02 April 2012

Digenggam Langit Di Puncak Manglayang

"Kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan - slogan." (Gie)

***

Awal bulan Maret 2008, saya resmi mengundurkan diri dari tempat kerja yang lama di Cengkareng. Kemudian saya kembali ke Bandung, membawa satu tas berisi pakaian dan empat buah dus indomie berisi buku. Dua hari setelah itu, bersama Joni dan Aep (kami biasa memanggilnya Pak Haji), kami pergi ke Manglayang, ketika Bandung sedang diserbu wisatawan domestic dari luar kota, ketika hujan sedang gemar mebasahi kota bekas danau purba itu. Perjalanan dua tahun yang lalu, saya catat kembali di sini :

***

“Bila kita berpisah

Ke mana kau, aku tak tahu sahabat

Atau turuti kelok-kelok jalan

Atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan”

(Idhan Lubis)

***

Dari pangkalan DAMRI Dipati Ukur, kami kemudian meluncur ke Jatinangor. Sepanjang perjalanan kami makan gorengan karena perut mulai keroncongan. Bus penuh oleh mahasiswa UNPAD yang pulang kuliah. Memasuki jalan tol hujan turun cukup deras, di kejauhan samar-samar Manglayang terlihat berkabut, bagaikan monster anggun yang sedang bersedih. Sampai di Jatinangor kami belanja perbekalan untuk konsumsi selama perjalanan dan menginap di puncak. Hujan mulai reda, setelah packing selesai perjalanan pun dilanjutkan. Langkah pertama jalan sudah mulai menanjak, melewati kampus UNPAD dan UNWIM yang menggigil kedinginan. Kami bertiga berjalan berbaris seperti orang Baduy. Sesekali saya dan Joni membakar cigarette dan membidik pemandangan dengan kamera digital. Di dekat menara tua yang oleh penduduk setempat diyakini ada hantunya, kami mengambil gambar. Jalan terus menanjak sampai tempat peristirahatan pertama di Kiara Payung. Setelah sholat ashar dan makan, perjalanan kemudian dilanjutkan meninggalkan desa terakhir dan mulai memasuki perkebunan palawija dan hutan-hutan kecil. Langit masih pucat dan sedikit kelabu, sementara titik-titik hujan masih turun.

Saya pikir Manglayang bukanlah sebuah gunung yang mempunyai kandungan material vulkanik, melainkan hanya sebuah bukit yang cukup tinggi. Jadi bukan merupakan rangkaian pegunungan berapi, dia bukan cincin api, tapi setelah jalan-jalan ke Wikipedia, pikiran saya itu ternyata kurang tepat. Terlepas dari persoalan itu, buat saya Manglayang sudah lebih dari cukup untuk menikmati alam dan melatih fisik. Tapi mungkin bagi Joni, gunung ini terlalu mudah untuk ditaklukkan, karena dia sudah beberapa kali menaklukkan gunung-gunung tinggi di Pulau Jawa : Slamet, Sundoro, Sumbing, dan tentu saja Semeru. Sementara Pak Haji, saya tidak tahu track recordnya.

Di dekat sebuah perkebunan palawija, terdapat sebuah sumur tua yang konon peninggalan Belanda, kami mengambil gambar di sana dengan latar belakang Manglayang yang terlihat semakin dekat. Sepatu penuh dengan tanah basah, dan pakaian mulai terasa dingin. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya dipenuhi oleh pohon jagung. Awan masih terlihat pucat dan angin sesekali menerpa dengan kencang. Di sebuah rumpun bambu, ketika jalan setapak mulai bercabang, Joni yang bertindak sebagai navigator mulai kebingungan, karena dia lupa lagi jalan mana yang harus ditempuh. Saya dan Pak Haji diam saja karena memang baru kali ini pergi ke Manglayang. Akhirnya setelah mengumpulkan segenap ingatan, perjalan pun dilanjutkan.

Di sebuah warung kecil yang sudah tutup, yang juga dijadikan sebagai pos terakhir sebelum perjalanan yang semakin berat, kami istirahat. Kami melaksanakan sholat maghrib dan isya di pos itu, juga makan roti tawar yang dilumuri saus cabai. Tidak lupa mengisi botol air mineral yang sudah kosong dengan air dingin yang mengalir di sungai. Kira-kira pukul 19.30 kami mulai melanjutkan perjalanan, di depan sudah menunggu jalan menanjak dengan kemiringan kira-kira 70 derajat.

Dalam gelap yang menyelimuti dan jalanan yang licin serta penerangan seadanya, saya beberapa kali tergelincir. Pak Haji berjalan di depan bagai komandan pasukan, saya di tengah dan Joni di belakang. Kalau Pak Haji jaraknya sudah dua meter di atas saya, dia kemudian berbalik dan memberikan penerangan ke bawah dengan senter yang menyala dari korek gas. Hujan mulai turun lagi, dan jalan yang dilalui semakin licin. Nafas saya mulai kembang-kempis, lalu beberapa kali istirahat dengan duduk di akar-akar pohon yang menonjol ke luar. Pemandangan di bawah semakin jauh dan kabur, apalagi kacamata minus saya mulai berembun oleh hawa dingin dan keringat yang mulai membanjir. Joni sandal gunungnya putus, beberapa dia perbaiki dengan peniti, tapi setiap kali diperbaiki dan naik sejauh tiga meter, sandal itu putus lagi, akhirnya dia buang. Pak Haji masih bersemangat sebagai leader di depan, dan rupanya dia ingin cepat sampai di puncak. Di kiri kanan kadang-kadang ditemui jurang yang dalam dan gelap bagai tempat untuk membuang pesakitan. Dan kami terus berjalan terseok-seok.

Sepatu saya mulai berat karena menyerap air hujan dan lumpur. Saya dan Pak Haji cenderung berjalan lebih cepat, sementara Joni berjalan gontai di bawah. Rupanya dia sudah mengetahui strategi, bahwa berjalan cepat hanya akan menguras tenaga dan membuat kaki terasa cepat pegal. Pak Haji yang jaraknya kira-kira tiga meter di atas saya berteriak : “Kang, masih jauh gak?”. Dari bawah Joni membalas : “sebentar lagi, nanti kalau ada pohon besar yang sudah tumbang, kita istirahat dulu di sana!”. Sekeliling semakin gelap karena kami memasuki hutan yang semakin rimbun. Bulan yang tadi sempat muncul sepotong sudah tidak terlihat lagi karena disaput awan. Suara hanya angin yang menyapa dedaunan, dan suara nafas kami yang berhembus tidak teratur, suasana terasa syahdu. Setiap kali saya duduk di akar-akar pohon yang keluar, saya bernyanyi perlahan, mengulang-ngulang lagu The Cranberries : Like Dying in The Sun.

Gunung Manglayang yang ketinggiannya kurang lebih 1.800 mdpl ternyata cukup berat juga didaki oleh saya yang amatiran, yang memang bukan seorang pendaki gunung. Puncak itu terasa sangat jauh dan seakan tidak pernah sampai. Senter korek gas yang dipegang Pak Haji mulai redup dan akhirnya mati, praktis penerangan hanya mengandalkan satu senter yang dipegang Joni. Kira-kira pukul 21.30 Pak Haji berteriak lagi : “Kang, pohon tumbangnya sudah ada”. Dengan cepat Joni membalas : “Oke Pak Haji, kita istirahat dulu”. Selama istirahat perut dijejali oleh roti tawar yang dilumuri saus cabai. Hanya Pak Haji yang tak makan saus cabai, dia tidak suka, katanya bau bawang putih. Tapi saya yakin Pak Haji bukan seorang vampire Cina yang sering berjalan meloncat-loncat.

Persediaan air mulai menipis, dan kami harus berhemat. Kami bertiga duduk di atas pohon tumbang di tengah hutan yang gelap, dingin, dan sunyi. Tiba-tiba saya mencium wangi kembang melati, saya diam saja tidak mengatakannya kepada Pak Haji dan Joni. Tapi ternyata mereka juga menciumnya. Mereka saling lirik dan kemudian melirik saya sambil mengendus-ngendus wangi kembang melati yang semakin tajam menghantam hidung. Kurang lebih 20 meter dari tempat kami duduk, terdengar bunyi pohon tumbang, lalu seperti ada orang yang menghantam batang pohon dengan golok, lalu terdengar lagi bunyi pohon tumbang, saya sempat bertanya-tanya dalam hati : “mungkinkah para pembalak liar yang sedang melakukan illegal loging?”. Tapi kemudian suara itu hilang tak terdengar, dan wangi kembang melati pun tidak tercium lagi. Kami lalu berkemas dan melanjutkan perjalanan yang hanya beberapa meter lagi.

Akhirnya sampai juga di puncak. Jatinangor dan sekitarnya seperti ribuan lilin yang menghangatkan gelap. Kenapa ketika kita berada di ketinggian, pemandangan di bawah sering terlihat indah?. Kami bertiga rupanya tidak ingin menjadi melankolik oleh hamparan bola api yang menyala terang di kejauhan, maka kami segera mendirikan tenda dan memasak air untuk apalagi kalau bukan menyeduh kopi dan mie instan. Cigarette segera dibakar dan malam itu dibangun oleh obrolan beragam tentang hal yang bermacam-macam.

Selain tidak makan saus cabai, Pak Haji juga bukan seorang perokok, maka dia hanya melihat kepulan asap yang berhamburan dari cerobong saya dan Joni. Di puncak udaranya tidak terlalu dingin, kecuali ketika pagi mulai menjemput malam, ketika kami sibuk membidikkan kamera ke arah matahari yang merangkak pelan dari timur. Langit perlahan mulai jingga dan puncak-puncak gunung mulai terlihat jelas di kejauhan. Inilah waktu yang tepat untuk mengingat kembali lirik lagu yang ditulis Eross :

“Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya

di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih

kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

aku orang malam yang membicarakan terang

aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang. “

Pemandangan pagi hari di puncak Manglayang adalah satu hal yang membuat saya ingin kembali ke sana. Seorang sangat kecil berdiri di ketinggian, disaksikan alam yang maha luas, lalu apa yang tersisa? : perasaan tanpa definisi yang begitu biru. Lupakan para pendaki gunung yang jam terbangnya tinggi, karena yang kita lihat sama saja : langit yang menggenggam. Pak Haji sudah mulai memasak air, lalu menu standar : kopi dan mie rebus. Semakin siang pemandangan semakin kabur, kabut yang berarak mulai menutupi objek pandang. Kami lalu berkemas, dan beranjak menuju puncak dua Manglayang.

Perjalanan ke sana tidak terlalu berat, sebab jalannya banyak yang datar dan diselimuti hutan yang cukup rapat. Kabut pun hadir si sepanjang perjalanan, menyapa daun-daun hijau yang segar, dan sesekali suara burung mulai terdengar, pagi yang manis. Kurang lebih 45 menit kami sudah sampai di puncak dua Manglayang. Di sini areanya cukup luas dan dipenuhi pohon-pohon yang rimbun. Ada juga tumpukan batu yang sengaja disusun, konon ini adalah kuburan yang dikeramatkan oleh penduduk yang berada di sekitar Manglayang. Di arah barat terdapat hutan larangan, hutan yang tidak boleh dimasuki oleh para pendaki. Kami istirahat cukup lama, dan tidak lupa mengambil gambar. Bahan makanan mulai menipis, hanya tinggal beberapa lembar roti tawar dan satu botol air mineral. Pak Haji masuk angin, langsung dihajar dengan jamu tolak angin. Joni masih sibuk dengan kameranya, sementara saya membakar cigarette. Perjalanan selanjutnya menurun, dan terus menurun.

Kami menuju ke arah Batu Kuda. Jalan setapak banyak dihalangi batu-batu besar dan tebing yang curam. Air belum mau menghilang, sehingga jalan masih licin. Kami berjalan ekstra hati-hati dan sesekali digoda oleh pemandangan yang mirip photo-photo di kalender. Setelah melewati tebing terbuka, kami masuk lagi ke hutan yang lumayan gelap dan tingkat kemiringannya hampir 75 derajat. Kaki saya mulai bermasalah, sehingga harus sering berhenti. Beginilah jadinya kalau jarang olahraga, jalan-jalan sedikit langsung pegal dan terasa sakit. Di sebuah turunan yang curam, kami bertemu dengan warga sekitar yang akan berburu burung. Mereka membawa anjing peliharaan dan lihatlah anjing itu mulai menyalak dan menggonggong, padahal tuannya sedang akrab berbincang dengan orang yang dicurigainya itu. Sepuluh menit berlalu, dan mereka terus ke atas, sementara kami terus ke bawah. Bongkahan-bongkahan batu besar sering ditemui, dan sisa vandalisme tampak jelas. Kepikiran juga oleh tangan-tangan jahil itu, bahwa kalau jalan-jalan ke alam terbuka harus menyempatkan membawa pilok. Dengan gaya alakadarnya, sempat juga mengambil gambar di dekat batu-batu besar itu. Sepatu saya mulai lagi dimasuki lumpur, lalu kaos kakinya saya buang. Pak Haji belum kehilangan apa-apa, kecuali sudah satu hari tidak bisa sholat berjamaah di mesjid Al Falah, Sarijadi.

Di bawah, di Batu Kuda, Bung Erlan a.k.a Capluk sudah menunggu. Beliau ini adalah satu satu pendaki gunung handal, tapi karena dililit oleh kesibukan kerja di pabrik cigarette, maka dia hanya bisa jalan-jalan sampai Batu Kuda. Ketika hutan yang kami lalui sudah tidak terlalu gelap dan mulai menemui padang ilalang, maka Joni mulai berteriak : “Pluuk…Capluuuuk”, demikian berulang-ulang. Memasuki hutan pinus saya banyak menemukan ulat bulu, dia berjalan santai menghadang perjalanan di atas tanah licin. Dari awal saya dan Joni sudah memutuskan untuk bermalam di Batu Kuda, tapi Pak Haji kurang setuju, dia ingin langsung pulang, mungkin ingin cepat-cepat bertemu dengan air dan lekas mandi, tapi di mana-mana dua itu lebih banyak daripada satu. Maka Pak Haji kalah, maka kami bermalam di Batu Kuda.

Setelah tenda berdiri di bawah gerombolan pohon pinus yang menjulang, tiba-tiba hujan turun. Tenda langsung ditutup rapat dan dengan nikmat menyeruput kopi. Tapi hujan semakin deras dan tenda mulai kebanjiran, kami lalu pindah ke sebuah pondok tua yang berfungsi sebagai pos penjagaan pegawai Perum Perhutani. Pegawai itu sudah tua, sudah puluhan tahun bekerja, tapi belum pensiun, dan Capluk memanggilnya Apih. Orangnya ramah dan enak diajak bicara, dia juga menyediakan kayu untuk dibakar sebagai pengusir dingin. Di bale-bale kami mulai menyusun tempat tidur buat nanti malam, sementara sholat dilakukan di musholla sebelah pondok tua itu.

Setelah sholat isya tunai, gelap semakin menguasai. Menu masih dikuasai mie instan featuring nasi dan ikan asin. Nikmat betul santap malam itu, tapi sayang mau nambah tidak bisa : habis tandas. Pak Haji kembali menjadi penonton setia tiga cerobong yang berlomba mengepulkan asap, dan pembicaraan mulai bergulir. Setengah bergumam saya bernyanyi :

“They made up their minds

and they started packing

they left before the sun

came up that day

an exit to eternal summer slacking

but where were they going

without knowing the way”.

