14 May 2012

Di Bibir Maghrib

Di depan sebuah showroom motor Jepang, tidak jauh dari Rumah Sakit Islam, sore itu, hujan menghentikan langkah setiap orang untuk terpaksa berlindung dalam dekapan halte. Maghrib telah menganga di depan, dan gelap perlahan merayap. Setiap kepala yang terjebak, semuanya memiliki tatapan kosong, entah di mana pikirannya. Barangkali ada yang  telah sampai di rumah, di sambut secangkir kopi panas dan penganan alakadarnya. Atau mungkin ada yang tengah memikirkan dan gelisah tentang gerhana yang terjadi pada hubungan persahabatan, keluarga, atau relasi entah apa. Atau barangkali ada juga yang tengah tersangkut di masalalu, dalam kenangan melankolik dan sendu, tentang cinta yang telah begitu kurangajar memperdaya kepribadian. Dan mungkin ada juga yang mereka-reka masadepan, penuh misteri, tentang keluarga yang manis dan penuh simpati.

Cahaya yang berpendaran dari mobil dan lampu jalan, terkesan buram diiris arsiran hujan. Gelap mulai berkuasa dan panggilan kemenangan mulai terdengar dari pengeras suara. Tiba-tiba tercium aroma tembakau, sepasang jari sedang bermesraan dengan tuhan 9cm. Batuk dari tadi pagi berhasil menghilangkan selera untuk menikmati cigarette. Ada sedikit cemas yang bersembunyi entah di mana, tentang ketakutan akan harapan premature yang kapan saja bisa hancur berantakan. Suara kondektur tenggelam ditelan deras dan gemuruh petir. Tampias telah membasahi tas, baju, dan sepatu yang bocor di pinggirnya. Ini sebuah titik, sebuah jeda waktu untuk siapa saja yang mau meluangkan waktunya untuk melankolik, setelah seharian menukar delapan atau sembilan jam dengan rahmat kerja.

Dari apa sesungguhnya hidup ditegakkan?. Apakah dari rangkaian kekalahan dan kompromi?. Apakah dari berlembar-lembar kenangan yang masih hangat ataupun telah usang?. Apakah dari tsunami kata-kata yang pedas dan deras?. Apakah dari kompetisi mengumpulkan pundi-pundi?. Ataukah  dari minat yang bergelombang dan tidak bisa dibendung?. Ataukah dari kesadaran transenden yang sesekali hidup dan sesekali mati?. Pada akhirnya manusia tidak kembali kepada manusia, melainkan kepada Tuhan.

Ketika hujan mulai reda, orang-orang mulai berani menerobos. Dan saya baru teringat : belum sholat maghrib!!. [ ]

itp

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…