14 May 2012

Ikhtiar Meninggalkan Daging

Saya sempat menangis waktu nonton film Emak Ingin Naik Haji garapan Aditya Gumay. Ini pasti gara-gara terlalu sering menyuntuki film-film Korea yang alur ceritanya kelabu. Tapi untunglah saya nontonnya di kamar dan sendirian pula sehingga tak ada seorang pun yang melihat saya menangis.  Ati Cancer begitu gemilang memerankan tokoh emak yang sangat bersahaja, penyayang, dan sabar luar biasa.

Film yang diangkat dari novel Asma Nadia dengan judul yang sama ini mengisahkan tentang potret keseharian kehidupan sosial kita. Ada orang kaya yang sudah pergi ke tanah suci berkali-kali, sementara tetangganya sendiri yang hidupnya susah justru menabung sedikit demi sedikit, yang bahkan terdengar mustahil karena usia si Emak yang sudah senja, sementara tabungannya masih sangat sedikit, itupun seringkali terpakai oleh kebutuhan-kebutuhan yang mendadak dan mendesak. Sebuah cerita yang sederhana dengan pesan yang sederhana pula, tapi dikemas dengan apik, sehingga memberikan daya hantam yang mengharukan. Tapi jauh melebihi hanya sekedar efek melodrama yang menderaskan airmata dari sebuah keseriusan penggarapan cinema, film ini sesungguhnya mencuatkan sebuah kesadaran yang bersahaja.

Sekali waktu KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sempat membuat sebuah lukisan kontroversial. Beliau melukis seorang penari perempuan yang bergoyang di tengah-tengah para kiai yang sedang berdzikir, dan diberi judul “Berdzikir Bersama Inul”. Beberapa kalangan kiai muda merespon cukup keras terhadap lukisan tersebut. Mereka menganggap Gus Mus telah melecehkan dan mengolok-olok kiai dengan lukisannya yang terlihat vulgar tersebut. Tapi ada satu hal yang terdengar lucu, sebagaimana dituturkan oleh Gus Mus sendiri. Ketika para kiai muda memprotes keras, justru ada seorang kiai yang sudah sepuh mendatangi beliau dan bertanya, “Gus, lukisanmu ini harganya berapa?.” Kiai sepuh tersebut berminat membeli lukisan “Berdzikir Bersama Inul”.

Ketika tampil di acara Kick Andy, Metro tv, karena ditanya oleh Andy Noya, Gus Mus akhirnya menjelaskan maksud dari lukisan tersebut, kurang lebih begini maksudnya; Kita ini hidup di dunia serba daging. Kita pergi ibadah haji setiap tahun tapi kepekaan sosial tak kunjung hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita sholat setiap hari tapi korupsi tak pernah berhenti. Kita jalankan ritual ibadah dengan sungguh-sungguh, tapi maksiat pun kita jalankan dengan kesungguhan yang sama. Ibadah kita hanya sampai daging, tidak sampai kepada ruh. Dan Inul, seperti kata Gus Mus, adalah “daging yang paling daging” (entah apa artinya), sehingga dijadikan symbol untuk menyampaikan pesannya.

Gaya Gus Mus memang tipikal, sebagai seorang ulama dari kalangan NU, gayanya berbading lurus dengan sejarah pendirian Nahdlatul Ulama yang penuh dengan symbol seperti yang dituturkan oleh Zuhairi Misrawi dalam buku Hadratussaikh Hasyim Asy'ari.  Dari sosok kiai yang bersahaja ini, kita bisa belajar (itu pun kalau mau), atau sekedar mengisi ulang kesadaran. Mungkin kita tak perlu melemparkan contoh, atau mengarahkan telunjuk ke dada haji kaya raya yang tetangganya miskin seperti dalam film Emak Ingin Niak Haji, tapi cukup berdiri saja di depan cermin dan mulai berhitung. Kiranya kita tak perlu menjadi seorang vegetarian untuk meninggalkan “daging”. Dan hal itu, bagi saya, adalah sesuatu yang tidak mudah. [ ]

itp, 28 Okt ‘11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai