15 May 2012

3 Bung, 3 Behel, dan Tradisi yang Memudar [1]


“Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkat kalau aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ‘aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri.”
Di penghujung cerita pendeknya, Yovantra Arief menulis paragraph tersebut. Ceritanya begitu memesona, bukan karena kisah ‘aku’ dengan Asri, istrinya, tapi karena dia pandai mengatur ritme dan gaya bertutur yang tidak membosankan. Sudah tiga kali saya membaca cerpennya, diulang-ulang, dan tak kunjung juga saya menjadi bergairah untuk menulis. Kosong. Tradisi menulis yang saya rawat selama hampir enam tahun tiba-tiba luruh menyentuh titik terendah. Kosakata hilang. Diksi melayang. Cerita bertukar dengan perhitungan angka-angka. Apakah menulis itu bukan tradisi paten dalam diri seseorang? Saya mulai mengkhawatirkannya.

Pada sebuah tengah malam yang dingin waktu hujan mengguyur Jakarta, saya keluarkan semua buku dari rak. Majalah-majalah saya bongkar dari dus indomie, dan koran-koran edisi lama saya keluarkan dari lemari. Saya berusaha mengumpulkan konsentrasi dan gairah demi ingin melahirkan sebuah tulisan. Barangkali dari buku, majalah, dan koran bekas itu ada sesuatu yang menarik hati dan bisa saya contek untuk kemudian saya tulis ulang dengan sedikit membongkar pasang kalimat dan paragraph, tapi nihil. Saya buntu. Dalam hampa ide saya berjalan keluar dan duduk di kursi kayu, di tempat jemuran. Saya membakar cigarette. Asap racun rerak berhamburan. Barangkali tak ada yang menarik untuk dituliskan melebihi sakit hati. Kata-kata seringkali mengalir lancar dari labirin yang murung dan suram. Tapi saya sedang tidak ingin mendung.

Cigarette sudah habis dua batang. Hujan mulai reda. Dalam kondisi seperti ini saya sebaiknya mendatangi Muhidin. Dan saya baca lagi buku tua itu. Buku yang saya beli tahun 2004 itu sudah lusuh dan kertasnya sudah banyak yang terlepas dari punggungnya. Lalu saya mendapati paragraph ini:
“Dan aku, di kamarku, sendiri tanpa ada masa depan. Beberapa kali kubolak-balik buku. Beberapa kali kuambil pena untuk menulis lagi. Dan selalu saja gagal. Aku takut. Apakah tradisi menulis itu gampang hilang dari diri seseorang? Mestinya tidak. Karena menurut banyak pemrasaran dalam seminar menulis yang kuhadiri, menulis itu adalah tradisi paten yang ada dalam diri seseorang. Tinggal apakah ia sering dipakai atau tidak. Dan ia akan hilang sendiri kalau ia sering tidak dipakai.”
Nah, jelas sekarang. Maka kemudian saya membuka-buka halaman dan rentetan kejadian dan pengalaman yang tersimpan dalam tempurung memori. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa saya pindahkan ke dalam tulisan.  Saya tidak ingin ditinggalkan tradisi. Ini sebuah kerja keras yang terdengar absurd, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai konsekuensi pilihan. Dan lagi-lagi ide yang melintas di kepala tidak berganti dari aroma kekecewaan. Oke, baiklah. Demi merawat dan menjaga tradisi menulis, akhirnya saya terima juga cerita murung ini:

“Because you drive me insane, so please just hear what I say.” Betul. Lagu itu baru saja saya dengar dari kamar sebelah, kamarnya Bung Joni. Ini agak berbeda, biasanya dia hanya doyan mendengarkan Pas Band saja, tapi kali ini Mocca didengarkannya juga. “Invalid Bung!”, begitu katanya. Memang bukan salahnya, jika dia jatuh hati pada seseorang non muslim. Seperti juga katanya, kata Bung Joni, perasaan tidak berbanding lurus dengan keyakinan. Perasaan seringkali berjalan acak, meloncat-loncat, dan hinggap sembarangan di hati siapa saja. Maka akhirnya Bung Joni jatuh hati pada Rani; gadis manis penganut Kristen Protestan yang giginya memakai behel.

“Memangnya kau sudah bicara apa saja sama dia?” Bung Joni menarik napas, terdengar berat, lalu menghembuskannya. Dan mulailah dia berkicau; bukannya Rani tak sayang sama dia, tapi gadis manis itu sudah terlanjur mengangkat bendera putih dan menyerahkannya kepada perbedaan agama. Bung Joni juga bukannya tidak tahu soal sensitive yangf satu ini, tapi memang yang namanya perasaan kadang-kadang kurang ajar betul, dia menghantam siapa saja yang masih bernyawa, yang melankolik atau pun yang sangar, tetap saja tak bisa lari dari serangannya. Saya lihat, mukanya murung belaka. Bung Joni invalid di garis sensitive. Kondisi seperti ini sangat rawan membuat seseorang menjadi marah dan menyalahkan Tuhan. Tapi saya yakin Bung Joni bukanlah person yang lemah, dia sekarang memang tengah terlihat murung, tapi soal iman, saya kira, dia tidak mudah berderak-derak. Dia tidak akan terpengaruh oleh film Cin(t)a yang mengusung semangat pluralism yang salah kaprah. Bung Joni pasti tahu belaka soal aturan main: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, bukan malah membuat keyakinan menjadi seporsi gado-gado yang lalu dengan itu menerabas aqidah dengan tafsir yang gegabah.

Dalam jeda tanpa dialog saya coba menghiburnya dengan memutar The Panasdalam. Tapi lagu yang terdengar malam membuatnya meringis, brengkes saya salah pilih, coba dengarkan ini, “Aduhai indahnya bercinta berbeda agama…”. Cepat saya ganti dengan lagu yang lain sebelum dia menggeram karena jengkel, karena merasa saya tengah mengejeknya. Saya pilih playlist dengan pelan-pelan, dan saya temukan lagu yang sekira cocok dengan kondisi di langit jiwanya. Masih The Panasdalam, “Wanita se-Kodya Bandung punya saingan semenjak Jono jadi bencong…”, tapi mungkin karena dia tengah labil, maka kupingnya kurang berfungsi dengan baik, dan gawat, yang terdengar olehnya malah, “Wanita se-Kodya Bandung punya saingan semenjak Joni jadi bencong…”. Dia menggeram keras, dan sebelum menerkam, saya langsung ambil langkah seribu. Kabuuurrr…[irf]

04 Mei 2011
 
Foto: leydonlettings.co.uk

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…