15 May 2012

Dead from The Waist Down

“Aku memilih mengejar matahari ke timur!. Aku mencari ari-ariku yang dibuang bapak ke sungai.” (Gola Gong : The Journey)

Sedari sore memang tak ada kerjaan. Hanya sekilas-sekilas saja membaca buku yang berserakan di kamar yang berantakan bagai arena tikai para kucing. Sudah beberapa minggu ini memang malas betul membereskan kamar, maka kotak segi empat itu seperti Kurusetra sehabis pertempuran Pandawa versus Kurawa. Selepas isya baru menyambangi tv dan disuguhi sejarah petualangan maut Kahar Muzakar oleh Metro tv. Sekali ini sejarah kembali memperlihatkan pesonanya. Cerita Kahar Muzakar dibingkai dalam kronologis peristiwa, dan hasilnya adalah selembar sudut pandang penuh warna. Sejarah. Lagi-lagi, tidak bisa dilukis hanya oleh warna minimalis hitam dan putih.

Maka pergilah Kahar Muzakar ke Jawa untuk belajar di perguruan Muhammadiyah. Ketika pulang lagi ke Sulawesi, dia mulai menebar kebencian kepada kolonialisme dan imprealisme. Revolusi pecah, dia pergi lagi ke Jawa dan bergabung dengan barisan pemuda untuk mengawal revolusi dan bayi kemerdekaan yang umurnya masih sangat muda. “Waktu rapat raksasa di lapangan IKADA, dia menembus barikade tentara Jepang dengan golok agar tidak menghalangi Soekarno yang akan berpidato,” begitu kata istrinya.

Bom atom melumat Hiroshima-Nagasaki, Jepang mundur dari Pasific, dan Belanda membonceng sekutu untuk kembali mengusai republic : Agresi Militer 1. Pasukan sekutu berusaha menembus kota, tapi tidak mudah, sebab para pemuda republic sudah bersiap untuk menghadangnya, dan Kahar Muzakar lebur di situ, di barisan prajurit republic. Keberanian serta pembawaannya yang kharismatik membawanya menjadi pemimpin kesatuan laskar pemuda Sulawesi. Dia juga turut serta ketika Palagan Ambarawa pecah. Dan dia juga tidak absen di pertempuran Serangan Umum 1 Maret : 6 jam Yogyakarta dikuasai tentara republic.

Ketika revolusi mulai reda dan Indonesia berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), Kahar Muzakar dan pasukannya sudah berada di Sulawesi. Pasukan gerilyawan pimpinan Kahar Muzakar meminta untuk menjadi tentara resmi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat), tapi pemerintah tidak mengabulkanya. Ironinya mantan KNIL (tentara kerajaan Belanda) pimpinan Andi Azis justru sukses menjadi anggota APRIS. Gerilyawan berang, mereka pergi ke hutan dan melakukan perlawanan sebagai bentuk protes. Tak lama Andi Azis dan pasukannya yang mantan KNIL justru mengkhianati APRIS dengan melakukan pemberontakan. Setelah Andi Azia dan pasukannya diatasi, APRIS kembali berhadapan dengan sesame anak bangsa, kali ini dengan Kahar Muzakar dan pasukannya.

Eskalasi pertempuran antara APRIS dan pasukan Kahar Muzakar terus meningkat, hal ini karena para gerilyawan terkenal tangguh di medan perang. Untuk menurunkan tensi pertempuran, diadakanlah perundingan dan hasilnya pasukan Kahar Muzakar akan dijadikan sebagai pasukan cadangan republic. Persiapan telah dilakukan untuk acara  pelantikan, tapi kenyataannya pasukan Kahar Muzakar diterima secara bergelombang, tidak serentak. Mersa dibohongi, Kahar Muzakar dan pasukannya kembali ke hutan dan memulai petualangan mautnya. Ideology pun bergeser, Pancasila dikritik dan lalu berafiliasi dengan DI/TII Kertosuwiryo di Jawa Barat. Anak-anak republic yang awalnya mati-matian memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, kini harus berhadapan dengan tentara republic yang mereka perjuangkan kemerdekaannya itu.

