14 May 2012

Belajar Dari Andrea

Apa sebenarnya yang menarik dari buku Laskar Pelangi?. Ide yang dikemukakan Andrea Hirata adalah sudah pernah diceritakan oleh penulis-penulis lain, bahkan sering. Ide yang terdengar klasik sebenarnya : menceritakan anak manusia yang berlatar belakang ekonomi lemah, namun dengan cita-cita dan impian yang kuat akhirnya dapat menggapai apa yang dicita-citakan dan diimpikannya itu. Tapi inilah Andrea yang mau dan bisa bercerita tentang humanisme, di tengah penggembosan ide yang dipertontonkan media televisi di tengah-tengah ruang publik. Pun begitu dengan buku-buku fiksi yang beredar di masyarakat, sudah terlalu banyak cerita-cerita yang remeh-temeh yang lebih mengedepankan pertimbangan pasar dan komoditas. Tema yang tidak jauh dari urusan percintaan, perselingkuhan, hidup kaya-raya, kekerasan, klenik serta acara ‘sim salabim’ yang semakin marak, akhirnya membuat masyarakat merindukan sebuah tulisan yang lebih “berkapasitas”.

Orang-orang seperti menemukan sebuah nilai baru, sebuah penyegar inspirasi bagi kehidupannya. Padahal pesan-pesan yang disampaikan Andrea bukanlah sesuatu yang baru atau pun sesuatu yang “wah”, bahkan sederhana sebenarnya. Potret ini sungguh ironi. Ditengah gencar-gencarnya pembangunan Sumber Daya Manusia dengan pembangunan infrastruktur dan instrumen pendidikan lainnya yang dari tahun ke tahun terus diperbaharui, ternyata nilai yang tertanam dimasyarakat justru semakin pudar. Serbuan dunia entertainment melemahkan nilai-nilai yang telah disepakati bersama dalam kehidupan sosial. Bahkan kondisi ini pun telah banyak meruntuhkan beberapa lembaga kehidupan yang paling pertama dan utama yaitu keluarga, dengan acara-acara gosip yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi oleh publik. Dalam kondisi demikianlah Andrea muncul dengan tema humanismenya yang menyentuh sehingga pasar pun sangat positif meresponnya.

Apa yang ditulis Andrea sebenarnya adalah sebuah catatan pengalaman atau memoar yang terutama memotret masa kecilnya. Dalam Laskar Pelangi, Andrea banyak bercerita tentang masa-masa kecilnya ketika sekolah di SD di pulau Belitong. Laskar Pelangi sebenarnya tidak diproyeksikan menjadi sebuah buku yang best seller, tapi Andrea menulisnya hanya untuk memenuhi janji kepada guru masa SDnya. Naskah Laskar Pelangi pada awalnya hanya dicopy beberapa buah saja, kemudian naskah itu Andrea bagikan kepada guru dan teman-temannya. Dan salah seorang temannya membawa naskah Laskar Pelangi ke penerbit Bentang, Yogyakarta. Maka jadilah Laskar Pelangi yang sekarang, yang pernah kita baca dan disukai banyak orang. Dalam rentang waktu beberapa hari saja, buku ini sudah menjadi best seller. Beberapa media kemudian mengangkatnya dalam acara-acara talk show, gosip bahkan berita. Maka setelah itu, Andrea menjadi sibuk dalam acara-acara bedah buku, pameran buku dan acara-acara yang lainnya yang mengundang perbincangan publik. Dan karena Laskar Pelangi itu adalah tetralogi, maka apa yang terjadi pada buku-buku lanjutannya adalah sama dengan apa yang terjadi pada Laskar Pelangi : best seller. 


Sebagai sebuah buku yang dikatakan “sastra” oleh banyak kalangan, Laskar Pelangi tidak terlepas dari berbagai kritik sastra dan para pemerhati buku. Mereka kebanyakan mengkritisi beberapa isi yang sedikit membingungkan. Seperti ada ketidaksambungan ide antara satu buku dengan buku lainnya, terutama dalam sifatnya, antara fiksi atau non fiksi. Dalam penceritaannya ada beberapa adegan yang tidak nyambung secara logika dan irasional. Contohnya adalah seorang tokoh yang bernama Lintang. Andrea menggambarkan Lintang adalah seorang yang sangat jenius, padahal Lintang itu sendiri hidup dalam keluarga miskin yang sangat terbatas media-media untuk belajar, juga semua anggota Laskar Pelangi sendiri sekolahnya bukanlah di sekolah yang bonafid tapi hanya di sekolah kampung yang jauh dari layak. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, Andrea menggambarkan kecerdasan Lintang secara ‘berlebihan’, seolah-olah anak tersebut disokong dengan media belajar yang layak dan dinutrisi dengan konsumsi makanan yang bergizi. Ini tentunya bukan menafikan bahwa tidak sedikit anak-anak yang berlatar ekonomi lemah tetapi tingkat kecerdasannya tinggi, tapi apa yang dituliskan Andrea dalam Laskar Pelangi, sekali lagi kata para pemerhati buku : kurang mewakili realita.

Tapi terlepas dari pro-kontra dan sanjungan-kritikan, Laskar Pelangi telah memberikan paradigma dan semangat baru dalam dunia pendidikan kita. Dan Andrea mengajarkan sebuah catatan sederhana : bahwa pengalaman hidup jika dituangkan dalam tulisan, akan lebih diapresiasi oleh orang lain. Dan pengalaman itu akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang membacanya, maka perjalanan yang telah dijejakkan tidak hanya meninggalkan sepotong kenangan, tapi juga ada nilai yang dikandungnya. Dan ingatlah sepotong mantra Joko Pinurbo : “Cara terbaik untuk memulai menulis adalah menulis”. [ ]


itp, ‘08

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai