14 May 2012

Di Bawah Guyuran Cahaya Lampu Neon

Selintas seperti sebuah rantai makanan, padahal bukan. Saya berkawan dengan Rekti, kini dia kerja di Bandung, entah kerja apa, tak penting aku tahu. Di tempat kerjanya dia berkawan dengan Sigi, seorang perempuan berambut pendek, matanya bagus, demikian kata Rekti. Sigi orang Purbalingga, memang namanya seperti kurang mewakili daerah asal, tapi siapa pun berhak memilih nama yang menurutnya keren, persetan dengan nama daerah asal. Waktu SMP sigi berkawan dengan Iryani, kawan sebangkunya, anaknya pendiam tapi manis, eh bukan manis tapi cantik, itu pun kata Sigi yang dia bilang ke Rekti, dan Rekti bilang ke aku, sebuah informasi yang sebenarnya tidak penting, tapi anehnya aku berhasil mengingatnya. Iryani, kawan Sigi yang pendiam tapi cantik itu, punya kawan perempuan juga yang bernama Olva, ya nama yang sangat familiar buatku, tapi bukan Olva yang itu, yang namanya familiar buatku itu. Informasi dengan estafet lumayan panjang ini sampai ke telingaku gara-gara Rekti tahu bahwa aku sempat "kram" oleh seorang perempuan yang bernama Olva.

Olva yang kawannya Iryani ternyata punya account facebook seperti jutaan manusia lainnya. Accountnya ditemukan waktu aku mencari account Olva yang sempat membuat aku "kram". Dan seperti biasa, yang paling pertama aku lihat diaccount facebook seseorang setelah dia menjadi teman dunia maya adalah notes-nya. Olva yang kawannya Iryani ternyata punya beberapa tulisan, aku baca sekira tiga buah tulisannya, ini salah satunya, dia menulis seperti sedang bertelanjang dada di bawah guyuran cahaya lampu neon ber-watt tinggi :

"Satu jam setelah sore yang mengerikan itu, aku terduduk di halaman sebuah mesjid, tidak jauh dari rumah kontrakan. Sesak masih terasa, dan kepala makin terasa sakit. benar kata Andrea Hirata, cemburu adalah perasaan paling aneh yang ciptakan Tuhan untuk manusia. Rasanya begitu ngilu, seperti terluka oleh kulit bambu. aku tertegun di teras mesjid itu, dan mulai protes kepada Tuhan. Kenapa aku diberi perasaan untuk mencintainya jika hanya untuk bertepuk sebelah tangan, dan sore itu sebuah adegan vulgar menghantamku tepat di ulu hati. Tuhan, kalau perasaan ini ditakdirkan untuk bertepuk sebelah tangan dan tak ada kembarannya, maka tolong hilangkan saja perasaan cinta ini. Tuhan, maafkan aku yang banyak merengek hanya karena kalah dalam urusan perasaan."

Sebenarnya tulisan Olva kawannya Iryani itu masih panjang, tapi aku kutip sedikit saja, karena selanjutnya adalah parade celana pendek di atas lutut. Karena aku sudah berteman dengannya, dengan Olva kawannya Iryani itu, maka aku bisa kasih komentar. Pendek saja komentarku :

"Kawan, wudhu itu bukan sekedar membasuh muka...." [ ]

itp, 25/01/12

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai