14 May 2012

Forget Jakarta

“I’m waiting in line to get to where you are
Hope floats up high along the way
I forget Jakarta
All the friendly faces in disguise
This time, I’m closing down this fairytale"
(Adhitia Sofyan)

Selalu banyak kata-kata yang berserakan untuk saya curi. Seperti seorang kawan yang bermarkas di ibukota Pasundan, dia telah mendeklarasikan untuk hidup normal dengan tiga unsur : dahar, sholat, bobogohan, tepat sehari setelah khatam film Julia Robert, dan sekarang dia tengah membaca novelnya. “Social network bukan diary Bung,” begitu khotbahnya. Sementara saya masih belum bosan dengan Frau : I’m a Sir. Ada yang pernah datang, lalu menampar tiba-tiba, black Saturday. In a bad bus, I’m got sick. Lalu ke Kemayoran, mengantarkan indera pendengar bertemu dengan musik metal. Inform - awareness - true or false, teori sehari-hari tentang hipotesis. Saya berkunjung ke Negeri Senja dan bertemu Atta. Masih ada aroma teduh di sana. Berulang-ulang mendengarkan Rain of July dan Mighty Love, membuat saya merasa lebih nyaman. When the sun burning all of the land, you connect me back into reality. I wan’t forget Jakarta, but I can’t. Hujan masih menderap di bawah jendela kamar, dan data masih dianggap sebagai makhluk pintar, padahal informasi yang dikunyah dari para jurnalis overacting tidak semuanya dibuat untuk membangun citra, masih ada yang berusaha berjalan di rute inspirasi. Strictly from the bottom, simply from the head. Semoga banyak yang tahu, bahwa menu tidak untuk dimakan semuanya. Bergeser sedikit ke tengah, agar tidak lengah, dan selalu sadar jaga meskipun dalam keadaan lemah. A girl with blue smile. So close, I can smell the sound. Timebomb books, dan kutu tidak pernah membaca buku. Tersesat di Matraman, Kwitang, dan Senayan. Berjalan menuju Harmoni dengan pengawasan mesin pendingin. Ballads of The Cliché. I can’t forget Jakarta. [ ]

21.10.2010

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…