Soekarno mengeluarkan pernyataan : Negara dalam keadaan darurat!. Awalnya operasi militer selalu gagal mematahkan perlawanan pasukan Kahar Muzakar. Kemudian pada akhirnya digelarlah operasi militer gabungan dan besar-besaran yang dipimpin langsung oleh Pangdam Pattimura. Pasukan kodam Pattimura didukung oleh kodam V Brawijaya, kodam IV Diponegoro,  dan kodam III Siliwangi. Pengepungan besar-besaran ini berhasil membuat beberapa pentolan pasukan Kahar Muzakar menyerah. Dan pada akhirnya Kahar Muzakar sendiri rebah ditembus tiga peluru pasukan Siliwangi. Tapi sampai sekarang beberapa pengikut setianya percaya bahwa Kahar Muzakar masih hidup. Dan Metro tv pun menutupnya dengan sebuah statement misteri, bahwa ada kabar Kahar Muzakar dikuburkan di taman makam pahlawan di kota Makassar tetapi tanpa nisan.

“Ayo Bung lekas mandi, kita jalan anak muda!,” itu suara Bung Jun yang menyuruh saya untuk segera mandi berbarengan dengan kredit tittle bahwa acara Metro Files telah usai. “ Jalan ke mana Bung?,” / “PRJ”

***

Maka pasti kamu tidak tahu, karena kamu hidup dengan duniamu, waktu saya malam itu memakai t-shirt hitam bergambar kepulauan Nusantara dan di belakangnya bertulisakan :

[REPUBLIK BULUBABI]
Kick Andy
Tunggu Kedatangan Kami!

Cukup lama juga menunggu 53 lewat. Bung Jun mulai gelisah dan membakar cigarette. Bung Oky terlihat tenang saja, tapi membakar cigarette juga. Sementara saya merasa kosong dan sepi, tidak membakar cigarette. Arus lalu lintas terlihat parade kunang-kunang, angin Jakarta bertiup kering, dan malam telah menyembunyikan sebagian wajah-wajah kecewa. Saya membayangkan ini adalah sebuah perjalanan rekreatif yang tidak sentimental. Saya membayangkan PRJ adalah karnaval budaya yang elegan, menghadirkan banyak soal mengenai Jakarta sebagai sebuah akulturasi budaya dan Betawi sebagai entitas local, tak lepas dari sejarah dan perkembangannya. Saya membayangkan akan mendapati pertunjukkan---walaupun sangat minimalis---lenong, gambang kromong, tanjidor, ondel-ondel, dan informasi mengenai sejarah Jakarta dari masa ke masa.

Tapi memang bayangan harus pudar oleh kenyataan. Perjalanan ini memang tidak sentimental, tapi membuat saya sedikit mual. Jadi kamu harus membayar 25 ribu (20 ribu untuk hari senin-Jjum’at), hanya untuk masuk ke pasar dan jidatmu dihajar palu godam budaya konsumtif. Kalau kamu masih muda dan menyukai perempuan, bisa dipastikan aka nada sedikit desiran waktu melihat SPG-SPG beraksi dengan barang dagangannya. Maka yang dilakukan orang-orang hanyalah belanja, makan cemilan, fot-foto dengan SPG penggoda iman, dan berdesak-desakan. Saya tak melihat ada semangat untuk mengangkat budaya yang termarginalkan, meskipun dalam bentuknya yang hanya tempelan. Bahkan tukang kerak telor pun hanya berderet-deret di luar arena PRJ karena tak mampu beli stand di dalam. Stand dipenuhi firma-firma raksasa yang garda depannya adalah perempuan-perempuan cantik yang sibuk menawarkan produk.

Bergeser sedikit ke panggung utama, ternyata ada sosialisasi Banjir Kanal Timur yang katanya bisa mengatasi banjir sampai seratus tahun, sementara di bawah, di dekat kaki saya berdiri, sampah berserak dengan genitnya. Saya digelitik pertanyaan :  “Apakah saya sedang berdiri di tengah Pekan Raya Kontradiksi?”. Tapi tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara Sandy Sandoro yang tengah berdiri di panggung dan saya sedikit keliru : saya mengira dia Akri Patrio. Orang-orang mulai ikut bernyanyi, tapi saya tidak bisa menikmati. Saya bakar cigarette dan mulai berandai-andai : andai saja The Sigit atau Monkey to Millionare yang tampil di sini.

Tapi hidup tidak bergerak dari berandai-andai, tidak berputar dari panjang angan-angan, melainkan oleh melangkahkan kaki dan mulai berjalan meninggalkan PRJ lewat pintu keluar. Kali ini 53 langsung datang dan kami di hadang macet di Jiung. [ ]


19 Juni ‘11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai