14 May 2012

(Calon) Guru Dilarang Merokok

Sabtu, dan hujan. Ini di UNJ, dan di Rawamangun yang punya cuaca tidak jelas. Saya semacam mau cari informasi mengenai program sarjana ekstensi, semacam ada rencana mau sekolah lagi. Oh, setelah enam tahun lulus dari Politeknik Gajah Duduk, akhirnya kesempatan ini datang juga. "Do'a yang kita kirim ke langit tidak akan pernah balik lagi ke bumi, tapi menempel lekat di langit, dan hanya urusan waktu saja kapan do'a itu akan terkabulkan," begitu kata seorang kawan. Maka siang yang dibangun oleh angin kencang dan titik-titik hujan itu menyeret saya ke gerbang UNJ, mencari gedung yang dicurigai punya informasi yang saya perlukan.

Tapi gedung yang dicurigai tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Ini kampus yang kurang sedap dipandang, lumayan gersang, dan tidak terlampau luas. Siang sudah uzur, lambung minta diantar ke warung nasi. Saya menyeret langkah ke kantin yang gelap, lumayan sempit, dan berbentuk seperti lorong. Orang-orang banyak belaka yang sedang makan, minum, dan aktivitas lain yang kurang penting. Mulut mulai asam, tapi saya tidak berani menyulut batang racun.

Dari banyak mahasiswa yang berkeliaran tak ada satu pun yang merokok. Tidak juga satpam, tidak juga orang setengah baya yang seperti ingin disebut dosen, tidak juga mahasiswi seksi yang bisa distempel sebagai member salah satu dugem. Ini benar-benar aneh. Kampus yang identik sebagai penghasil guru-guru muda ini seperti pengikut setia MUI yang mengharamkan rokok. Keadaan ini membuat Marlboro merah membisu di sudut tas hitam yang saya gendong.

Sepiring nasi Padang datang menghampiri. Keroncong bertambah nyaring di kedalaman lambung. Saya konsentrasi, di mana-mana orang harus fokus, termasuk ketika makan. Dan kamu, wahai para perokok aktif, pasti tahu belaka bagaimana rasanya setelah makan nasi Padang tapi tidak merokok??, ya betul, tepat sekali : seperti dikeroyok bencong tapi tak sanggup melawan. Asam betul.

Tapi saya tak menyerah. Masih mencoba melirik kanan-kiri, siapa tahu ada moncong yang sedang asyik mengepulkan asap. Tapi memang tidak ada. Barangkali calon guru dilarang merokok. Oh, mulia sekali. Para calon pendidik anak negeri dilarang merokok. Dan bencong-bencong sialan semakin keras menghantam dan mengeroyok. Transaksi selesai, saya meluncur ke halte bus. Informasi tak ada, semua fakultas tutup, gedung rektorat tutup. Ini sabtu, dan orang-orang sedang berlibur, yang dikampus adalah mereka yang tidak punya jadwal berlibur.

Bahkan di halte pun tak ada seorang pun yang merokok, padahal hari sedang hujan, dingin dan berangin. Tapi akhirnya saya menyerah, keluarlah Marlboro merah, ujungnya mulai hangus dan berasap. Di hisapan ke empat mobil jurusan Depok datang. Batang yang masih panjang itu menginap di depan kampus yang tak seorang pun terlihat merokok. Oh, Rawamangun. [ ]

Ahad, Des '11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai