tak mencemaskannya.

"Bung Lani, kita orang punya ide bagus," Rekti membuka pembicaraan.

----Tak apalah dibilang Bung, yang pasti aku masih perempuan--- "Macam betul kau ini Bung, ide apakah itu?".

Setelah menyeruput kopi made in barista bernama Lani, Rekti menggarami ucapannya,
"Bersekutu!."

Edan, bersekutu?. Bersekutu dengan setan maksudnya?, atau apa?.
"Yang jelaslah kalau berbicara, Bung!. Maksudnya apa bersekutu?!."

"Kau punya tulisan, aku punya tulisan, kawan kita juga punya tulisan. Bagaimana kalau kita buat gado-gado saja?."

Gado-gado?. Apalagi ini?. Diksi yang dari tadi belum menyentuh kopi buatanku ikut angkat bicara.
"Betul, 86 Lan, kita orang punya ide untuk membuatnya menjadi semacam larutan yang pekat."

Larutan yang pekat?. Oh please apalagi sih ini?.
"Hai, dua Bung yang sudah sering menikmati kopi buatan barista yang bernama Lani, tolong ya, kalau bicara jangan berkabut, terang-teranglah, apa sih maksudnya gado-gado dan larutan yang pekat itu?."

Mereka hanya tersenyum. Senyum yang dapat diartikan : "tak paham rupanya kawan tomboyku ini." Menyebalkan. Nah mama. Mama seharusnya tahu, bahwa aku tak selamanya bisa mengerti apa yang diucapkan laki-laki, itu artinya aku masih perempuan mama, masih sama sepertimu yang terkadang tak bisa mengerti ucapan laki-laki yang biasa aku panggil ayah.

Sebelum mereka berbicara lagi, dari ruang tv terdengar mama batuk, batuk yang sangat dengan mudah diterjemahkan : "tolong dong asapnya mas, kita orang tak kuat mencium aroma racun." Batuk mama sebenarnya sebuah harakiri yang berulang. Ketika mama menegur orang-orang yang merokok di dekatnya dengan batuknya yang terdengar anggun, itu artinya mama menyuruh ayah untuk berhenti bekerja, lalu tak punya pekerjaan karena ayah sudah tak muda lagi, lalu uang habis, lalu mama berhenti batuk, karena batuknya sudah diganti dengan omelan : "Ayah ini, semenjak berhenti kerja dari pabrik rokok sepertinya tak pernah lagi mencari kerja." Tapi itu tak pernah terjadi, sebab ayah belum berhenti bekerja dari pabrik rokok. "Ayah akan berhenti bekerja, kalau pabrik itu sudah bangkut," ya, humor ayah memang segar sekaligus getir, sebab bangkrut bagi perusahaan rokok seperti pungguk merindukan bulan. Selama mulut-mulut cerobong belum insyap, boleh dipastikan tak ada kata bangkrut di kamus perusahaan rokok, apalagi perusahaan rokok tempat ayah bekerja termasuk perusahaan multinasional.

###

Aku, sejelek-jeleknya tulisanku, entah kenapa selalu punya keyakinan bahwa tulisanku suatu saat akan disukai banyak orang. Mungkin ini termasuk ke dalam penyakit gila, tapi entah nomor berapa. Suatu saat nama Lani akan tercetak di sampul-sampul buku yang nongkrong di toko-toko buku mainstream. Tapi mama memang aneh, aku yang keranjingan menulis dibilangnya kurang pergaulan. "Laniii...waktu mama seusiamu, mama tak pernah tuh menulis hal-hal yang remeh, buat apa ga penting. Mendingan mama ngerjain tugas kuliah, menyusun paper---menyusun kertas maksudnya??---mempersiapkan segalanya buat menyambut masa kerja, bukan menulis cerita-cerita kacangan kayak kamu. Kurang pergaulan kamu Lani!."

Nah, ketahuan sudah. Mama ternyata suka membaca tulisan-tulisanku. Dan itu artinya mama sudah masuk ke ruang privasiku tanpa permisi. Dan aku tak suka. Tak suka duniaku diintip-intip, apalagi dengan mata penuh curiga.

Waktu mama mengandung, mama boleh ngidam apa saja. Mama juga boleh berharap aku tumbuh sesuai dengan keinginannya. Tapi tugas mama hanya melepaskan anak panah dari busur, bukan mengikuti ke mana anak panah itu mencari medan untuk bertempur. [ ]

11 Feb '12
---dengan permintaan maaf kepada Frau

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…