14 May 2012

19 - Tentang Makan Tanah

Kalau saja dia bisa menangkap apa yang aku katakan dan aku lakukan, sebenarnya ada korelasi. Tapi barangkali dia lupa, atau mungkin tidak yakin, entahlah. Meskipun kini semuanya telah hangus dibakar waktu, tapi setidaknya aku ingin menguatkan kembali pijakan, bahwa masadepan itu tidak terlalu absurd selama aku tidak gampang goyah.

Pada pertemuan mula-mula tidak jauh dari toko buku itu, waktu dia seperti biasa memakai baju warna biru, telah aku katakan bahwa rayuan adalah serupa riasan menor yang membuat wajah menjadi topeng, serupa bedak yang terlalu banyak melumuri muka. Serupa meteor yang berhamburan melumuri bumi. Aku tidak sedang bermain-main ketika kukatakan padanya bahwa masadepan yang ingin kutempuh adalah Oscar-London-Victory-Alfa.

Sekali menempuh jalan, kenapa harus mundur?. Telah begitu sering datang cerita tentang tokek tuli yang berhasil menaklukkan batang pinang dalam sebuah kompetisi. Persoalannya bukan tentang nasihat, tapi terlalu banyak penonton yang berteriak, bersorak, dan hendak menjatuhkan mental. Di relasi publik ini, hanya sedikit yang mengerti tentang garis demarkasi, tentang garis batas antara wilayah normatif yang boleh diduduki dan wilayah privasi yang tidak boleh diterabas. Tapi memang setiap ikan buntal dilengkapi kemampuan untuk menggembungkan diri, setiap cumi disertai tinta hitam, dan setiap landak diberi kemampuan untuk menunjukkan duri. Ah, tapi sebenarnya bukan tentang survival juga, barangkali sikap tentang menghargai.

Dan aku hargai keputusan Olva---waktu itu---untuk menghilang. Pergi tanpa meninggalkan jejak, lalu tiba-tiba muncul tepat di depan muka dengan wajah innocent ketika aku sudah tidak percaya lagi dengan segala argumennya. Demikianlah karakter jiwa tumbuh dalam warna tanah yang tidak berubah. Sekali dia menyia-nyiakan kepercayaanku, maka jangan harap ada siaran ulang. Padahal waktu itu, beberapa hari setelah pertemuan yang aku pikir cukup romantic, aku pinjamkan dia buku The Kite Runner karangan Khaled Hosseini. Tujuannya bukan sekedar wisata sastra, tapi untuk menyiapkan stabilo dan memberi tanda pada apa yang ingin aku sampaikan melalui cerita. Tapi barangkali buku itu tak pernah dibacanya, atau hanya sekedar sebagai pengantar tidur bila kantuk belum juga tiba, entahlah.

Ini sebenarnya yang ingin aku sampaikan itu. Halaman 80-81 :

Hassan melontarkan sebutir murbei ke mulutnya. “Layang-layangnya menuju ke sini,” katanya. Aku benar-benar kesulitan bernafas dan Hassan  bahkan tidak terdengar kelelahan.

“Dari mana kau tahu?,” tanyaku.

“Aku tahu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Dia menatapku. Butir-butir keringat mengalir dari kepalanya yang botak.
“Mungkinkah aku berbohong padamu, Amir Agha?.”

Saat itu juga aku memutuskan untuk sedikit bercanda dengannya. “Aku tak tahu. Mungkinkah?.”

“Lebih baik aku makan tanah,” katanya, terlihat tersinggung.

“Yang benar saja?. Kau mau melakukannya?.”

Dia menatapku dengan bingung. “Melakukan apa?.”

“Makan tanah kalau aku menyuruhmu,” kataku. Aku tahu aku bertindak jahat, seperti saat aku menggodanya jika dia tidak tahu arti kata-kata sulit. Tapi ada yang terasa menyenangkan---meskipun salah---saat aku menggoda Hassan. Seperti saat kami mempermainkan serangga. Kecuali sekarang, Hassan menjadi semutnya, dan akulah yang memegang kaca pembesar.

Matanya menelusuri wajahku selama beberapa saat. Kami duduk di sana, dua bocah lelaki di bawah pohon ceri, tiba-tiba memandang, tiba-tiba memandang satu sama lain. Saat itulah terjadi lagi suatu keanehan : wajah Hassan berubah. Mungkin tidak berubah, tidak benar-benar berubah, namun tiba-tiba aku merasa seperti sedang memandang dua raut wajah, satu yang kukenal, yang ada dalam ingatan pertamaku, dan satu lagi, raut wajah yang kedua, yang tersembunyi di bawah permukaan. Sebelum itu, aku pernah melihat hal ini---namun ini tetap membuatku sedikit terkejut. Raut wajah ini hanya muncul selama sesaat, namun cukup lama untuk meninggalkan perasaan gelisah karena mungkin sebelumnya aku pernah melihat wajah itu di tempat lain. Saat Hassan berkedip, dia menjadi dirinya kembali. Hanya Hassan.

“Kalau kau menyuruhku, aku akan melakukannya,” akhirnya dia berkata, tatapannya tertuju tepat padaku. Aku mengalihkan tatapanku. Hingga hari ini, aku merasa kesulitan menatap langsung orang-orang seperti Hassan, orang-orang yang benar-benar serius terhadap kata-kata yang mereka ucapkan.

Entah apa yang ada dipikirannya waktu itu. Meskipun akhirnya dia bilang dia mengalami semacam gegar budaya, tapi yang aku rasakan adalah seperti menjadi Tom yang ditinggalkan Summer. Begitu sepi dan menyakitkan. Dan aku duduk sendiri di bangku taman, angin menjadi terasa dingin dan berhembus merisaukan. Untung saja aku masih berada di ambang kesadaran sehingga tidak perlu bersikap absurd, bersikap meniru Tom yang pergi ke mini market memakai kimono, bermuka kusut, dan belanja Jack D. Ambang kesadaranku hanya ditemani cigarette dan tentu saja The Panasdalam yang setia bernyanyi : “Marilah bersama kami di sini Rock n Roll, lupa Indonesia Raya nyanyi Rolling Stone!.”

Hanguslah. Hanguslah apa yang telah berlalu. Seperti kata orang-orang yang ahli dalam urusan memori, bahwa atas nama kesinambungan aku memang harus belajar dari masalalu. Tapi atas nama masadepan aku harus menjernihkan memori. Ambil yang positif, tinggalkan yang negative. Jaga yang konstruktif, lupakan yang destruktif.

Pulanglah sejarah masadepanku ke dalam pelukan lembaga kehidupanmu. Jangan menoleh lagi ke belakang. Arek-arek Suroboyo telah lama mengajarkan kita tentang bagaimana caranya berkalang tanah. [ ]

itp, 13 Mei ‘12

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai