14 May 2012

Defisit Teladan, Ragi Waktu, dan Gaya menulis

Judul Buku                :          Natsir, Politik Santun di antara Dua Rezim
Penulis                      :          Tim Liputan Khusus TEMPO
Penerbit                    :          Kepustakaan Populer Gramedia    
Cetakan Pertama     :          Januari 2011
Tebal                         :          xi + 163 hlm

“Bung Natsir, kita ini dulu berpolemik, ya, tapi sekarang jangan kita buka-buka soal itu lagi.”
“Tentu tidak. Dalam menghadapi Belanda, bagaimana pula?. Nanti saja.”

***

Kira-kira di pertengahan tahun 2003, waktu darah masih disesaki idealisme mahasiswa, saya sempat berbincang cukup lama dengan seorang kawan yang kampung halamannya di Sumatera Barat. Dan perbincangan sampailah ke soal pemimpin. Barangkali karena masih mahasiswa, dan entah kenapa, waktu itu kondisinya cukup bersemangat untuk mengkritik para pemimpin; dari Presiden sampai Direktur Politeknik. Semuanya tak habis dijadikan bahan perbincangan sambil sibuk mencari keburukan-keburukannya. Mahasiswa seperti dikutuk untuk seolah-olah kritis, jejak berliku sejarah pemuda dan mahasiswa tak habis dijejal-jejal di batok kepala, lalu dikenang sebagai sebuah romantisme masa muda ketika semuanya disembelih oleh waktu yang bergegas, tersuruk-suruk meluncur ke dunia kerja yang seumpama secangkir kopi; wangi, nikmat, kadang melenakan, juga sekaligus pahit.

Beberapa kalimat meluncur dari mulut saya, “Bung ini kan asli Sumatera Barat, orang Minang, apakah Bung tidak merasa defisit pemimpin dan teladan yang dulu bederet-deret dari daerah Bung?.” Dia tak menjawab.

Saya meneruskan, “Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Natsir, sampai Buya Hamka, semuanya berasal dari daerah Sumatera Barat. Nah, sekarang siapa yang tersisa?, siapa yang menggantikannya?, tidak ada!.” Dia, kawan saya itu, tetap saja diam tak bersuara, hanya asap cigarettenya saja yang meluncur dari mulut lalu rerak berhamburan. Barangkali dia setuju dengan ucapan saya.

Sepenggal ingatan tentang perbincangan itu berhasil menggarami saya untuk menulis sekedarnya, untuk mengulas buku Natsir. Barangkali bukan sebuah resensi, tapi beginilah jadinya :

***

Dialog antara Natsir dan Soekarno yang saya tulis di awal catatan ini adalah awal dari hubungan yang mulai mesra antara kedua tokoh tersebut setelah sebelumnya sempat terlibat polemik tajam di surat kabar. Mereka berseberangan pendapat ihwal kiprah dan akibat yang ditimbulkan oleh Mustafa Kemal Ataturk yang menjadi aktor runtuhnya Turki Ottoman. Seperti yang ditulis tim TEMPO, “Soekarno menganjurkan faham nasionalisme dan mengkritik Islam sebagai ideology seraya memuji ‘sekularisasi’ yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di Turki. Sedangkan Natsir menyayangkan hancurnya Turki Ottoman, sambil menunjukkan akibat-akibat negatifnya. Tulisan-tulisan Natsir jernih dan argumentatif.”

Natsir tidak memilih menyeret-nyeret adu argument di wilayah abstrak dengan membawanya ke wilayah konkrit, ya persoalan telah menunggu di depan; Belanda masih punya keleluasaan untuk mengobrak-abrik Indonesia. Maka Natsir pun kemudian mengemban tugas sebagai Menteri Penerangan sebanyak tiga kali dalam tiga Kabinet Sutan Sjahrir, berturut-turut pada 3 Januari 1946 sampai 27 Juni 1947. Jabatan yang sama ia emban dalam kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948 hingga 19 Desember 1948. “Hij is de man (dialah orangnya)”, begitu kata Soekarno waktu Sjahrir mengusulkan Natsir untuk menjadi Menteri Penerangan. Soekarno tidak keberatan sama sekali. Pengalamannya berpolemik dengan Natsir membuat Soekarno percaya bahwa Natsir adalah seorang yang piawai dalam menyusun kata-kata. Demikianlah sejarah mencatat, bahwa perseteruan tidak selamanya berpangkal pada mencerca kelemahan, tapi sebaliknya justru mengangkat kelebihan-kelebihan lawan polemik untuk dimanfaatkan pada medan yang lebih nyata dan lebih luas. Dan Natsir pun kemudian berkarya untuk bangsa di masa pemerintahan yang pertama.

Ketika kekuasaan Soekarno tenggelam dan digantikan oleh Soeharto, Natsir masih dalam jeruji penjara karena terlibat dalam PRRI. Suatu hari datanglah orang suruhan Soeharto untuk membicarakan tentang usaha pemerintah untuk memulihkan hubungan dengan Malaysia yang hancur akibat operasi “Ganyang Malaysia” yang dilancarkan Soekarno. Waktu itu komunikasi Jakarta dan Kuala Lumpur beku.

