19 May 2012

Abu dan Lembaga Kehidupannya (i)


Dia kawan saya sebangku. Tak kurang dari sembilan tahun kami duduk bersebelahan, dari semenjak kelas satu SD sampai kelas tiga Madrasah Tsanawiyah. Setiap pagi dia mampir dulu ke rumah saya untuk pergi sekolah bersama, dan setiap kali dia datang saya masih saja di depan layar televisi, belum mandi dan belum membereskan buku ke dalam tas. Mama sering mensehati saya : “kalau pagi-pagi cepat kamu mandi, jangan nonton tv terus, kasihan si Abu, setiap kali dia datang kamu pasti belum mandi”. Tapi keesokan harinya, waktu si Abu datang, lagi-lagi saya belum mandi, masih saja di depan kotak ajaib melihat berita pagi. Karena keseringan, mama jadi bosan menasehati saya. Abu pun yang awalnya sering menggerutu karena lama menunggu, menjadi biasa saja, rupanya dia sudah kebal dengan acara menunggu itu. Dan hebatnya, meskipun setiap hari  kesal menunggu, dia tetap saja mampir ke rumah demi untuk berangkat ke sekolah bersama-sama.

Namanya juga anak kecil, setiap kali si Abu berganti sepatu, saya pun pasti minta sepatu baru, tapi bapak tidak selalu mengabulkan, beliau selalu menasehati, “kalau sepatu yang lama masih bagus, masih bisa dipakai, kenapa harus ganti?, tidak semua yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan.” Tapi kalau beliau sudah melihat sepatu saya pucat, dan solnya mulai terkelupas, pasti dibelikan juga sepatu baru itu. Rumah Abu persis di atas rumah saya, kampung kami memang berada di lereng bukit, jadi rumah penduduk seperti punden berundak-undak. Di sekolah, prestasi kami lumayan berkasta. Saya selalu masuk tiga besar, sedangkan Abu tertatih-tatih di zona duapuluh besar. Entah kenapa, meskipun sangat lama duduk sebangku, tapi prestasi saya tidak pernah menular kepada kawanku itu. Ini bukan sombong, tapi memang kenyataannya demikian. Kalau samen atau kenaikan kelas, saya langganan naik ke podium untuk mengambil raport dan hadiah yang dibungkus kertas kado, yang isinya pasti satu pack buku bermerek Sinar Dunia atau Mirage yang logonya bergambar pesawat tempur.

Soal perlengkapan sekolah macam tas dan sepatu, saya memang banyak terpengaruhi oleh Abu. Waktu dia membeli tas selempang merek Alfina, saya pun ikut-ikutan membeli tas selempang tapi mereknya Export. Waktu dia membeli sepatu Dokmar yang di bawahnya ada lampu, saya pun minta sama bapak untuk dibelikan sepatu seperti itu, tapi bapak tidak mengabulkan, mubazir katanya, “kalau sekolahnya malam hari, baru bapak belikan,” begitu alasannya. Soal gaya, saya memang tertinggal jauh sama Abu, dia sering sekali berganti sepatu dan tas, maklum anak pertama, dan adiknya hanya dua orang. Sedangkan saya adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Baru-baru saya mengerti, kenapa bapak tidak selalu mengabulkan permintaan saya, sebab anak berderet-deret, dan kebutuhan sekolah setiap anak harus dipenuhi, dan biaya hidup semakin menggantang, jadi barang yang tidak penting betul, beliau eliminasi.