Kaki mulai terasa sakit dan pegal sekali, sementara hawa dingin mulai mendesak, saya ambil posisi tidur dan pikiran mulai melayang-layang ke Bandara Cengkareng : tentang kerja shift, tentang calo-calo tiket, tentang ajudan-ajudan yang lebih galak daripada Jenderal, tentang meeting malam hari, tentang banjir yang melumpuhkan buku-buku, tentang TKI-TKI yang diperas oleh bangsanya sendiri, tentang uang yang menjadi panglima dalam birokrasi pengelola bandara, dan tentang para pramugari yang berwajah ganda. Saya telah memilih jalan ini, saya tinggalkan bandara dengan segala kesumpekannya, saya tidak ingin berdamai dengan kegelisahan.

Capluk sibuk dengan ringtone hpnya yang lucu-lucu, lalu tawa pun pecah, malam yang sunyi menyerah. Semakin malam pembicaraan semakin ramai, apalagi karena Capluk mengeluarkan semacam recorder yang dioperasikan dari MP4nya. Maka kami pun membuat acara : on air di radio. Saya dan Joni berbicara seolah-olah sedang siaran di sebuah station radio, diselipkan juga iklan, music, jokes, dan wawancara. tema on air malam itu adalah “Burayot Cinta” (wkwkwk….aduh sia ceng goreng pisan milih judul teh), dengan dipadu padan oleh filosofi yang dipaksakan. Dan kami memberi nama radio virtual itu : GARDU FM. Kadang-kadang Capluk bertindak sebagai semacam office boy yang bertugas menyiapkan kopi untuk dua orang penyiar radio, tentu dengan kata-kata yang menyela pembicaraan : “Kang, kopina tos siap, mangga di leueut”. Kami banyak sekali berbicara dan tertawa ketika “on air”. Benar-benar radio yang merakyat dengan iklan-iklan yang menarik hati. Ketika “siaran”, kami mengalami dan akhirnya mengetahui, bahwa banyak berbicara ternyata menyenangkan, pantas saja banyak sekali pembicara “handal”, semantara pendengar yang baik sangat jarang. Malam semakin larut dan kami pun tertidur.

Pagi-pagi sekali Capluk sudah bersiap untuk pulang, mengejar kerja katanya. Seorang karyawan memang harus patuh kepada jadwal, karena tanggungjawab sudah tercetak ketika menandatangani kontrak. Capluk pamit, lalu menghilang dibelokan pertama. Kami bertiga menyiapkan sarapan, membereskan tenda, dan membenahi sisa-sisa tenaga. Satu jam kemudian kami meninggalkan Batu Kuda.

Sekarang perjalanan menjadi sangat membosankan. Melalui jalan desa yang kering dan berdebu. Kaki saya semakin parah, beberapa kali istirahat dan diurut sama Pak Haji. Kami terus berjalan menuju Cibiru. Sesekali bertemu anak-anak SD yang riang gembira menuju berkah bangku sekolah. Matahari semakin terik dan tempat yang dituju masih jauh. Saya dan Joni berjalan di depan, sementara Pak Haji membidikkan kamera di belakang, maka yang dia lihat adalah punggung. Objek tembak kamera itu semakin kecil, karena kami terus berjalan ke depan. Ya, kami terus berjalan. [ ]

itp, 28 Januari 2010

01 April 2012

Di Bawah Pohon Durian (Oleh: Farid Gaban)


Ibu Siti Maswiyah meninggal dunia dengan tenang. Dan dikuburkan dengan ceria. Usianya 60. Saya tidak pernah mengenalnya, bahkan tak pernah bertemu dengannya semasa hidup. Tapi, saya membayangkan dia wanita yang bahagia. Bahagia di dunia, bahagia pula di akhirat. Dia meninggal dengan cara yang membuat setiap orang Islam iri. Wallahu'alam.

Di Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, siang itu kami melihat jenazahnya ditanam di kebun belakang rumah tempat puluhan tahun, sejak zaman Jepang, dia membesarkan anak-cucunya. Saya tak melihat kepedihan terlalu mendalam di situ. Anak-anak kecil tanpa alas kaki-cucu-cucu yang ditinggalkannya-berseliweran sementara yang dewasa mengayunkan cangkul, memasukkan tanah ke dalam liang kubur, sambil mengisap rokok dan bercanda.

Tak ada karangan bunga. Tak ada prosesi panjang. Tak ada bunyi tangis sesenggukan. Tak ada wanita-wanita berkerudung hitam dengan kacamata ryben menutupi air mata menetes-netes. Tak ada upacara dengan sambutan-sambutan panjang. Tak ada tembakan salvo....

Tak ada semua hal itu, tata cara dan ornamen yang diciptakan terutama bagi mereka yang masih hidup. Simpel. Sederhana. Dan itulah cara khas orang Betawi menguburkan kerabatnya yang meninggal. Kematian - seperti juga hidup - bukanlah sesuatu yang teramat istimewa.

"Cukuplah kematian menjadi contoh bagi mereka yang hidup," kata ustadz yang memimpin doa di atas pusara. Kematian bukanlah sesuatu yang patut ditakuti dan ditangisi. Dia pasti akan datang."

Saya teringat sepotong bait dalam sajak Pastoral karya penyair Acep Zamzam Noor:

"Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernapasanmu
Maut bukanlah kata-kata
Tapi doa
Yang memancar bagai cahaya surga
Dan membakarmu tiba-tiba."

Dan kematian Ibu Maswiyah memang bukan kematian yang layak ditangisi. "Ibu meninggal tanpa sakit, malah dalam keadaan tidur," kata salah seorang anaknya, ketika berpidato ringkas di atas pusara.

Pagi hari itu Ibu Maswiyah masih sehat seperti biasa, berjamaah subuh bersama suami dan anak-anak. Sore hari, ketika datang shalat ashar, dia masih membangunkan suaminya untuk berjamaah. Lalu dia sendiri berangkat tidur. Tidur untuk selamanya. Tuhan telah memanggilnya ketika dia dibangunkan untuk shalat Maghrib.

Di kebun belakang rumah itu tubuh yang meninggal kini bersemayam. Di situ, di bawah udara sejuk Parung, setiap pagi embun akan jatuh ke pusara dari dedaunan pohon melinjo dan bulir-bulir buahnya. Pohon pisang seperti selalu ingin menghibur dengan menari-nari ketika angin bertiup. Pucuk-pucuk pohon kelapa yang menjulang setia menunjukkan pemandangan ke langit yang sebiru laut luas. Matahari siang setia menerobos sela-sela daun pohon durian dan rambutan, jatuh di atas pusara yang hangat. Persemayaman yang sempurna, yang membuat iri setiap orang Jakarta-tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran.

Tubuh yang mati kini menyatu dengan tanah dan rabuk persemaian pohon palem dan salak di sekelilingnya. Dia belum berhenti memberi kesuburan pada sekelilingnya, seperti ketika dia hidup.

Dari rahim wanita itu tumbuh sembilan anak. Entah berapa liter air susu dan berapa luas kesabaran harus dia berikan untuk membesarkan anak-anak yang belakangan memberinya 34 cucu serta tujuh orang buyut. Tidakkah wanita itu adalah pahlawan atau-meminjam kata-kata sastrawan Madura Zawawi Imron: "bidadari yang berselendang bianglala"

Dunia mungkin merindukan wanita seperti itu, ketika banyak wanita kini menginginkan hanya sedikit anak bukan karena keluarga berencana tapi karena takut hilang keindahan tubuhnya. Dunia juga merindukan orang seperti itu, sementara banyak orang kini ingin hidup serba mudah : ingin gula tapi emoh kalorinya, ingin keju tapi ogah lemaknya, ingin kaya tapi bukan kerja keras dan kesabarannya.

"Tak ada cahaya tanpa kegelapan," kata sastrawan Prancis, Henry Levy. "Jika ada, itu adalah ilusi manusia yang fatal." [fg]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai