17 March 2012

Para Penguasa Warung Kopi [3]

Sudah beberapa tahun ini cuaca tidak bisa lagi ditakar oleh ramalan BMG. Memprediksi cuaca sama susahnya dengan membongkar kasus Century dan mafia pajak. Pagi-pagi langit cerah, udara gilang gemilang, bulir-bulir embun menciut digoda sinar matahari yang datang pelan-pelan, kabut perlahan menghilang digantikan jarak pandang maksimal, alam terkembang menjadi semangat. Mbak-mbak pegawai kantoran bergegas ke tempat kerja dengan rambut setengah basah, mungkin habis keramas. Kalau mereka lewat di depan rumah, aromanya tercium seperti campuran puluhan permen, mungkin minyak wanginya sengaja dioplos. Kakak-kakak mahasiswi berangkat ke kampus dengan ceria, hanya beberapa orang saja yang terlihat layu, mungkin tugasnya belum selesai atau uang kiriman dari kampung belum datang. Mereka, para mahasiswi yang ceria itu, pasti merasa dirinya adalah tunas-tunas pilihan bangsa, hanya karena tugas dari dosen sudah selesai, uang saku masih cukup, tidak terdeteksi mempunyai penyakit kulit, dan punya pacar yang keren. Ibu-ibu rumah tangga berhamburan keluar dari rumah, suami dan anak-anak mereka sudah berangkat, mereka mengerumuni tukang sayur keliling sambil tebar gossip. Pagi selalu menjadi saksi, bagaimana aktivitas sosial banyak dimulai.


Tapi alam kemudian berubah terlalu cepat, matahari tiba-tiba disaput awan, mendung menggantung di langit, mengusir warna biru yang tadi sempat berkuasa. Suhu perlahan menjadi turun, angin berhembus kencang, dan serbuk hujan mulai berhamburan. Rasakan itu. Mbak-mbak pegawai kantor menyesali diri karena tak membawa payung, rambutnya yang hampir kering menjadi basah kembali. Kakak-kakak mahasiswi berebut masuk ke angkot, dan ibu-ibu mengakhiri pesta gosipnya. Hujan kadang-kadang bersikap seperti pencuri; mengendap-ngendap, beraksi, dan membuat kalang kabut. Sementara kemarau kini tabiatnya mulai menyerupai para politikus; sering ingkar janji dan tak pernah lama memegang pendirian. Tukang es kelapa, tukang gorengan, dan ojeg payung tahu benar pahit manisnya hidup akibat cuaca yang cepat berubah ini. Tapi buat saya, semenjak ada murid baru yang pindah dari Jakarta, semenjak ada Olva, cuaca seperti apapun tak pernah terasa pahit, semuanya manis melulu.


***


Saya tidak tahu, kenapa saya yang baru kelas dua SMP sudah dihinggapi perasaan suka kepada lawan jenis. Suara saya mulai agak berat, terdengar seperti suara bass tetapi bukan, belum pernah mimpi basah tapi mulai suka berlama-lama di depan cermin. Apakah ini yang disebut masa puber?, saya kurang yakin, tapi biarlah para psikolog yang bertugas untuk menjawab semuanya.


Sekarang saya hanya ingin mendengar bel istirahat berbunyi, dan segera menuju ke sana, ke tempat duduk Olva. Ini hari ke lima dia di sekolahnya yang baru. Teman perempuannya baru satu orang, teman sebangkunya yang hari ini tidak masuk karena sakit. Dan saya siapanya dia?. Kemarin dan hari sebelum kemarin, waktu pulang sekolah, saya satu mobil dengannya, satu angkot jurusan Station Hall - Sarijadi. Dia diam saja, maklum anak baru, belum berani menyapa penghuni lama. Matanya melihat buku yang berada di tangan, dan mata saya melihat wajahnya yang berada di depan, kami memang berhadap-hadapan. Masa sih tidak kenal?, kan saya teman sekelasnya.