Awalnya Soeharto sempat mengirim dua orang kepercayaannya, yaitu Ali Moertopo dan Benny Moerdani, tapi misi keduanya gagal, Malaysia seolah menghindar. Maka Natsir pun menjadi harapan karena ia dikenal dekat dengan Tengku Abdul Rahman. Natsir hanya menulis surat pendek : “Ini ada niat baik dari pemerintah Indonesia untuk memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Mudah-mudahan Tengku bisa menerima.” Tak lama kemudian surat itu dibawa ke Kuala Lumpur dan sampai ke tangan Tengku Abdul Rahman. Segera setelah menerima surat dari Natsir, ia berkata, “Datanglah mereka besok ke tempat saya.” Esok harinya Delegasi Indonesia diterima. Dan hubungan kedua negara pun berangsur cair.

***

TEMPO sebagai majalah berita mingguan memang rajin menulis masalalu (sejarah), meskipun sehari-harinya bergelut dengan masakini (news). Maka para wartawan TEMPO adalah mereka yang bekerja “depan-belakang”; melaju kencang menulis berita-berita terbaru, tapi juga kadang-kadang bertamasya dengan menulis sejarah yang bececeran di belakang. Dan inilah salahsatu buku sejarah yang ditulis dengan pendekatan jurnalistik. Aroma suram, kaku, dan membosankan yang biasanya memancar dari buku-buku sejarah, di tangan para waratawan ini berubah menjadi memesona dan penuh dramatik. Barangkali itulah sebabnya Arif Zulkifli menulis pengantar di buku Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman : “Dalam pendekatan jurnalistik, yang diharapkan muncul adalah pesona sejarah---meski tidak berarti fakta disajikan serampangan dan tanpa verifikasi. Tujuan jurnalisme adalah mengetengahkan fakta dengan menarik, dramatik tanpa mengabaikan presisi.”

Dan sejarah, apa sesungguhnya yang kita harapkan dari sejarah?. Perbincangan kini tengah ramai di dunia maya, bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun alias tiga setengah abad, angka itu sesungguhnya adalah tiga setengah abad bangsa-bangsa asing kesulitan menaklukkan kepulauan Nusantara yang senantiasa ditaburi bibit perlawanan sengit anak-anak pribumi.  Di titik ini sejarah barangkali adalah batu tapal doktrin yang membuat bangsa ini inferior berkepanjangan. Bagaimana tidak, anak belia yang baru saja menginjakkan kakinya di kelas pertama sekolah dasar, tiba-tiba langsung dihantam palu godam oleh bapak dan ibu gurunya, bahwa bangsanya adalah bangsa pecundang. 350 tahun dijajah adalah “kebenaran” yang terus dijejalkan setiap kali anak-anak itu bertemu dengan mata pelajaran sejarah. Perlahan mentalnya menyusut. Tak terbayang lamanya dijajah selama tiga setengah abad : pecundang di atas pecundang !!.

Hal itu pun masih belum cukup, karena sejarah seringkali disimpangkan. Para penguasa rajin sekali membuat distorsi. Kebenaran menjadi kalang kabut. Naskah-naskah yang diterbitkan menjadi buku banyak yang terpojok di sudut-sudut ruangan dingan dan berdebu. Ya, sejarah memang masalalu, sedangkan hidup tidak pernah berjalan mundur, juga tidak mengendap, hidup terus saja menelan detik demi detik  yang berparade di titian sisa hidup. Maka membaca sejarah adalah sesuatu yang seringkali dianggap hanya membuang waktu. Maka dari itu, dengan digawangi para awak redaksi yang lincah menulis diksi, TEMPO berusaha menghadirkan “hal yang basi” dengan mengemasnya secara seksi tanpa abai presisi.

Buku Natsir ini, walaupun hanya sebuah biografi mini, tapi terasa menyesap ke urat nadi. Tidak terlampau tebal, malah hanya di bawah 200 halaman, tapi berhasil memaparkan perjalanan Natsir dalam taman luas sejarah Indonesia. Dari masa kecil Natsir, masa sekolah, bergaul dengan A. Hasan (ulama pendiri Persis di Bandung), masa-masa berkecimpung dalam pemerintahan Soekarno, terlibat dalam gerakan PRRI, tetap kritis di masa pemerintahan Soeharto, sampai pergerakannya di lapangan dakwah. Semuanya disajikan dengan racikan yang “menggoda”. Judul-judul dalam setiap tulisan pun terasa begitu bernuansa prosa. Ini memang bukan buku sastra, tapi daya pemantiknya tak kalah dengan cerita-cerita fiksi.

Dan waktu benar-benar telah menjadi ragi yang baik untuk memfermentasikan perjalanan hidup anak manusia. Di tengah kehidupan berbangsa yang miskin teladan, kumpulan catatan perjalanan hidup Natsir ini berhasil mengembangkan sebuah kerinduan. Rindu pada sosok seperti Natsir. Di sampul belakang buku ini tertulis :

“Mohammad Natsir orang yang puritan. Tapi kadangkala orang yang lurus bukan berarti tak menarik. Hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik tersendiri. Dalam hidupnya yang cukup panjang, di balik kelemahlembutannya, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan bersahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantangan. Hari-hari belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh.”  [ ]

Itp, 2 Des ‘ 11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai