14 May 2012

Bukan Jalan Klandestin

Usia sebuah hari bisa diukur dari hangatnya sinar matahari. Ketika terik yang menyengat perlahan berkurang dan kemudian menjadi hangat yang hambar, maka itulah pertanda bahwa senja telah datang. Dan hari itu senja tiba juga di Matraman. Sinar keemasan masih saja berusaha menerobos sebuah toko buku lewat jendela kaca yang sedikit buram. Beberapa orang terduduk di pojok sambil rela menyerahkan matanya ditawan ribuan aksara. Inilah kontradiksi. Sekilas memang sepi. Sepi yang menekan. Tapi di dalam pikiran orang-orang yang duduk itu; ramai sekali oleh gejolak yang terpatri dalam deretan huruf yang rapi. Toko buku adalah sebuah tempat yang miskin komunikasi. Antar manusia hidup dalam dunianya sendiri. Dan ini menjadi sempurna ketika dilakukan sendirian. Maka tak heran jika Isabella Swan menolak tawaran Jess dan Angela, seperti yang ditulis Stephenie Meyer :

“Kukatakan akan menemui mereka di restoran satu jam lagi---aku mau mencari toko buku. mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang---mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian.”

Toko buku memang bukan lab asosial, tapi juga bukan tempat yang tepat untuk berbanyak cakap, apalagi degan volume suara di atas rata-rata. Dan membaca buku memang tidak menumpahkan keringat---sesuatu yang dianggap sebagai simbol kerja---tapi dibalik lahirnya buku-buku itu tersimpan cerita tentang kerja, yang terkadang prosesnya sangat panjang. Ini mungkin sebuah contoh yang hiperbola. Thomas Raffles, di tengah kesedihan yang mengepung karena baru ditinggal mati oleh istrinya, dia pulang ke London dengan membawa 30 ton dokumen tentang Jawa yang kemudian melahirkan dua jilid buku The History of Java,  kitab setebal 1000 halaman. Dokumen sebanyak itu dia dapatkan dari sebuah usaha dan perjalanan panjang. Di Tengger, Bromo, dia mencari manuskrip khazanah lokal setempat. Kemudian dia mengunjungi Bali, dan dari raja Buleleng dia mendapatkan naskah Baratayuda versi Bali. Sementara di Solo, dia mendapatkan Serat Manik Maya yang diberikan oleh Susuhunan Pakubuwono IV. Dalam pencarian berbagai macam babad kesusastraan Jawa dia dibantu oleh sejumlah Bupati, diantaranya Bupati Semarang Kiai Adipati Sura Adimanggala. Panembahan Sumenep Natakusuma, dan Bupati Tegal Aria Reksanegara.

Buku dan manusia memang bukan sebuah rectoverso, apalagi di Indonesia yang sangat betah dengan predikat sebagai “generasi nol buku”. Ketika di Amerika Serikat para siswa sekolah diwajibkan membaca minimal 32 buku, dan di Thaland diwajibkan minimal 5 buku, di Indonesia kewajiban itu tidak ada sama sekali. Maka tak heran jika Taufik Ismail menyebutnya sebagai generasi “rabun membaca”. Polemik dalam tulisan mulai jarang ditemukan, dan debat kusir menjadi primadona, sementara para pengucap pun tidak pernah benar-benar menjadi orator ulung, agitatif, atau bahkan menjadi Singa Podium. Para jagoan verbal selalu kentang. Argumen berhamburan dan tidak pernah bisa mengendap untuk bisa dibaca ulang.

Penjara Banceuy bukanlah rutan Cipinang ataupun Salemba yang bisa membarter rupiah dengan fasilitas di dalam penjara. Kalau saja Soekarno bisa mendapatkan fasilitas seperti Ayin, pasti Inggit Ganarsih tidak perlu susah menempuh jalan klandestin untuk menyelundupkan buku kepada suaminya. Dari dalam penjara Soekarno berucap : “Biar engkau meringkuk di antara empat tembok ini, tetapi besarkanlah engkau punya hati; ide yang terkandung di dalam dadamu memecahkan ini tembok, akan menjalar keluar tembok ini.''

Walaupun sekarang Jaksa Agung masih saja melarang-larang beberapa buku yang dianggapnya dapat meresahkan dan mengganggu ketertiban umum, tapi setidaknya sekarang tidak sulit lagi mendapatkan buku-buku merah. Ya, jaman memang terus berganti. Dulu komunisme yang buku-bukunya diintai, dilarang, dan dibumihanguskan. Sekarang ketakutan telah bergeser; buku-buku jihad dan yang dianggap berpotensi menimbulkan radikalisme dibabat tanpa ampun. Nyata sekali bahwa buku selalu saja menimbulkan ketakutan, sekaligus trauma.

Dan jalan buku pada kenyataannya sangat beragam. Ada yang merliku-liku melewati tebing-tebing curam, ada pula yang jalannya lempang; terang benderang seperti cahaya bulan jatuh di jalan yang bersih. Sekali waktu seorang kawan mengamati peredaran buku di kalangan mahasiswa, dan hasilnya ternyata hampir sama, bahwa buku yang mendominasi kehidupan sehari-hari para mahasiswa setidaknya ada empat :
  1. Bukunya Robert T. Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad), inilah buku yang mengawali hingar-bingar dan kegaduhan kampanye berwirausaha. Lalu berkelindan dengan bisnis MLM, dan dengan sangat manis menghantam semangat menyala para mahasiswa.
  2. Komik Detektif Conan atau Kambing Jantan sebagai hiburan di tengah kesibukan kuliah dan tugas-tugas makalah.
  3. Buku-buku merah atau setidaknya bersampul gambar kepala Che dengan topi baret ciri khasnya.
  4. Sebagai asupan giji di bidang rohani, buku ustadz Yusuf Mansur pun lumayan laris di pasar anak-anak muda ini.
Ah, tapi itu hanya pengamatan serampangan dan amatiran. Lagi pula, sekarang bukan jamannya lagi untuk kesulitan menikmati buku dan menempuh jalan klandestin untuk melahap beragam buku. Kran buku sudah lama dibuka lebar, para petarung di dunia tulisan terus-menerus lahir. Dan pemenangnya, setidaknya untuk sekarang, adalah para pejalan celotehan di dunia maya. Ya, setiap generasi memang memiliki bahasanya masing-masing, dan kita dianggap perlu untuk menghargai itu. Tidak mustahil duapuluh tahun ke depan ejaan bahasa kita menjadi ejaan bahasa alay yang disempurnakan, barangkali itulah yang membuat Bre Redana menulis dengan geram, “Kalau kita masih berpikir bahwa kita harus menjaga bahasa Indonesia seperti kita menjaga ibu, maka akan sakit hati dan TBC. Buku-buku yang memporak-porandakan bahasa dan akal sehat laris keras, dirayakan di mana-mana.” [ ]

17/11/11

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…