“Olva, turunnya di mana?,” pandangannya meninggalkan buku, dan tiba-tiba saya dihantam tatapannya. Sekarang baru jelas, dari jarak tidak kurang dari satu meter, ternyata matanya sangat bagus. Dia tersenyum malu, mungkin grogi disapa seorang laki-laki keren, “Eh, Ivan…kirain siapa, euh.., aku turun di Soerya Soemantri…” Oh, tetangga rupanya, lumayanlah tidak terlalu jauh dari Sarijadi. “Kalau kamu turun di mana Van?,” dia telah menutup bukunya, selintas saya lihat covernya; Robohnya Surau Kami – A.A. Navis. “Di Sarijadi, di ujung rute angkot.” Sebelum turun, dia berucap, “Aku duluan ya…”. Itu adalah percakapan super pendek pada hari sebelum kemarin, dan di hari kemarin percakapannya mulai agak panjang, dia sudah tidak lagi membaca buku, hanya memegangnya saja, matanya sudah sepenuhnya beralih kepada laki-laki from Sarijadi. Sama seperti hari sebelumnya, sebelum turun dari angkot, dia berucap lagi, “Aku duluan ya Van…” Dan langsung saya jawab, “Iya, hati-hati ya cantik…”, tentu kata “cantik” saya ucapkan dalam hati, saya belum berani untuk berkata seperti itu.


Dan bel istirahat benar-benar berbunyi, saya dekati mejanya, anak-anak telah berhambur ke luar kelas. Tinggal Olva, saya, dan Dian; anak perempuan berkerudung. Tahu saya datang, dia hanya tersenyum. Wajahnya cerah, terutama matanya. Kami ngobrol sebentar, tapi saya tak ingin demonstrative dengan mengajaknya makan bareng, maka saya panggil Dian untuk menemaninya makan. Dan mereka berlalu, meninggalkan saya yang masih tersenyum di dalam kelas yang kosong, entah kenapa. Para psikolog harus bertanggungjawab untuk menjelaskan semuanya.


***


Pohon mangga berdaun rimbun tumbuh di depan rumahnya. Beberapa ekor burung membuat sarang di tempat yang agak gelap itu, tapi sayang pohonnya jarang berbuah, hal ini membuat saya belum bisa meninggalkan kegiatan “memanen” mangga di rumahnya bu Nina. Walaupun kini sudah ada anjing penjaga, tapi semangat saya dan kawan-kawan tak pernah surut, apalagi si Ajat, pemimpin gerombolan pengacau yang nyali dan nakalnya nomor wahid. Selain pohon mangga, tumbuh juga pohon jambu batu, melinjo, jeruk limau, dan tanaman-tanaman apotek berdaya khasiat lumayan, untuk mengobati mereka yang berpenyakit tapi segan ke rumah sakit. Pagar halaman rumahnya pun terbuat dari tanaman tanaman obat macam baluntas dan ki beling. Ibunya rajin betul merawat tanaman-tanaman itu.


Kalau ada kurikulum paling bagus dalam dunia pendidikan di negeri ini, tak lain dan tak bukan itu pasti disematkan kepada tugas kerja kelompok. Tugas ini membuat saya bisa tahu dan berlama-lama di rumahnya Olva. Kami berenam, laki-laki dua, perempuan empat. Saya dan si Ajat dikelilingi empat perempuan, tapi dari yang empat itu, di mata saya, yang istimewa hanyalah Olva, entah bagi si Ajat. Dan sedap betul, ibunya selalu punya sirup dan kue-kue enak untuk dihidangkan di tengah kerja kelompok yang bagiku, sangat menyenangkan. Kami biasanya duduk berkeliling di teras depan, di atas sebuah karpet berwarna biru bermotif kembang kol. Kalau anak-anak konsentrasi pada tugas, saya malah konsentrasi pada Olva. Memperhatikan caranya mengemukakan pendapat, menggigit ujung pulpen, minum sirup, dan cara dia menahan gigitan kue karena ada sesuatu yang mau diungkapkan; menggemaskan.


Semenjak ada Olva, dan kalau dia tak berhalangan untuk hadir, maka saya tak pernah absen kalau ada tugas kerja kelompok. Acara panen buah dan lomba balap sepeda di belakang rumah bu Makie yang dinding temboknya sering kami kotori, kalau kebetulan waktunya sama dengan tugas kerja kelompok, maka acara-acara tersebut akan saya korbankan. Ini bukan soal rajin belajar atau haus ilmu pengetahuan, tapi tentang sisi lain yang lebih mendebarkan. Hal ini tentu saja menyulut semacam gegar sosial, apa pasal?. Sebenarnya saya paling malas mengerjakan tugas kelompok, apalagi jika tempatnya di rumah kawan yang jauh, yang mengharuskan naik angkot. Maka tak heran jika kemudian banyak komentar-komentar miring berdesingan di kuping saya.


Hujan deras, petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang, menunggu angkot lama, tapi saya tetap datang untuk mengerjakan tugas kelompok, maka Dian, kawan saya yang berkerudung akan berucap manis, “Kamu salah minum obat ya?”. Panas terik, matahari seperti sedang badai, debu beterbangan ditiup angin, jalanan dikuasai fatamorgana, dan kantuk bergelantungan di pelupuk mata, tapi saya tetap hadir di rumah Olva untuk mengerjakan tugas kelompok, maka ibunya Olva akan menambahan es batu yang cukup banyak pada sirup yang disuguhkan, kemudian Dwi, kawan perempuan saya yang masih satu kelompok akan berkicau, “Ini bukan mimpi kan?,” sambil mencubit tangannya sendiri, dan sorot matanya penuh heran melihat saya. Gerimis, langit pucat, badan sedikit meriang, tenggorokan tak enak, di bawah lindungan payung, saya tetap datang pada sebuah sore untuk mengerjakan tugas kelompok, maka Melda, kawan saya yang agak cerewet akan berkata, “Puji Tuhan, kamu rajin sekali!”, matanya berbinar bagai kagum kepada saya, tapi kekaguman yang aneh, kagum bercampur dengan tidak percaya. Sementara Olva, ini dia yang saya tunggu-tunggu, tangannya memegang kening saya sambil berucap, “Kamu seharusnya tak usah memaksakan diri sayang,” tentu di ujungnya dia tidak mengucapkan kata “sayang”, karena itu hanyalah harapan saya. Anjing herder milik bu Nina mati, pohon rambutan, mangga, jambu, dan belimbing siap panen, pasukan penjarah sudah bersiap dengan semangat tinggi, dan si Ajat berada pada kondisi terbaiknya sebagai seorang leader, tapi saya tak menghiraukan semuanya demi datang ke rumah Olva untuk mengerjakan tugas kelompok, maka si Ajat akan berdo’a, “Mudah-mudahan kamu cepat sembuh,” dan berlalu dengan muka disesaki kecewa.


Mereka, kawan-kawan saya yang berkomentar itu, semuanya tidak tahu, atau lebih tepatnya belum tahu, bahwa cinta, sesuatu yang nantinya juga akan datang menyerang perasaan mereka, adalah semacam motor penggerak, adalah semacam roh yang membuat orang malas menjadi rajin, yang membuat orang lemah menjadi kuat, yang membuat orang penakut menadi berani, yang membuat orang putus asa akan kembali menabur bibit harapan, adalah dia yang membuat saya menjadi begini, menjadi ketagihan akan tugas kelompok; sesuatu yang dulu pernah saya benci.


Orang rumah; bang Bisma, ibu, dan bapak, tak pernah banyak cakap dengan perubahan ini. Setiap kali pamit untuk pergi kerja kelompok, ibu hanya berkata, “hati-hati di jalan.” Sementara bapak hanya diam saja, karena sedang serius mendengarkan murotal Al Qur’an yang diputar dengan MP4, kupingnya tertutup suara yang memancar dari airphone, jadi saya pamit beliau tidak mendengar. Dan bang Bisma, kadang-kadang dia menyindir, “Pulangnya jangan lupa bawa rambutan ya…”. Walaupun selama ini tak pernah banyak cakap, tapi rupanya dia tahu bahwa saya sering mencuri buah-buahan di halaman rumahnya bu Nina. Ketika pergi ke rumah Olva, sebelum sampai di jalan raya untuk menunggu angkot, kadang-kadang saya bertemu dengan bang Joni atau dengan bang Erlan, “Mau kemana kau, sudah siang masih bawa-bawa tas?”, saya jawab dengan takjim, “Mau les bahasa Korea bang.” Mereka hanya tertawa sambil mengacak-ngacak rambut saya, “Ha.ha.ha..gaya siah!.”


***


Kalau saja beliau bukan guru, tentu sudah saya labrak. Pak wawan memang menyebalkan. Guru pelajaran bahasa Indonesia itu, kalau sedang mengajar, selalu saja berjalan ke arah meja Olva dan berlama-lama berdiri di sana, di sebelah Olva. Beliau selalu saja menyuruh Olva, ada saja tugasnya, kadang-kadang menyuruh membacakan puisi, kadang-kadang cerpen, kadang-kadang penggalan novel, sambil tangannya menepuk-nepuk bahu Olva, beliau berkata, yang dalam pendengaran saya terdengar genit, “Ayo Nak, bacakan dengan lantang, kabarkan pada teman-temanmu tentang indahnya sastra!.” Memang bukan Olva saja yang disuruh oleh beliau, anak-anak yang lain juga pernah kebagian tugas, termasuk saya, tapi yang paling sering adalah Olva, entah kenapa, dan ini buat saya terasa menyebalkan.


Usianya belum terlalu tua, juga tidak terlalu muda, ada sekira 40 tahunan, mungkin seangkatan dengan kang Agus Godeg alias Si Raja Goda. Jalannya tegap, suaranya agak berat, dan beberapa helai rambutnya berwarna agak putih mirip uban. Pak Wawan memanggil semua murid laki-laki dengan panggilan “Bung”, entah kenapa, tapi beliau sempat mengemukakan alasan yang menurut saya kurang masuk akal. “Sengaja bapak memanggil ‘Bung’ kepada semua murid laki-laki, biar jiwa kalian disesaki oleh semangat, biar kalian tidak loyo, melainkan penuh gairah belaka, penuh semangat pergerakan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Bapak tidak mau melihat kalian lembek dan tak berdaya!!.” Apa maksudnya coba?, bukankah setiap generasi punya sejarahnya masing-masing?, apakah anak-anak muda sekarang tidak bisa bergerak dan bersemangat seperti para pahlawan yang disebutkan oleh Pak wawan?, ah masa sih?, saya kurang yakin.


Tapi tunggu dulu, “Bung”, kata itu sepertinya sering saya dengar, tapi di mana?. Oh, saya ingat, kata itu sering dipakai oleh bang Bisma dan kawan-kawannya yang suka nongkrong di warung kopi. Apakah mereka juga mantan muridnya pak Wawan?, ah mana mungkin. Bang Joni dan bang Erlan jelas bukan orang Bandung, buktinya mereka sekarang menyewa kamar kost-kostan, lagi pula tampang mereka tidak mewakili orang Bandung kebanyakan, mereka pasti orang-orang daerah. Bang Bisma juga tidak mungkin, sebab dia beda almamater dengan saya. Jadi kenapa mereka bertiga berkelakuan macam pak Wawan, memanggil orang dengan kata “Bung”, apakah alasan mereka sama seperti yang pernah diungkapkan pak Wawan?, apakah mereka juga ingin meniru semangatnya Bung karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo?, ini juga harus saya selidiki, siapa tahu ada hubungannya dengan kegiatan mereka akhir-akhir ini yang cukup menarik perhatian anak-anak komplek.


Lupakan dulu hal itu. Kenyataannya, Olva memang selalu terlihat paling jago dan paling luas wawasannya kalau sudah berhubungan dengan bahasa dan sastra. Waktu pak Wawan memberi tugas untuk mencari dan membacakan sebuah puisi karangan para penyair terkenal, ternyata puisi yang dibacakan oleh anak-anak, semuanya adalah karya Chairil Anwar. Puisi dikuasai oleh; Aku, Krawang-Bekasi, Do’a, Diponegoro, dan Derai-derai Cemara.


Anak-anak yang pengetahuan puisinya sangat purba, dan kemungkinan besar waktu balitanya pernah cacingan, hanya tahu puisi Krawang-Bekasi. Anak-anak yang pengetahuan puisinya lumayan purba, belajar membacanya dari sobekan koran bekas bungkus gorengan, sudah mulai tahu, bahwa karya Chairil Anwar bukan hanya satu, melainkan lebih dari satu, maka mereka pun mengenal yang berjudulAku dan Diponegoro. Anak-anak yang mulai meninggalkan jaman kegelapan, kemungkinan besar orangtuanya seorang penjaga perpustakaan, sudah benar-benar tahu, bahwa ternyata Chairil Anwar pernah menulis puisi yang berjudul Do’a. Anak-anak yang sudah melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal kepada jaman kegelapan, sudah tersentuh akses internet, sudah sangat tahu, Chairil Anwar juga ternyata dengan sangat bagus pernah menulis puisi yang berjudul Derai-derai Cemara.


Dan saya, walaupun pengetahuan puisi saya tidak memalukan, tapi tetap memilih puisi Chairil Anwar. Bagi saya, dia tetap tak tergantikan, dia masih menjadi raja kata-kata, tapi saya sedikit berbeda, walaupun masih karya Chairil Anwar, tapi puisi yang saya bacakan tidak sama dengan kawan-kawan sekelas, saya memilih yang berjudul Nisan. Dari semenjak absen pertama, dinding kelas yang berwarna putih kusam, sudah terlihat bosan dengan suara anak-anak yang membacakan puisi yang itu-itu juga, hanya waktu saya maju saja dia terlihat tenang. Tapi dia, dinding kelas itu terlihat kaget waktu seorang anak perempuan dengan nama depan berawalan “O” maju ke depan kelas. Kecuali pak Wawan, tak seorang tahu dan pernah mendengar puisi yang dibacakannya, termasuk saya. Olva membacakan sebuah puisi karya Joko Pinurbo. Nama penyair ini sangat asing di telinga saya dan anak-anak. Tapi, oh, saya sangat suka dengan puisinya, juga dengan orang yang membacakan puisinya di depan kelas itu, perpanduan yang indah, lihat dan dengarlah, dan Olva memulainya:


Kepada Cium

Karya : Joko Pinurbo


Seperti anak rusa menemukan sarang air

di celah batu karang tersembunyi,

Seperti gelandangan kecil menenggak

sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

Malam ini aku mau minum dari bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi

yang masih hangat dan murni,

Seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri

pada luka lambung yang tak terobati.


Sementara anak-anak masih terdiam setelah Olva selesai membacakan puisi itu, pak Wawan langsung tepuk tangan seperti sebuah komando, maka kelas pun menjadi ramai oleh tepuk tangan, dan Olva hanya tersenyum sambil, pandangannya menunduk seperti malu.


Jauh sebelum pak Wawan memberi kami tugas untuk mencari, membaca, dan memberikan komentar pada sebuah cerpen, Olva sudah sering membawa buku kumpulan cerpen ke sekolah. Waktu kami bertemu di angkot, dia sedang membaca buku Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, lalu berturut-turut setelah itu dia membawa buku kumpulan cerpen karya Hamsad Rangkuti, Budi Darma, Joni Ariadinata, Helvy Tiana Rosa, Pramoedya Ananta Toer, Asma Nadia, dan kumpulan cerpen terbaik koran Kompas. Maka waktu tugas itu datang, anak-anak sekelas langsung sibuk mendekatinya, kecuali saya. Sudah saya bilang, walaupun Olva yang paling jago dan paling luas wawasan sastranya, tapi saya ini bukanlah seorang siswa yang memalukan, saya tidak ikut-ikutan meminjam buku Olva. Sehari sebelum tugas itu dikumpulkan, saya mendatangi kostan bang Joni dan meminjam buku karangan Leo Tolstoy; Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. [ ]


itp, 23/2/2011


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…