Meskipun di sekolah sebangku, dan di rumah bertetangga, tapi kami tak pernah bosan untuk main bersama, selalu  ada saja acara hebat yang kami kerjakan. Seperti misalnya membuat jebakan kaleng dan tali, yang berfungsi untuk membuat orang, terutama orang-orang yang sudah tua menjadi kaget. Caranya sederhana; kaleng bekas susu formula atau bekas cat tembok yang sudah tidak ada tutupnya disimpan di pinggir jalan yang biasa dilalui orang dengan berjalan kaki. Posisi kaleng itu harus terbalik dan tersembunyi agar calon korban tidak merasa curiga. Kaleng dijepit dengan dua batang kayu yang fungsinya untuk mengaitkan karet gelang. Dan karet gelang itu berfungsi untuk mengikat semacam logam bolong yang namanya saya lupa lagi dan posisinya persis di atas kaleng. Selanjutnya logam bolong yang diikat oleh karet gelang tersebut diputar agar ketika terlepas bisa menimbulkan efef balik alias berputar pada arah yang berlawanan. Nah, ketika berputar balik itu logam bolong tersebut akan menghantam kaleng dan akan menimbulkan bunyi keras yang cukup mengangetkan. Tapi jebakan belum selesai, karena harus melengkapinya dengan tali (biasanya kami memakai benang untuk bermain layangan alias nilon). Tali dibentangkan di atas jalan yang akan dilalui orang-orang, ujung tali yang satu mengikat kayu kecil yang biasa disebut rokrak yang dimasukkan pada logam bolong, yang berfungsi untuk menahan putaran balik karet gelang, dan ujung yang satunya lagi mengikat kayu agak besar yang ditancapkan di sisi jalan yang lain. Kini jebakan sudah siap pakai. Tali kecil membentang di atas jalan, siap menghampat laju pejalan kaki, ketika kaki menarik tali, maka kayu kecil akan terlepas dari logam bolong, dan logam bolong akan menghantam kaleng, maka korban, yang bisanya orang-orang tua akan berteriak kaget sambil meloncat. Dan kami menahan tawa di balik persembunyian. Ya Alloh, masa kecil yang menyenangkan.

Selain dalam hal jebakan, dalam banyak hal lain pun kami kerap kali bersekutu. Contohnya dalam adu rebut layangan yang kalah. Kalau ada layangan kalah alias putus karena disembelih benang gelasan layangan lawan, maka layangan itu menjadi hak umum, dan boleh diperebutkan. Nah, ini dia medan kami untuk bersekutu. Layangan putus terbang menukik seperti orang mabuk, dia melayang-layang di udara tanpa kendali sang tuan yang telah menjadi pecundang. Anak-anak ramai berlarian dan sesekali mendongak ke atas untuk memastikan ke mana gerangan layangan malang itu akan jatuh. Ketika ternyata layangan hinggap di atap rumah penduduk, dan ada tiang listrik yang bisa dinaiki untuk mencapai layangan tersebut, maka anak-anak akan berebut memanjat tiang listrik. Kalau kami kalah cepat memanjat, sementara yang lain sedang berjuang menaklukkan tiang listrik, maka aku dan Abu akan bernyanyi dari bawah untuk mengganggu konsentrasi orang yang sedang memanjat tiang listrik : “lek lek sang, lek lek sang, bulu kelek panjang lesang….lek lek sang, lek lek sang, bulu kelek panjang lesang…..”, demikian berulang-ulang sampai tiang listrik itu menjadi terasa licin oleh kompetitor kami, dan mereka merosot lagi ke bawah. Maka kalau sudah demikian, Abu akan segera merebut tiang listrik dan dengan cepat menaklukkannya, maka layangan putus pun berhasil dia capai. Sempurna !!.

Tapi yang paling keren adalah waktu kami pergi ke pantai Ujung Genteng dengan memakai sepeda. Jarak kampung kami ke pantai di ujung selatan Jawa Barat tersebut ada sekira 50 kilometer atau lebih. Kami pergi memakai sepeda BMX yang sudah jadul, karat di sana-sini, dan remnya hampir blong, kondisi sepeda yang kurang berpihak kepada keselamatan. Orangtua kami awalnya tidak kasih ijin, tapi kami mencoba menjelaskan, bahwa kami harus mengenal tanah airnya sendiri dengan pengalaman-pengalaman yang menantang, bukan hanya tahu dari kabar orang atau buku-buku pelajaran sekolah. Kami berangkat jam lima pagi, waktu batang-batang pohon belum terlihat sempurna dan sebagian embun masih mencoba untuk luruh ke bumi. Kami mengayuh sepeda dengan semangat, maklum maih pagi, lagipula jalannya cenderung menurun. Abu mengayuh di depan, berjarak kira-kira lima meter dari saya yang tercecer di belakangnya. Dalam remang gelap suasana subuh, sekilas Abu dan sepedanya terlihat seperti siluman Trenggiling yang kedinginan. [ ]

30/03/2011 - semacam bersambung

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai